logologologo
  • Beranda
  • Tentang
    • Tentang Kami
    • Visi Misi
  • Kisah Hidup
    • Video
    • Kisah Hidup ( Cerita )
      • Kisah Hidup : Depresi
  • Bahan
    • Umum
    • Schizophrenia
    • Schizo Affective Disorder
    • Bipolar Disorder
    • PANS Disorder
    • Borderline Personality Disorder
    • Anosognosia
  • Artikel
    • Anxiety and Stress
    • Autism
    • Anosognosia
    • Eating Disorder
    • General Knowledge
    • Indonesia
    • Kisah Hidup
    • OCD
    • Psychosis
    • Schizophrenia
    • Sleep Disorder
    • Smoking
    • Substance Abuse
    • Suicide
    • Treatments
  • Link Bantuan
  • Beranda
  • Tentang
    • Tentang Kami
    • Visi Misi
  • Kisah Hidup
    • Video
    • Kisah Hidup ( Cerita )
      • Kisah Hidup : Depresi
  • Bahan
    • Umum
    • Schizophrenia
    • Schizo Affective Disorder
    • Bipolar Disorder
    • PANS Disorder
    • Borderline Personality Disorder
    • Anosognosia
  • Artikel
    • Anxiety and Stress
    • Autism
    • Anosognosia
    • Eating Disorder
    • General Knowledge
    • Indonesia
    • Kisah Hidup
    • OCD
    • Psychosis
    • Schizophrenia
    • Sleep Disorder
    • Smoking
    • Substance Abuse
    • Suicide
    • Treatments
  • Link Bantuan
  • Beranda
  • Tentang
    • Tentang Kami
    • Visi Misi
  • Kisah Hidup
    • Video
    • Kisah Hidup ( Cerita )
      • Kisah Hidup : Depresi
  • Bahan
    • Umum
    • Schizophrenia
    • Schizo Affective Disorder
    • Bipolar Disorder
    • PANS Disorder
    • Borderline Personality Disorder
    • Anosognosia
  • Artikel
    • Anxiety and Stress
    • Autism
    • Anosognosia
    • Eating Disorder
    • General Knowledge
    • Indonesia
    • Kisah Hidup
    • OCD
    • Psychosis
    • Schizophrenia
    • Sleep Disorder
    • Smoking
    • Substance Abuse
    • Suicide
    • Treatments
  • Link Bantuan

GANGGUAN MAKAN  

June 24, 2023 by editorialteam Eating Disorder 0 comments

Gambaran Umum (Overview) 

Ketika Anda menjadi begitu sibuk dengan makanan dan masalah berat badan sehingga Anda merasa semakin sulit untuk fokus pada aspek lain dalam hidup Anda, itu mungkin merupakan tanda awal gangguan makan. Tanpa pengobatan, gangguan makan dapat menguasai hidup seseorang dan menyebabkan komplikasi medis yang serius dan berpotensi fatal. Gangguan makan dapat memengaruhi orang dari segala usia atau jenis kelamin, tetapi angkanya lebih tinggi di kalangan wanita. Gejala umumnya muncul pada masa remaja dan dewasa muda. 

Gejala 

Gangguan makan adalah sekelompok kondisi saling berhubungan yang menyebabkan masalah emosional dan fisik yang serius. Setiap kondisi melibatkan masalah makanan dan berat badan yang ekstrem; namun, masing-masing memiliki gejala unik yang membedakannya dari yang lain. 

Anoreksia Nervosa. Orang dengan anoreksia akan menolak makanan sampai dirinya kelaparan karena obsesinya dengan penurunan berat badan. Dengan anoreksia, seseorang akan menyangkal rasa lapar dan menolak untuk makan, melakukan makan berlebihan dan cuci perut (buang air besar) atau berolahraga sampai kelelahan saat mereka mencoba membatasi, menghilangkan, atau “membakar” kalori. 

Gejala emosional anoreksia termasuk cepat marah, menarik diri dari pergaulan, kurang mood atau emosi, tidak dapat memahami keseriusan situasi, takut makan di muka umum, dan obsesi terhadap makanan dan olahraga. Seringkali mengembangkan cara dan kebiasaan makan yang ekstrim atau seluruh kategori makanan dihilangkan dari daftar diet makannya, karena takut menjadi “gemuk”. 

Anoreksia dapat mengakibatkan kerugian fisik yang berat. Asupan makanan yang sangat rendah dan gizi yang kurang memadai menyebabkan seseorang menjadi sangat kurus. Tubuh terpaksa melambat untuk menghemat energi berakibat ketidakteraturan atau hilangnya menstruasi, sembelit dan sakit perut, irama jantung tak beraturan, tekanan darah rendah, dehidrasi dan sulit tidur. Beberapa orang dengan anoreksia mungkin juga melakukan pola makan berlebihan dan cuci perut (buang air besar), sementara orang yang lain hanya membatasi makan. 

Bulimia Nervosa. Orang yang hidup dengan bulimia akan merasa tidak terkendali ketika makan dalam jumlah yang sangat banyak dalam waktu singkat, dan kemudian mati-matian mencoba membuang kalori ekstra dengan muntah paksa, menyalahgunakan obat pencahar atau olahraga berlebihan. Ini menjadi siklus berulang yang memengaruhi banyak aspek kehidupan seseorang dan memberikan efek yang sangat negatif baik secara emosional maupun fisik. Orang yang hidup dengan bulimia biasanya memiliki berat badan normal atau bahkan sedikit kelebihan berat badan. 

Gejala emosional bulimia termasuk rendahnya harga diri yang sangat berkaitan dengan citra tubuh, perasaan lepas kendali, perasaan bersalah atau malu tentang makan dan menarik diri dari teman dan keluarga. 

Seperti anoreksia, bulimia akan mengakibatkan kerusakan fisik. Perilaku pesta makan besar dan cuci perut dapat sangat merusak organ tubuh yang terkait dalam urusan makan dan pencernaan makanan, gigi rusak karena sering muntah, dan yang umum terjadi adalah naiknya asam lambung. Pembersihan yang berlebihan dapat menyebