OBAT-OBATAN KESEHATAN MENTAL
Perhatikan Baik-Baik: Anda harus mendiskusikan informasi apa pun di bagian ini dengan penyedia layanan kesehatan mental Anda.
Obat-obatan psikiatris memengaruhi cairan kimia otak yang mengatur berbagai emosi dan pola pikir. Mereka biasanya lebih efektif bila digunakan bersama-sama dengan psikoterapi. Dalam beberapa kasus, obat-obatan dapat mengurangi gejala sehingga beberapa metode rencana perawatan lainnya bisa lebih efektif. Misalnya, pengobatan dapat meredakan gejala depresi seperti kehilangan energi dan kurang konsentrasi, memungkinkan seseorang untuk lebih terlibat dalam terapi bicara.
Namun, meramalkan siapa yang akan memberikan respons terhadap obat apa, bisa menjadi hal yang sulit karena obat yang berbeda mungkin bekerja lebih baik untuk satu orang ketimbang orang lain. Para dokter biasanya meninjau catatan klinis untuk melihat apakah ada bukti untuk merekomendasikan satu obat dibandingkan yang lainnya. Mereka juga mempertimbangkan riwayat keluarga dan berbagai efek samping ketika meresepkan obat.
Bertahanlah sampai Anda menemukan obat (atau kombinasi obat) yang cocok untuk Anda. Beberapa obat psikiatris bekerja dengan cepat, dan Anda akan melihat perbaikan dalam beberapa hari, tetapi sebagian besar obat bekerja lebih lambat. Anda mungkin perlu minum obat selama beberapa minggu atau bulan sebelum Anda melihat perbaikan. Jika Anda merasa obat tidak bekerja sebagaimana mestinya, atau Anda mengalami beberapa efek samping, konsultasikan dengan penyedia perawatan Anda untuk mendiskusikan kemungkinan penyesuaian. Banyak orang tidak akan mengalami efek samping, atau efek sampingnya akan hilang dalam beberapa minggu. Tetapi jika efek samping masih terus berlanjut, mengganti obat atau dosisnya pada umumnya akan membantu.
Perawatan dengan obat biasanya terdiri dari pil atau kapsul, diminum setiap hari. Beberapa juga tersedia dalam bentuk cairan, suntikan, sejenis koyo atau tablet yang dapat larut. Orang yang mengalami kesulitan mengingat untuk minum obat setiap hari atau orang dengan riwayat berhenti minum obat mungkin mendapatkan hasil yang lebih baik dengan mengambil pengobatan secara suntikan sekali atau dua kali sebulan di tempat praktik dokter.
Penyedia layanan kesehatan Anda kemungkinan akan mulai dengan dosis rendah dan perlahan meningkatkan dosis untuk mencapai tingkat yang memperbaiki gejala. Mengikuti instruksi dokter Anda akan sedapat mungkin mengurangi efek samping dan rasa tidak nyaman. Pahami fungsi yang dapat dilakukan obat-obatan terhadap gejala-gejala utama.
Saat menghentikan pengobatan, bekerja samalah dengan dokter Anda untuk menguranginya dengan benar. Hal ini memungkinkan cairan kimia otak untuk menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut. Menghentikan pengobatan secara tiba-tiba dapat menyebabkan efek samping yang mengganggu.
Dalam beberapa kasus, pengobatan psikiatris mungkin merupakan bantuan jangka pendek yang hanya diperlukan selama beberapa bulan. Pada orang lain, pengobatan mungkin akan berlangsung lama, atau bahkan seumur hidup. Beberapa orang merasa takut untuk minum obat, karena beranggapan obat akan mengubah kepribadian mereka. Tetapi sebagian besar menemukan bahwa obat memungkinkan mereka mendapatkan kembali kendali atas hidup mereka.
JENIS OBAT-OBATAN
Jenis Obat-obatan
- Acamprosate (Campral)
- Alprazolam (Xanax)
- Amphetamine (Adderall)
- Aripiprazole (Abilify)
- Asenapine (Saphris)
- Atomoxetine (Strattera)
- Brexanolone (Zulresso)
- Brexpiprazole (Rexulti)
- Buprenorphine (Sublocade)
- Buprenorphine / Naloxone (Suboxone)
- Bupropion (Wellbutrin)
- Buspirone
- Carbamazepine (Tegretol)
- Cariprazine (Vraylar)
- Citalopram (Celexa)
- Clonazepam (Klonopin)
- Clonidine (Kapvay dan Catapres)
- Clozapine (Clozaril dan Versacloz)
- Desvenlafaxine (Pristiq)
- Deutetrabenazine (Austedo)
- Dexmedetomidine (IGALMI)
- Dextromethorphan dan Bupropion (Auvelity)
- Diazepam (Valium)
- Disulfiram
- Duloxetine (Cymbalta)
- Escitalopram (Lexapro)
- Esketamin (Spravato)
- Fluoxetine (Prozac)
- Fluphenazine
- Fluvoksamin (Luvox)
- Guanfacine (Intuniv)
- Haloperidol (Haldol)
- Hydroxyzine (Vistaril)
- Iloperidone (Fanapt)
- Lamotrigine (Lamictal)
- Levomilnacipran (Fetzima)
- Lithium
- Lofexidine (Lucemyra)
- Lorazepam (Ativan)
- Loxapine (Adasuve)
- Lumateperone (Caplyta)
- Lurasidone (Latuda)
- Methadone
- Methylphenidate atau Dexmethylphenidate (Concerta, Ritalin dan lain-lain)
- Mirtazapine (Remeron)
- Naloxone (Narcan)
- Naltrexone (Vivitrol)
- Olanzapine (Zyprexa)
- Olanzapine/Samidorphan (Lybalvi)
- Oxcarbazepine
- Paliperidone (Invega)
- Paroxetine (Paxil)
- Phenelzine (Nardil)
- Pimavanserin (Nuplazid)
- Quetiapine (Seroquel)
- Risperidone (Risperdal)
- Sertraline (Zoloft)
- Topiramate (Topamax)
- Tranylcypromine (Parnate)
- Valbenazine (Ingrezza)
- Valproate (Depakote)
- Venlafaxine (Effexor)
- Vilazodone (Viibryd)
- Viloxazine (Qelbree)
- Vortioxetine (Trintellix)
- Ziprasidone (Geodon)
Diterjemahkan dari:
Nama situs: www.nami.org
URL: https https://www.nami.org/About-Mental-Illness/Treatments/Mental-Health-Medications
Judul asli artikel: Treatments / Mental Health Medications
Penterjemah: Lily Efferin
Psikoterapi
PSIKOTERAPI
Psikoterapi, juga dikenal sebagai “terapi bicara,” adalah ketika seseorang berbicara dengan terapis terlatih di lingkungan yang aman dan rahasia untuk membahas dan memahami perasaan dan perilaku serta mempelajari berbagai ketrampilan untuk menghadapi dan mengatasi masalah (coping skills).
Selama sesi terapi bicara perorangan, percakapan akan dipandu oleh terapis dan membahas berbagai topik dari masalah pada masa lalu atau saat ini, pengalaman, pemikiran, perasaan atau hubungan yang dialami oleh orang tersebut sementara terapis membantu merangkaikan sehingga bermakna dan memberikan wawasan.
Berbagai kajian ilmiah telah menunjukkan bahwa psikoterapi perorangan ternyata efektif dalam memperbaiki gejala dalam beragam gangguan mental, membuatnya menjadi pengobatan yang populer dan serbaguna. Ini juga bisa digunakan untuk keluarga, pasangan atau kelompok. Praktik terbaik untuk mengobati banyak ragam kondisi kesehatan mental mencakup perpaduan pengobatan dan terapi.
Berbagai Jenis Psikoterapi yang Populer
Terapis menawarkan berbagai jenis psikoterapi. Sebagian orang meresponi satu jenis terapi lebih baik daripada yang lain. Karena itu seorang psikoterapis akan mempertimbangkan hal-hal seperti sifat masalah yang ditangani dan kepribadian orang yang diterapi pada saat menentukan perawatan mana yang paling efektif.
Terapi Perilaku dan Kognitif (CBT) berfokus pada pembahasan hubungan antara pikiran, perasaan, dan perilaku seseorang. Selama CBT, seorang terapis akan secara aktif bekerja dengan orang yang diterapinya untuk mengungkapkan pola pikir yang tidak sehat dan bagaimana hal itu dapat menyebabkan perilaku dan keyakinan yang merusak dirinya (si penderita).
Dengan menangani berbagai pola tersebut, orang yang diterapi dan terapis dapat bekerja sama untuk mengembangkan cara berpikir konstruktif yang akan menghasilkan perilaku dan keyakinan yang lebih sehat. Misalnya, CBT dapat membantu seseorang mengganti pemikiran yang mengarah pada harga diri yang rendah (“Saya tidak dapat melakukan apa pun dengan benar”) dengan harapan yang positif (“Berdasarkan pengalaman saya sebelumnya, saya kebanyakan bisa melakukan hal ini”).
Prinsip utama dari CBT adalah mengenali berbagai keyakinan negatif atau salah, kemudian menguji atau merestrukturisasinya. Seringkali seseorang yang dirawat dengan CBT perlu menyelesaikan PR-nya (pekerjaan rumah) di sela-sela sesi, di mana mereka berlatih mengganti pikiran negatif dengan pikiran yang lebih realistis berdasarkan pengalaman sebelumnya atau mencatat pikiran negatif mereka dalam sebuah jurnal.
Kajian ilmiah tentang CBT telah menunjukkan hal ini sebagai pengobatan yang efektif untuk berbagai macam penyakit mental, termasuk Depresi, Gangguan Kecemasan, Gangguan Bipolar, Gangguan Makan, dan Skizofrenia. Individu yang menjalani CBT menunjukkan perubahan aktivitas otak, menunjukkan bahwa terapi ini berhasil meningkatkan fungsi otak juga.
Terapi Perilaku Kognitif memiliki sejumlah besar data ilmiah yang mendukung penerapannya dan banyak profesional perawatan kesehatan mental telah terlatih dalam CBT, menjadikannya efektif dan mudah dijangkau. Namun, masih tetap dibutuhkan lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat.
Terapi Perilaku Dialektis (DBT) pada awalnya dikembangkan untuk mengobati individu yang memiliki keinginan bunuh diri secara terus menerus disertai Gangguan Kepribadian Ambang (Borderline Personality Disorder – BPD). Seiring waktu, DBT telah diadaptasi untuk mengobati orang yang memiliki dua atau lebih gangguan kesehatan mental yang berbeda, tetapi kebanyakan orang yang dirawat dengan DBT memiliki BPD sebagai diagnosa yang utama.
DBT terutama berlandaskan pada CBT dengan satu pengecualian besar: DBT mengakui, atau menerima pikiran, perasaan, dan perilaku yang mengganggu alih-alih berjuang keras untuk menolaknya. Dengan membuat seseorang menerima pikiran, emosi, atau perilaku bermasalah yang mengganggu mereka, perubahan tidak lagi tampak mustahil dan mereka dapat bekerja dengan terapis mereka untuk membuat rencana pemulihan secara bertahap.
Peran terapis dalam DBT adalah membantu orang tersebut menemukan keseimbangan antara penerimaan dan perubahan. Mereka juga membantu orang tersebut mengembangkan keterampilan baru, seperti metode mengatasi masalah dan berlatih memperhatikan, menyadari, dan menerima kenyataan yang ada (mindfulness), sehingga orang tersebut memiliki kekuatan untuk memperbaiki pikiran dan perilakunya yang tidak sehat. Mirip dengan CBT, individu yang menjalani DBT biasanya diminta untuk mempraktikkan metode berpikir dan berperilaku baru ini sebagai PR (pekerjaan rumah) di antara sesi. Meningkatkan strategi untuk mengatasi masalah merupakan aspek penting dari keberhasilan pengobatan DBT.
Penelitian telah menunjukkan DBT efektif dalam menghasilkan peningkatan yang signifikan dan bertahan lama bagi orang yang mengalami gangguan kesehatan mental. Ini membantu mengurangi frekuensi dan keparahan perilaku berbahaya, menggunakan penguatan positif untuk memotivasi perubahan, menekankan kekuatan individu dan membantu mewujudkan hal-hal yang dipelajari dalam terapi ke dalam kehidupan sehari-hari orang tersebut.
Terapi desensitisasi gerakan mata dan penataan ulang (EMDR) digunakan untuk mengobati PTSD. Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa hal itu dapat mengurangi tekanan emosional akibat ingatan – ingatan yang traumatis.
EMDR menggantikan reaksi emosional negatif terhadap ingatan yang traumatik atau sulit dilupakan dengan reaksi atau keyakinan yang nyaman dan tidak membebani atau positif. Melakukan serangkaian gerakan bola mata bolak-balik secara berulang-ulang selama 20-30 detik dapat membantu individu mengubah reaksi emosional ini.
Terapis menyebut protokol ini sebagai “stimulasi ganda”. Selama terapi, orang yang sakit merangsang otaknya dengan gerakan bolak-balik bola matanya (atau menggunakan urutan ketukan atau nada musik tertentu). Secara bersamaan, orang tersebut merangsang ingatannya dengan mengingat peristiwa traumatis. Ada kontroversi tentang EMDR—dan apakah manfaatnya berasal dari paparan yang melekat dalam pengobatan atau dari gerakan sebagai aspek penting dari pengobatan.
Terapi Eksposur / Paparan adalah jenis terapi perilaku kognitif yang paling sering digunakan untuk mengobati gangguan obsesif-kompulsif/OCD), gangguan stres paska trauma (PTSD), dan fobia. Dalam Terapi Eksposur, individu secara bertahap dan terkontrol diperkenalkan ke situasi atau objek yang menjadi sumber kecemasan mereka, dengan tujuan untuk mengurangi ketakutan dan kecemasan secara bertahap melalui paparan yang berulang.
Selama perawatan, terapis memandu penderita untuk mengenali pemicu kecemasan mereka dan menolong mereka mempelajari teknik untuk tidak melakukan ritual atau menjadi cemas saat terpapar pada pemicu kecemasan tersebut. Orang tersebut kemudian menghadapi apa pun yang memicu mereka dalam lingkungan yang terkendali di mana mereka dapat berlatih menerapkan strategi ini dengan aman.
Ada dua metode Terapi Paparan. Yang satu menghadirkan stimulus pemicu dalam jumlah besar sekaligus (“membanjiri”) dan yang lainnya menghadirkan sejumlah kecil stimulus terlebih dahulu dan meningkat seiring waktu (“desensitisasi”). Keduanya membantu orang tersebut belajar bagaimana mengatasi apa yang memicu kecemasan mereka sehingga mereka dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Terapi interpersonal berfokus pada hubungan yang dimiliki seseorang (penyandang Gangguan Kesehatan Mental) dengan orang lain, dengan tujuan meningkatkan keterampilan interpersonal orang tersebut. Dalam bentuk psikoterapi ini, terapis membantu orang mengevaluasi interaksi sosial mereka dan mengenali pola negatif, seperti isolasi sosial atau agresi, dan pada akhirnya membantu mereka mempelajari strategi untuk memahami dan berinteraksi secara positif dengan orang lain.
Terapi Interpersonal biasanya digunakan untuk mengobati gangguan-gangguan kejiwaan seperti Depresi, Gangguan Kecemasan, Gangguan Makan, dan gangguan kesehatam mental lainnya. Terapi ini membantu individu untuk mengembangkan keterampilan komunikasi yang sehat, memperbaiki hubungan interpersonal, dan meningkatkan dukungan sosial.
Terapi berbasis mentalisasi (MBT), menurut uji klinis secara acak, dapat membawa perbaikan jangka panjang bagi penderita BPD. Terapi Berbasis Mentalisasi biasanya digunakan dalam pengobatan gangguan kepribadian, terutama Gangguan Kepribadian Ambang (BPD), tetapi juga dapat bermanfaat untuk berbagai gangguan seperti gangguan makan, gangguan hubungan interpersonal, dan gangguan kejiwaan lainnya. Terapi ini melibatkan eksplorasi reflektif dan dialog kolaboratif antara terapis dan klien, di mana klien didorong untuk mempertimbangkan dan memahami lebih baik pikiran, perasaan, dan motivasi mereka sendiri serta orang lain.
Mentalisasi mengacu pada proses intuitif yang membuat kita sadar diri. Ketika orang menyadari dan memahami perasaan dan pikiran batin mereka sendiri, itulah mentalisasi. Orang juga menggunakan mentalisasi untuk memahami perilaku orang lain dan untuk berspekulasi tentang perasaan dan pikiran mereka. Mentalisasi dengan demikian memainkan peran penting dalam membantu kita berhubungan dengan orang lain.
BPD sering menimbulkan perasaan yang digambarkan sebagai “kekosongan” atau “citra diri yang labil”. Hubungan dengan orang lain juga cenderung tidak stabil. MBT mengatasi kekosongan atau ketidakstabilan ini dengan mengajarkan keterampilan mentalisasi. Teori di balik MBT adalah bahwa orang dengan BPD memiliki kemampuan yang lemah untuk memikirkan tentang diri mereka sendiri, yang menyebabkan perasaan diri yang lemah, terlalu lekat dengan orang lain, dan kesulitan berempati dengan kehidupan batin orang lain.
Dalam MBT, seorang terapis mendorong klien dengan BPD untuk berlatih mentalisasi, khususnya tentang hubungan saat ini dengan terapis. Karena orang-orang dengan BPD dapat dengan cepat melekat erat dengan terapis, MBT mempertimbangkan hubungan yang erat ini. Dengan menyadari perasaan akrab dalam konteks terapeutik yang aman, seseorang dengan BPD dapat meningkatkan kemampuan mentalisasi dan belajar meningkatkan empati.
Jadi tujuan dari Terapi Berbasis Mentalisasi adalah untuk membantu individu mengembangkan kemampuan mentalisasi yang lebih baik, sehingga mereka dapat berinteraksi dengan orang lain dengan cara yang lebih sesuai, memperbaiki cara menyelesaikan masalah, dan mengurangi perilaku yang destruktif atau impulsif. Terapi ini dapat membantu individu membangun fondasi yang lebih stabil untuk kehidupan sosial dan emosional yang lebih sehat.
Dibandingkan dengan bentuk psikoterapi lain seperti CBT, MBT kurang terstruktur dan biasanya bersifat jangka panjang. Teknik ini dapat dilakukan oleh praktisi kesehatan mental umum (non-spesialis) yang diatur secara individual dan juga dalam kelompok.
Tujuan terapi psikodinamik adalah mengenali pola perilaku dan perasaan negatif yang berakar pada pengalaman masa lalu dan menyelesaikannya. Jenis terapi ini seringkali menggunakan pertanyaan terbuka dan orang meresponsnya secara bebas (free association) sehingga ia berkesempatan untuk membahas apa pun yang ada di pikirannya. Terapis kemudian bekerja dengan orang tersebut untuk menyaring berbagai pikirannya dan mengenali pola perilaku ataupun perasaan negatif yang tidak disadari dan bagaimana hal itu disebabkan atau dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu dan perasaan yang belum terselesaikan. Dengan membawa berbagai responsnya tersebut untuk ia perhatikan dan sadari, ia dapat belajar untuk mengatasi berbagai perilaku dan perasaan yang tidak sesuai yang telah ia timbulkan.
Terapi psikodinamik sering berguna untuk mengobati depresi, Gangguan Kecemasan, Gangguan Kepribadian Ambang, dan gangguan mental lainnya.
Meluangkan waktu dengan hewan peliharaan dapat mengurangi berbagai gejala kecemasan, depresi, kelelahan, dan rasa sakit bagi banyak orang. Rumah sakit, panti jompo, dan fasilitas medis lainnya terkadang memanfaatkan dampak tersebut dengan menawarkan hewan terapi. Hewan peliharaan terapi yang terlatih, ditemani oleh pawangnya, dapat menawarkan terapi bantuan hewan yang direncanakan dengan baik atau sekadar mengunjungi orang tersebut untuk memberikan kenyamanan.
Anjing adalah hewan yang paling populer untuk bekerja sebagai hewan peliharaan terapi, meskipun hewan lain juga dapat berhasil jika mereka jinak dan dapat dilatih. Rumah sakit memanfaatkan hewan peliharaan terapi terutama untuk pasien kanker, penyakit jantung, dan kondisi kesehatan mental. Hanya hewan-hewan peliharaan bersertifikat yang dapat mengunjungi fasilitas medis, yang juga telah memenuhi standar pelatihan yang tinggi dan sehat serta divaksinasi.
Bagi orang dengan gangguan kesehatan mental, penelitian telah menunjukkan bahwa waktu bersama hewan peliharaan bisa mengurangi tingkat kecemasan lebih dari kegiatan rekreasi lainnya. Hewan peliharaan juga menghadirkan pola interaksi yang tidak menghakimi yang dapat memotivasi dan menyemangati orang, terutama anak-anak. Veteran dengan PTSD juga menganggap hewan peliharaan terapi sangat membantu.
Sesi dengan hewan peliharaan terapi dan pawangnya mungkin berfokus pada tujuan tertentu seperti mempelajari keterampilan melalui interaksi manusia-hewan. Sebagai alternatif, sekadar hanya meluangkan waktu memegang hewan peliharaan terapi dapat bermanfaat menurunkan tingkat kecemasan.
Meskipun masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan mengapa terapi hewan adalah efektif, sebuah teori menyatakan bahwa manusia memiliki kesadaran berkembang akan lingkungan alam di sekitarnya, termasuk hewan di sekitarnya. Melihat seekor binatang yang tenang meyakinkan kita bahwa lingkungannya aman, sehingga mengurangi kecemasan dan meningkatkan perasaan tenang kita sendiri.
Hewan terapi tidak sama dengan hewan penolong, yang menerima tingkat pelatihan yang lebih tinggi dan mempelajari tugas khusus untuk membantu satu orang dalam jangka panjang. Hewan pemandu dianggap sebagai hewan pekerja, bukan hewan peliharaan. Mereka telah menunjukkan tingkat keberhasilan yang menjanjikan dalam membantu orang dengan kondisi gangguan kesehatan mental, khususnya PTSD dan gangguan panik.
Diterjemahkan dari:
Nama situs: www.nami.org
URL: https https://www.nami.org/About-Mental-Illness/Treatments/Psychotherapy
Judul asli artikel: Treatments / Psychotherapy
Penterjemah: Lily Efferin
GANGGUAN KECEMASAN
GANGGUAN KECEMASAN
Setiap orang dapat mengalami kecemasan, tetapi ketika gejalanya sangat banyak dan konstan — sering memengaruhi kehidupan sehari-hari — itu mungkin merupakan Gangguan Kecemasan.
Gejala
Gangguan Kecemasan adalah sekelompok kondisi terkait, yang masing-masing memiliki gejala yang unik. Namun demikian, semua Gangguan Kecemasan memiliki satu kesamaan: ketakutan atau kekhawatiran yang terus-menerus dan berlebihan dalam situasi yang tidak memiliki bahaya maupun ancaman. Orang biasanya mengalami satu atau lebih dari gejala berikut:
Berbagai gejala emosional:
- Perasaan gelisah karena kekhawatiran atau ketakutan
- Merasa tegang atau gugup dan panik
- Resah, cemas atau mudah tersinggung / marah
- Membayangkan yang terburuk dan selalu waspada terhadap tanda-tanda bahaya
Berbagai gejala fisik:
- Jantung berdebar kencang atau denyut nadi cepat dan sesak napas
- Berkeringat, gemetaran dan kedutan pada kelopak mata
- Sakit kepala, kelelahan dan insomnia – sulit / tak bisa tidur nyenyak
- Perut mulas, sering buang air kecil atau diare
Jenis Gangguan Kecemasan
Ada banyak jenis Gangguan Kecemasan, masing-masing dengan gejala yang berbeda. Berbagai jenis Gangguan Kecemasan yang paling umum adalah:
Gangguan Kecemasan Umum (Generalized Anxiety Disorder – GAD)
GAD merupakan kekhawatiran kronis dan berlebihan tentang kehidupan sehari-hari. Kekhawatiran ini dapat memakan waktu berjam-jam setiap hari, membuat orang dengan GAD sulit untuk berkonsentrasi atau menyelesaikan tugas sehari-hari. Penderita GAD akan menjadi sangat lelah karena kekhawatiran dan menderita sakit kepala, ketegangan, atau mual.
Gangguan Kecemasan Sosial (Social Anciety Disorder)
Lebih dari sekadar perasaan malu, gangguan ini merupakan ketakutan yang sangat kuat terhadap interaksi sosial, seringkali didorong oleh kekhawatiran irasional tentang penghinaan (misalnya mengatakan sesuatu yang bodoh atau tidak tahu harus berkata apa). Seseorang dengan Gangguan Kecemasan Sosial tidak akan ikut serta dalam percakapan, atau berkontribusi dalam diskusi kelas atau memberikan gagasan mereka, dan akan menjadi terisolasi. Serangan rasa panik adalah reaksi umum terhadap sekadar bayangan atau pun tuntutan untuk berinteraksi sosial.
Gangguan Perasaan Panik (Panic Disorder)
Gangguan ini ditandai dengan serangan perasaan panik dan teror yang tiba-tiba, terkadang menyerang berulangkali dan tanpa peringatan. Sering disalahartikan sebagai serangan jantung, karena serangan panik menyebabkan gejala fisik yang kuat termasuk nyeri dada, jantung berdebar, pusing, sesak napas, dan perut mulas. Banyak orang akan dalam keputus-asaan dan melakukan tindakan ekstrim demi menghindari serangan perasaan panik yang berulang seperti itu, termasuk mengisolasi diri dari hubungan sosial.
Fobia
Kita semua cenderung menghindari berbagai hal atau situasi tertentu yang membuat kita merasa tidak nyaman atau bahkan takut. Tetapi bagi orang yang memiliki fobia, maka tempat, peristiwa, atau objek tertentu akan menciptakan reaksi kuat atas ketakutan yang besar dan tidak rasional. Kebanyakan orang dengan fobia spesifik memiliki beberapa hal yang dapat memicu reaksi tersebut. Untuk menghindari kepanikan, mereka akan berusaha keras untuk menghindari pemicunya. Bergantung pada jenis dan jumlah pemicunya, upaya untuk mengendalikan rasa takut dapat menguasai sepenuhnya hidup seseorang.
Gangguan Kecemasan lainnya termasuk:
- Agorafobia (ketakutan yang terus menerus terhadap situasi-situasi tertentu yang mungkin memicu serangan kepanikan – red.)
- Kebisuan atas hal tertentu
- Gangguan Kecemasan akan perpisahan
- Gangguan Kecemasan yang ditimbulkan oleh zat/obat, karena keracunan atau putus obat atau perawatan medis
Penyebab Gangguan
Para ilmuwan percaya bahwa ada gabungan banyak faktor yang dapat menyebabkan Gangguan Kecemasan:
- Faktor Genetika. Berbagai kajian ilmiah membuktikan bahwa Gangguan Kecemasan “menurun dalam keluarga,” karena beberapa keluarga memiliki jumlah Gangguan Kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata Gangguan Kecemasan di antara keluarga lainnya.
- Faktor Lingkungan. Peristiwa stres atau traumatis seperti pelecehan, kematian orang yang dicintai, tindak kekerasan, atau penyakit kronis sering dikaitkan dengan terjadinya Gangguan Kecemasan.
Diagnosa
Gejala fisik dari Gangguan Kecemasan dapat dengan mudah tercampur baur dengan kondisi medis lainnya, seperti penyakit jantung atau hipertiroid. Oleh karena itu, kemungkinan besar dokter akan melakukan evaluasi yang melibatkan pemeriksaan fisik, wawancara, dan tes laboratorium. Setelah menyingkirkan adanya (kemungkinan) penyebab penyakit fisik, barulah dokter dapat merujuk seseorang ke profesional kesehatan mental untuk dievaluasi.
Dengan menggunakan Panduan Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM), profesional kesehatan mental dapat mengidentifikasi jenis tertentu dari Gangguan Kecemasan yang menyebabkan berbagai gejala tersebut, serta kemungkinan adanya gangguan lain yang ikut terlibat. Mengatasi semua gangguan melalui pengobatan komprehensif (saksama dan menyeluruh – red) adalah strategi pemulihan terbaik.
Pengobatan
Gangguan Kecemasan yang berbeda memiliki rangkaian gejala yang berbeda. Artinya, setiap jenis Gangguan Kecemasan juga memiliki rencana perawatannya sendiri. Namun ada jenis pengobatan umum yang digunakan.
- Psikoterapi*, termasuk terapi pada cara berpikir, berperilaku, dan menghadapi serta mengatasi masalah secara efektif (Cognitive Behavior Therapy – CBT)
- Obat-obatan*, termasuk obat untuk mengatasi kecemasan dan depresi
- Pendekatan pelengkap untuk kesehatan*, termasuk tehnik mengatasi stres dan relaksasi
Berbagai Kondisi Terkait
Gangguan Kecemasan dapat muncul bersamaan dengan berbagai kondisi kesehatan mental lainnya, dan Gangguan Kecemasan dapat memperburuk kondisi terkait tersebut. Jadi, bicaralah dengan ahli perawatan kesehatan mental (dokter, psikiater) jika Anda mengalami kecemasan dan salah satu dari hal berikut ini:
- Depresi
- Penggunaan Zat atau obat-obatan secara berkelanjutan atau secara ilegal
- Kondisi kesulitan memberi perhatian, hiperaktif dan impulsif – Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
- Gangguan Makan
- Kesulitan Tidur
Ditinjau ulang tahun 2017
Diterjemahkan dari:
Nama situs: www.nami.org
URL: https https://www.nami.org/About-Mental-Illness/Mental-Health-Conditions/Anxiety-Disorders
Judul asli artikel: Anxiety Disorders
Penterjemah: Lily Efferin
PERAWATAN GANGGUAN KECEMASAN
Setelah jelas tidak ada kondisi fisik yang mendasari, atau efek samping pengobatan yang menyebabkan kecemasan Anda, berikutnya mengeksplorasi berbagai pilihan untuk perawatan kesehatan mental sangat penting.
Jenis pengobatan yang terbukti paling efektif bagi banyak orang yang mengalami Gangguan Kecemasan mencakup kombinasi antara psikoterapi dan pengobatan. Namun, preferensi Anda dalam rencana perawatan sangat penting, jadi diskusikan pendekatan dan opsi terbaik dengan tim perawatan Anda.
Ketika seseorang mengalami kecemasan, kondisi yang terjadi bersamaan, seperti depresi, biasa terjadi. Pastikan untuk bekerja sama dengan tim perawatan Anda untuk memastikan berbagai kondisi lain tersebut tidak diabaikan.
Psikoterapi
Terapi Perilaku Kognitif (CBT) adalah psikoterapi yang paling banyak diteliti untuk Gangguan Kecemasan. Secara umum, CBT berfokus untuk menemukan pola pikir kontraproduktif yang berkontribusi terhadap kecemasan. CBT menawarkan banyak strategi konstruktif untuk mengurangi keyakinan dan perilaku yang menyebabkan kecemasan.
CBT juga efektif saat diterapkan di luar cara-cara tradisional yang memerlukan pertemuan fisik tatap muka. Bekerja dengan terapis dengan menggunakan teknologi telehealth — seperti panggilan video atau telepon atau modul pembelajaran online yang mengajarkan konsep CBT — bisa sama efektifnya dengan terapi tatap muka tradisional. (https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0887618517304474?via%3Dihub)
CBT memiliki basis penelitian terbesar untuk mendukung keefektifannya, meskipun sulit untuk mengetahui terapis mana yang terlatih dalam CBT. Tidak ada satu pun program sertifikasi nasional untuk keterampilan ini. Tanyakan kepada terapis Anda bagaimana pendekatan mereka untuk mengobati kecemasan dan pelatihan mereka dalam pendekatan ini.
Exposure Response Prevention (ERP) adalah psikoterapi untuk Gangguan Kecemasan tertentu seperti fobia dan kecemasan sosial. Bertujuan membantu seseorang mengembangkan respons yang lebih konstruktif terhadap rasa takut. Sasarannya adalah agar klien “mengekspos” diri mereka pada apa yang mereka takuti, dalam upaya mengurangi kecemasan dari waktu ke waktu dan mengembangkan sarana untuk mengatasi kecemasan (coping) secara efektif.
Pengobatan
Ada orang-orang yang mengalami bahwa pengobatan sangat membantu dalam mengelola Gangguan Kecemasan. Bicarakan dengan penyedia layanan kesehatan Anda tentang potensi manfaat, risiko, dan efek sampingnya.
- Obat anti-kecemasan. Obat-obatan tertentu bekerja semata-mata untuk mengurangi gejala kecemasan emosional dan fisik. Benzodiazepine bisa efektif untuk pengurangan gejala jangka pendek, tetapi dapat menimbulkan risiko ketergantungan bila digunakan untuk waktu yang lama. Pastikan untuk meninjau potensi risiko ini jika Anda memilih obat-obatan ini. Klik di sini (Hal.9 kanan bawah di atas) untuk informasi lebih lanjut tentang obat-obatan ini.
- Anti-depresan. Banyak antidepresan juga berguna untuk mengobati kecemasan. Ini juga dapat berguna jika kecemasan Anda disertai dengan depresi. Pastikan untuk memeriksa halaman Pengobatan (sda h.9 kanan bawah) kami untuk informasi lebih lanjut.
Pendekatan Kesehatan Pelengkap
Semakin banyak orang mulai menggunakan pengobatan pelengkap dan alternatif bersamaan dengan pengobatan konvensional demi membantu pemulihan mereka. Beberapa pendekatan yang paling umum untuk mengobati kecemasan meliputi:
- Strategi manajemen diri, contohnya adalah mengizinkan dirinya untuk merasa khawatir selama suatu periode waktu tertentu. Seseorang yang telah sangat memahami kondisinya (kekuatiran tertentu) dan pemicunya lebih dapat mengendalikan situasi dan rutinitas hidupnya sehari-hari.
- Teknik Stres dan Relaksasi seringkali merupakan gabungan latihan pernapasan dan perhatian terfokus untuk menenangkan pikiran dan fisik. Teknik ini bisa menjadi komponen penting dalam mengobati fobia atau gangguan panik.
- Yoga. Kombinasi postur fisik, latihan pernapasan, dan meditasi yang ditemukan dalam yoga telah membantu banyak orang meningkatkan pengelolaan Gangguan Kecemasan mereka.
- Olahraga. Latihan aerobik dapat memiliki efek positif pada stres dan kecemasan Anda. Bicarakan dengan dokter umum yang merawat Anda sebelum memulai rencana latihan olahraga tertentu.
Ditinjau Desember 2017
Diterjemahkan dari:
Nama situs: www.nami.org
URL: https https://www.nami.org/About-Mental-Illness/Mental-Health-Conditions/Anxiety-Disorders/Treatment
Judul asli artikel: Anxiety Disorders / Treatments
Penterjemah: Lily Efferin
GANGGUAN MAKAN
Gambaran Umum (Overview)
Ketika Anda menjadi begitu sibuk dengan makanan dan masalah berat badan sehingga Anda merasa semakin sulit untuk fokus pada aspek lain dalam hidup Anda, itu mungkin merupakan tanda awal gangguan makan. Tanpa pengobatan, gangguan makan dapat menguasai hidup seseorang dan menyebabkan komplikasi medis yang serius dan berpotensi fatal. Gangguan makan dapat memengaruhi orang dari segala usia atau jenis kelamin, tetapi angkanya lebih tinggi di kalangan wanita. Gejala umumnya muncul pada masa remaja dan dewasa muda.
Gejala
Gangguan makan adalah sekelompok kondisi saling berhubungan yang menyebabkan masalah emosional dan fisik yang serius. Setiap kondisi melibatkan masalah makanan dan berat badan yang ekstrem; namun, masing-masing memiliki gejala unik yang membedakannya dari yang lain.
Anoreksia Nervosa. Orang dengan anoreksia akan menolak makanan sampai dirinya kelaparan karena obsesinya dengan penurunan berat badan. Dengan anoreksia, seseorang akan menyangkal rasa lapar dan menolak untuk makan, melakukan makan berlebihan dan cuci perut (buang air besar) atau berolahraga sampai kelelahan saat mereka mencoba membatasi, menghilangkan, atau “membakar” kalori.
Gejala emosional anoreksia termasuk cepat marah, menarik diri dari pergaulan, kurang mood atau emosi, tidak dapat memahami keseriusan situasi, takut makan di muka umum, dan obsesi terhadap makanan dan olahraga. Seringkali mengembangkan cara dan kebiasaan makan yang ekstrim atau seluruh kategori makanan dihilangkan dari daftar diet makannya, karena takut menjadi “gemuk”.
Anoreksia dapat mengakibatkan kerugian fisik yang berat. Asupan makanan yang sangat rendah dan gizi yang kurang memadai menyebabkan seseorang menjadi sangat kurus. Tubuh terpaksa melambat untuk menghemat energi berakibat ketidakteraturan atau hilangnya menstruasi, sembelit dan sakit perut, irama jantung tak beraturan, tekanan darah rendah, dehidrasi dan sulit tidur. Beberapa orang dengan anoreksia mungkin juga melakukan pola makan berlebihan dan cuci perut (buang air besar), sementara orang yang lain hanya membatasi makan.
Bulimia Nervosa. Orang yang hidup dengan bulimia akan merasa tidak terkendali ketika makan dalam jumlah yang sangat banyak dalam waktu singkat, dan kemudian mati-matian mencoba membuang kalori ekstra dengan muntah paksa, menyalahgunakan obat pencahar atau olahraga berlebihan. Ini menjadi siklus berulang yang memengaruhi banyak aspek kehidupan seseorang dan memberikan efek yang sangat negatif baik secara emosional maupun fisik. Orang yang hidup dengan bulimia biasanya memiliki berat badan normal atau bahkan sedikit kelebihan berat badan.
Gejala emosional bulimia termasuk rendahnya harga diri yang sangat berkaitan dengan citra tubuh, perasaan lepas kendali, perasaan bersalah atau malu tentang makan dan menarik diri dari teman dan keluarga.
Seperti anoreksia, bulimia akan mengakibatkan kerusakan fisik. Perilaku pesta makan besar dan cuci perut dapat sangat merusak organ tubuh yang terkait dalam urusan makan dan pencernaan makanan, gigi rusak karena sering muntah, dan yang umum terjadi adalah naiknya asam lambung. Pembersihan yang berlebihan dapat menyebabkan dehidrasi yang memengaruhi elektrolit tubuh dan menyebabkan aritmia jantung, gagal jantung, dan bahkan kematian.
Gangguan Pesta Makan (BED). Seseorang dengan BED kehilangan kendali atas pola makannya dan makan makanan dalam jumlah yang sangat banyak dalam waktu singkat. Mereka mungkin juga makan makanan dalam jumlah besar bahkan ketika dia tidak lapar atau setelah dia merasa kekenyangan. Hal ini membuat mereka merasa malu, jijik, tertekan atau bersalah atas perilaku mereka. Seseorang dengan BED, setelah episode pesta makan, tidak berusaha untuk buang air besar atau berolahraga secara berlebihan seperti yang dilakukan oleh orang yang menderita anoreksia atau bulimia. Seseorang dengan gangguan pesta makan mungkin memiliki berat badan normal, kelebihan berat badan atau obesitas.
Penyebab
Gangguan makan adalah kondisi yang sangat kompleks, dan para ilmuwan masih mempelajari penyebabnya. Meskipun semua gangguan makan memiliki masalah yang sama dengan makanan dan berat badan, sebagian besar ahli sekarang percaya bahwa gangguan makan disebabkan oleh orang yang berusaha mengatasi perasaan kewalahan dan emosi yang menyakitkan dengan cara mengendalikan makanan. Sayangnya, hal ini pada akhirnya akan merusak kesehatan fisik dan emosional, harga diri, dan pengendalian diri seseorang.
Faktor-faktor yang mungkin terlibat dalam menimbulkan gangguan makan meliputi:
- Faktor Genetik. Orang yang tergolong kerabat tingkat pertama, saudara kandung atau orang tua, berkaitan dengan gangguan makan tampaknya akan lebih berisiko mengalami gangguan makan juga. Ini menunjukkan hubungan genetik. Bukti bahwa zat kimia otak, serotonin, juga terlibat menunjukkan adanya kontribusi faktor genetik dan biologis.
- Faktor Lingkungan. Tekanan budaya yang mengidolakan tipe tubuh tertentu memberi tekanan yang tidak semestinya pada seseorang untuk mencapai standar yang tidak realistis. Citra budaya dan media populer sering menghubungkan kelangsingan (untuk wanita) atau kekekaran (untuk pria) dengan popularitas, kesuksesan, kecantikan, dan kebahagiaan.
- Faktor tekanan teman sebaya. Bagi kaum muda, ini bisa menjadi kekuatan yang sangat besar. Tekanan bisa muncul dalam bentuk godaan, intimidasi atau ejekan karena ukuran atau berat badan. Riwayat pelecehan fisik atau seksual juga dapat menyebabkan beberapa orang mengalami gangguan makan.
- Kesehatan emosional. Perfeksionisme, perilaku impulsif, dan hubungan yang bermasalah semuanya dapat berkontribusi terhadap penurunan harga diri seseorang dan membuat mereka rentan terhadap gangguan makan.
Gangguan makan mempengaruhi semua jenis orang. Namun ada faktor risiko tertentu yang menempatkan beberapa orang pada risiko lebih besar untuk menimbulkan gangguan makan.
- Usia. Gangguan makan jauh lebih umum pada masa remaja dan awal 20-an.
- Jenis kelamin. Wanita dan anak perempuan lebih cenderung untuk mengalami gangguan kelainan makan. Namun, penting untuk diketahui bahwa laki-laki dan anak laki-laki mungkin luput dari diagnosa gangguan makan karena perbedaan dalam mencari pengobatan.
- Sejarah keluarga. Memiliki orang tua atau saudara kandung dengan gangguan makan akan meningkatkan risiko.
- Diet. Diet yang ekstrim bisa mengakibatkan gangguan makan.
- Perubahan. Saat-saat perubahan seperti mulai kuliah, memulai pekerjaan baru, atau bercerai mungkin menjadi pemicu stres yang menimbulkan gangguan makan.
- Profesi dan aktivitas. Gangguan makan sangat umum di kalangan pesenam, pelari, pegulat, dan penari.
Diagnosa
Seseorang dengan gangguan makan akan mengalami pemulihan terbaik jika mereka menerima diagnosa lebih dini. Jika kelainan makan diyakini sebagai suatu masalah, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik, melakukan wawancara, dan meminta tes laboratorium. Ini akan membantu dalam menentukan diagnosa dan memastikan adanya hubungan dengan masalah dan komplikasi medis.
Selain itu, seorang profesional kesehatan mental akan melakukan evaluasi psikologis. Mereka mungkin bertanya tentang kebiasaan makan, perilaku, dan keyakinan. Mungkin ada pertanyaan tentang riwayat diet, olahraga, makan berlebihan, dan kebiasaan cuci perut.
Gejala harus memenuhi kriteria dalam Panduan Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM) untuk memastikan diagnosa. Setiap gangguan makan memiliki kriteria diagnostiknya sendiri yang akan digunakan oleh ahli kesehatan mental untuk menentukan gangguan mana yang terlibat. Tidak perlu memiliki semua kriteria gangguan untuk mendapat manfaat dari konsultasi dengan ahli kesehatan mental tentang masalah makanan dan pola makan.
Seringkali seseorang dengan gangguan makan akan memiliki gejala kondisi kesehatan mental lain yang memerlukan pengobatan. Kapan pun memungkinkan, yang terbaik adalah mengenali dan menangani semua kondisi pada waktu yang sama. Ini memberi seseorang dukungan perawatan lengkap yang membantu memastikan pemulihan yang bertahan lama.
Pengobatan
Gangguan makan ditangani dengan menggunakan berbagai tehnik. Perawatan akan bervariasi tergantung pada jenis kelainannya, tetapi umumnya akan mencakup yang berikut ini.
- Psikoterapi, seperti terapi bicara atau terapi perilaku.
- Obat-obatan, seperti antidepresan dan obat anti-kecemasan. Banyak orang yang hidup dengan gangguan makan seringkali memiliki penyakit yang muncul bersamaan seperti depresi atau kecemasan, dan meskipun tidak ada obat yang tersedia untuk mengobati gangguan makan itu sendiri, banyak pasien menemukan bahwa obat ini membantu mengatasi akar masalahnya.
- Konseling nutrisi dan pemantauan pemulihan berat badan juga penting. Perawatan berbasis keluarga sangat penting bagi keluarga dengan anak-anak dan remaja karena perawatan ini meminta bantuan keluarga untuk lebih saksama memastikan pola makan yang sehat, dan meningkatkan kesadaran serta dukungan.
Kondisi Terkait
Orang dengan gangguan makan sering memiliki gangguan tambahan:
- Depresi
- Gangguan Kecemasan
- Gangguan kepribadian ambang
- Gangguan obsesif kompulsif
- Gangguan penggunaan zat/ Diagnosa Ganda
Mengobati penyakit-penyakit ini dapat membantu mengobati gangguan makan dengan lebih mudah. Beberapa gejala gangguan makan mungkin disebabkan oleh gangguan lainnya.
Diterjemahkan dari:
Nama situs: www.nami.org
URL: https://www.nami.org/About-Mental-Illness/Mental-Health-Conditions/Eating-Disorders
Judul asli artikel: Mental Health Conditions / Eating Disorders
Penterjemah: Lily Efferin
Learn MoreINTRODUKSI SEKITAR GANGGUAN KESEHATAN MENTAL DAN TANDA-TANDANYA
TANDA DAN GEJALA PERINGATAN:
Mencoba membedakan antara perilaku yang diharapkan dan apa yang mungkin menjadi tanda Gangguan Kesehatan Mental tidak selalu mudah. Tidak ada tes yang dengan mudah dapat memberitahukan apakah seseorang memiliki Gangguan Kesehatan Mental atau apakah tindakan dan pikiran tersebut mungkin merupakan perilaku khas orang tersebut atau akibat dari gangguan fisik yang dideritanya.
Setiap gangguan memiliki gejalanya masing-masing, tetapi tanda-tanda umum adanya gangguan kesehatan mental pada orang dewasa dan remaja dapat memiliki gejala seperti berikut ini:
- Kekhawatiran atau ketakutan yang berlebihan
- Merasa sedih atau tertekan yang berlebihan
- Kebingungan dalam berpikir atau kesulitan dalam berkonsentrasi dan belajar
- Perubahan suasana hati yang ekstrim, termasuk perasaan “melambung tinggi” tak terkendali atau perasaan euforia
- Perasaan mudah tersinggung atau amarah yang berkepanjangan atau kuat
- Menghindari teman dan aktivitas sosial
- Kesulitan memahami atau berhubungan dengan orang lain
- Perubahan kebiasaan tidur atau merasa lelah dan lesu tak bertenaga
- Perubahan kebiasaan makan seperti meningkatnya rasa lapar atau kurang nafsu makan
- Perubahan dorongan seksual
- Kesulitan memahami realitas (delusi atau halusinasi, ketika seseorang mengalami dan merasakan hal-hal yang tidak ada dalam kenyataan riil)
- Ketidakmampuan merasakan perubahan dalam perasaan, perilaku, atau kepribadiannya sendiri (“kurangnya wawasan” atau anosognosia)
- Penggunaan zat, seperti alkohol atau obat-obatan, yang berlebihan
- Beberapa gangguan fisik tanpa penyebab yang jelas (seperti sakit kepala, sakit perut, “sakit dan nyeri” yang tidak jelas dan berkelanjutan)
- Berpikir tentang bunuh diri
- Ketidakmampuan melakukan aktivitas sehari-hari atau menangani masalah dan stres sehari-hari
- Ketakutan yang intens akan kenaikan berat badan atau kekhawatiran akan penampilan
Kondisi kesehatan mental juga bisa mulai berkembang pada anak kecil. Karena mereka masih belajar bagaimana mengenali dan mengutarakan pikiran dan emosi, berbagai gejala yang paling jelas tercermin dalam perilakunya. Gejala pada anak-anak mungkin termasuk yang berikut:
- Perubahan dalam prestasi sekolah
- Kekhawatiran atau kecemasan yang berlebihan, misalnya menolak untuk tidur atau sekolah
- Perilaku hiperaktif
- Sering mimpi buruk
- Sering melawan, tidak taat atau bertindak agresif
- Sering mengamuk
Di mana Dapat Memperoleh Bantuan
Jangan takut untuk mencari pertolongan jika Anda atau seseorang yang Anda kenal membutuhkan bantuan. Mempelajari semua yang Anda bisa ketahui tentang kesehatan mental adalah langkah pertama yang penting.
Hubungi dokter keluarga Anda, atau pelayanan kesehatan mental di kota Anda untuk mendapatkan lebih banyak informasi dan sumber bantuan.
Silahkan Kunjungi Laman Informasi Perawatan / Konseling atau klik tautan ini
Hubungi C4OMI HelpLine untuk mengetahui layanan dan dukungan apa yang tersedia di komunitas Anda. Atau yang mungkin bisa dihubungi dalam jangkauan Anda / keluarga.
Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal sedang bergumul atau berada dalam krisis, ada bantuan yang tersedia. WA ke +62 89678978655 untuk dihubungkan dengan relawan C4OMI
Menerima Diagnosa
Memahami tanda peringatan akan membantu Anda mengenali apakah Anda perlu menghubungi seorang profesional (Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa / Psikiater, Psikolog). Bagi banyak orang, mendapatkan diagnosa yang akurat adalah langkah awal dalam suatu rencana perawatan.
Tidak seperti diabetes atau kanker, tidak ada tes medis yang dapat mendiagnosa gangguan kesehatan mental secara akurat. Seorang profesional kesehatan mental akan menggunakan Manual Diagnostik dan Statistik Tentang Gangguan Mental, yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association, untuk menilai berbagai gejalanya dan menentukan diagnosanya. Manual tersebut mencantumkan kriteria termasuk berbagai perasaan dan perilaku serta ukuran waktunya agar secara resmi (dari gabungan berbagai kriteria tersebut) dapat digolongkan sebagai suatu kondisi kesehatan mental.
Setelah mendapatkan diagnosa, penyedia layanan kesehatan dapat membantu mengembangkan suatu rencana perawatan yang mencakup pengobatan, terapi, atau perubahan gaya hidup lainnya.
Menemukan Pengobatan
Mendapatkan diagnosa barulah langkah awal; memahami apa saja yang menjadi pilihan dan sasaran Anda sendiri adalah juga penting. Perawatan untuk gangguan kesehatan mental beraneka ragamnya tergantung dari diagnosa dan pribadi orang per orang. Tidak ada pengobatan “yang seragam dan cocok untuk semua orang”. Berbagai pilihan perawatan dapat mencakup pengobatan, konseling (terapi), dukungan sosial dan pendidikan.
Diterjemahkan dari:
Nama situs: www.nami.org
URL: https://www.nami.org/About-Mental-Illness/Warning-Signs-and-Symptoms
Judul asli artikel: Warning Signs and Symptoms
KONDISI KESEHATAN MENTAL:
C4OMI mengakui bahwa organisasi lain telah membuat perbedaan antara diagnosa yang dianggap sebagai “kondisi kesehatan mental” dibandingkan dengan “penyakit mental”. Kami sengaja menggunakan istilah “kondisi kesehatan mental” dan “gangguan kesehatan mental” secara bergantian.
Gangguan kesehatan mental adalah suatu kondisi yang memengaruhi pemikiran, perasaan, perilaku, atau suasana hati seseorang. Kondisi ini sangat mempengaruhi kehidupan sehari-hari dan juga dapat memengaruhi kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain. Jika Anda memiliki — atau berpikir Anda mungkin memiliki — gangguan kesehatan mental, hal pertama yang harus Anda ketahui adalah bahwa Anda tidak sendirian. Kondisi kesehatan mental jauh lebih umum daripada yang Anda pikirkan, terutama karena orang tidak suka, atau takut, membicarakannya. Namun, WHO menyatakan:
- 1 dari 5 (20%) orang dewasa mengalami penyakit mental setiap tahun
- 1 dari 20 (5%) orang dewasa mengalami penyakit mental serius setiap tahun
- 1 dari 6-7 remaja berusia 6-17 tahun (17%) mengalami gangguan kesehatan mental setiap tahun
- 50% dari semua penyakit mental seumur hidup dimulai pada usia 14 tahun, dan 75% pada usia 24 tahun
(Bandingkan dengan Riset Kesehatan Dasar dari Kemenkes Indonesia: https://www.kemkes.go.id/article/view/21100700003/kemenkes-beberkan-masalah-permasalahan-kesehatan-jiwa-di-indonesia.html )
Kondisi kesehatan mental bukanlah hasil dari satu peristiwa. Penelitian menunjukkan berbagai penyebab yang berhubungan. Genetika, lingkungan, dan gaya hidup memengaruhi apakah seseorang mengembangkan kondisi kesehatan mental. Pekerjaan atau kehidupan rumah yang penuh tekanan membuat beberapa orang lebih rentan, seperti halnya peristiwa kehidupan yang traumatis. Proses dan sirkuit biokimia serta struktur otak dasar juga dapat berperan.
Semua ini tidak berarti bahwa kehidupan Anda sudah hancur atau bahwa Anda, atau keluarga Anda, telah melakukan sesuatu yang “salah”. Gangguan Kesehatan Mental bukan akibat kesalahan siapa pun. Dan bagi banyak orang, pemulihan — termasuk juga memiliki peran yang berarti dalam kehidupan sosial, sekolah, dan pekerjaan — adalah mungkin, terutama jika Anda memulai perawatan lebih awal dan mengambil peran aktif dan serius dalam proses pemulihan Anda sendiri.
Learn MoreSEKITAR GANGGUAN KESEHATAN MENTAL
TANDA DAN GEJALA PERINGATAN:
KONDISI KESEHATAN MENTAL:
C4OMI mengakui bahwa organisasi lain telah membuat perbedaan antara diagnosa yang dianggap sebagai “kondisi kesehatan mental” dibandingkan dengan “penyakit mental”. Kami sengaja menggunakan istilah “kondisi kesehatan mental” dan “gangguan kesehatan mental” secara bergantian.
Gangguan kesehatan mental adalah suatu kondisi yang memengaruhi pemikiran, perasaan, perilaku, atau suasana hati seseorang. Kondisi ini sangat mempengaruhi kehidupan sehari-hari dan juga dapat memengaruhi kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain. Jika Anda memiliki — atau berpikir Anda mungkin memiliki — gangguan kesehatan mental, hal pertama yang harus Anda ketahui adalah bahwa Anda tidak sendirian. Kondisi kesehatan mental jauh lebih umum daripada yang Anda pikirkan, terutama karena orang tidak suka, atau takut, membicarakannya. Namun, WHO menyatakan:
- 1 dari 5 (20%) orang dewasa mengalami penyakit mental setiap tahun
- 1 dari 20 (5%) orang dewasa mengalami penyakit mental serius setiap tahun
- 1 dari 6-7 remaja berusia 6-17 tahun (17%) mengalami gangguan kesehatan mental setiap tahun
- 50% dari semua penyakit mental seumur hidup dimulai pada usia 14 tahun, dan 75% pada usia 24 tahun
(Bandingkan dengan Riset Kesehatan Dasar dari Kemenkes Indonesia: https://www.kemkes.go.id/article/view/21100700003/kemenkes-beberkan-masalah-permasalahan-kesehatan-jiwa-di-indonesia.html )
Kondisi kesehatan mental bukanlah hasil dari satu peristiwa. Penelitian menunjukkan berbagai penyebab yang berhubungan. Genetika, lingkungan, dan gaya hidup memengaruhi apakah seseorang mengembangkan kondisi kesehatan mental. Pekerjaan atau kehidupan rumah yang penuh tekanan membuat beberapa orang lebih rentan, seperti halnya peristiwa kehidupan yang traumatis. Proses dan sirkuit biokimia serta struktur otak dasar juga dapat berperan.
Semua ini tidak berarti bahwa kehidupan Anda sudah hancur atau bahwa Anda, atau keluarga Anda, telah melakukan sesuatu yang “salah”. Gangguan Kesehatan Mental bukan akibat kesalahan siapa pun. Dan bagi banyak orang, pemulihan — termasuk juga memiliki peran yang berarti dalam kehidupan sosial, sekolah, dan pekerjaan — adalah mungkin, terutama jika Anda memulai perawatan lebih awal dan mengambil peran aktif dan serius dalam proses pemulihan Anda sendiri.
Diterjemahkan dari:
Nama situs: www.nami.org
URL: https://www.nami.org/About-Mental-Illness/Mental-Health-Conditions
Judul asli artikel: Mental Health Condition
Penterjemah: Lily Efferin
Learn More
Permasalahan Kesehatan Jiwa di Indonesia
Masalah kesehatan jiwa telah menjadi masalah kesehatan yang belum terselesaikan di tengah-tengah masyarakat, baik di tingkat global maupun nasional. Terlebih di masa pandemi COVID-19, permasalahan kesehatan jiwa akan semakin berat untuk diselesaikan.
Dampak dari pandemi COVID-19 ini tidak hanya terhadap kesehatan fisik saja, namun juga berdampak terhadap kesehatan jiwa dari jutaan orang, baik yang terpapar langsung oleh virus maupun pada orang yang tidak terpapar.
Plt. Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemenkes dr. Maxi Rein Rondonuwu mengatakan saat ini masyarakat masih berjuang mengendalikan penyebaran virus COVID-19, tapi di sisi lain telah menyebar perasaan kecemasan, ketakutan, tekanan mental akibat dari isolasi, pembatasan jarak fisik dan hubungan sosial, serta ketidak pastian.
”Hal-hal tersebut tentu berdampak terhadap terjadinya peningkatan masalah dan gangguan kesehatan jiwa di masyarakat,” katanya dalam konferensi pers secara virtual, Rabu (6/10).
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, menunjukkan lebih dari 19 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami gangguan mental emosional, dan lebih dari 12 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami depresi.
Selain itu berdasarkan Sistem Registrasi Sampel yang dilakukan Badan Litbangkes tahun 2016, diperoleh data bunuh diri pertahun sebanyak 1.800 orang atau setiap hari ada 5 orang melakukan bunuh diri, serta 47,7% korban bunuh diri adalah pada usia 10-39 tahun yang merupakan usia anak remaja dan usia produktif.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Dr.Celestinus Eigya Munthe menjelaskan masalah kesehatan jiwa di Indonesia terkait dengan masalah tingginya prevalensi orang dengan gangguan jiwa. Untuk saat ini Indonesia memiliki prevalensi orang dengan gangguan jiwa sekitar 1 dari 5 penduduk, artinya sekitar 20% populasi di Indonesia itu mempunyai potensi-potensi masalah gangguan jiwa.
”Ini masalah yang sangat tinggi karena 20% dari 250 juta jiwa secara keseluruhan potensial mengalami masalah kesehatan jiwa,” katanya.
Ditambah lagi sampai saat ini belum semua provinsi mempunyai rumah sakit jiwa sehingga tidak semua orang dengan masalah gangguan jiwa mendapatkan pengobatan yang seharusnya.
Permasalahan lain, lanjut Celestinus, adalah terbatasnya sarana prasarana dan tingginya beban akibat masalah gangguan jiwa.
”Masalah sumber daya manusia profesional untuk tenaga kesehatan jiwa juga masih sangat kurang, karena sampai hari ini jumlah psikiater sebagai tenaga profesional untuk pelayanan kesehatan jiwa kita hanya mempunyai 1.053 orang,” ucapnya.
Artinya, satu psikiater melayani sekitar 250 ribu penduduk. Menurutnya, ini suatu beban yang sangat besar dalam upaya meningkatkan layanan kesehatan jiwa di Indonesia.
Tak hanya itu, masalah kesehatan jiwa di Indonesia juga terkendala stigma dan diskriminasi.
”Kita sadari bahwa sampai hari ini kita mengupayakan suatu edukasi kepada masyarakat dan tenaga profesional lainnya agar dapat menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan gangguan jiwa, serta pemenuhan hak asasi manusia kepada orang dengan gangguan jiwa,” tutur Celestinus.
dr. Maxi mengatakan situasi masalah kesehatan jiwa tersebut mendorong pemerintah untuk memastikan bahwa kesehatan mental agar dapat lebih diprioritaskan dari sebelumnya.
Pemerintah daerah harus menjadikan program dan pelayanan kesehatan jiwa dapat menjadi fokus perhatian, tentunya dengan menyediakan berbagai sarana dan prasarana terkait kesehatan jiwa yang memadai.
”Kepada masyarakat, agar menjaga kesehatan diri dan tetap patuh dan disiplin dengan protokol kesehatan agar tidak tertular COVID-19, serta selalu menjaga kesehatan jiwa dengan mengelola stress dengan baik, menciptakan suasana yang aman, nyaman bagi seluruh anggota keluarga,” ujarnya.
Hari Kesehatan Jiwa Sedunia
Tema Global peringatan hari kesehatan jiwa Sedunia tahun 2021 ini adalah ”Mental Health in an Unequal World: Kesetaraan dalam Kesehatan Jiwa untuk Semua”. Tema tersebut mengamanahkan pada setiap Negara agar lebih memberikan akses layanan yang lebih besar dan luas, agar kesehatan mental masyarakat lebih terjamin dan setara dengan kesehatan fisik lainnya.
Oleh karena itu :
1. Kepada masyarakat, agar menjaga kesehatan diri dan tetap patuh dan disiplin dengan protokol kesehatan agar tidak tertular COVID-19, serta selalu menjaga kesehatan jiwa dengan mengelola stress dengan baik, menciptakan suasana yang aman, nyaman bagi seluruh anggota keluarga di rumah kita.
2. Kepada para tenaga kesehatan, kader kesehatan jiwa dan komunitas peduli kesehatan jiwa, saya sampaikan ucapan terima kasih karena telah selalu menjaga kesehatan dan mencegah penularan COVID-19 serta berdedikasi menjaga kesehatan jiwa masyarakat, baik melalui kegiatan di komunitas dan atau di fasilitas pelayanan kesehatan dalam memberikan layanan dan pendampingan bagi masyarakat yang mengalami masalah kesehatan jiwa, sehinga mendapatkan akses layanan yang setara dan sama dengan setara.
3. Kepada para pimpinan pemerintah daerah, sebagai pengampu dan yang berwenang di daerah, kami berpesan agar program dan pelayanan kesehatan jiwa dapat menjadi fokus perhatian tentunya dengan menyediakan berbagai sarana dan prasarana terkait kesehatan jiwa yang memadai dan mendukung penyelenggaraan program kesehatan jiwa di wilayah bapak/ibu.
4. Kepada para organisasi profesi yang telah berkontribusi terhadap kesehatan jiwa masyarakat, kami sampaikan terima kasih dan tentunya karya nyata pengabdian pada masyarakat selanjutnya kami harapkan dapat berkelanjutan.
5. Kepada para Media dapat memberikan informasi secara berimbang terkait pemberitaan masalah kesehatan jiwa, sehingga diharapkan dapat mengurangi stigma dan meningkatkan informasi-informasi kebutuhan dan akses layanan kesehatan jiwa sebagai prasyarat kesetaraan pelayanan kesehatan jiwa bagi seluruh masyarakat indonesia.
Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi nomor hotline Halo Kemenkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak[at]kemkes[dot]go[dot]id (D2)
Sumber : https://www.kemkes.go.id/article/view/21100700003/kemenkes-beberkan-masalah-permasalahan-kesehatan-jiwa-di-indonesia.html
Learn More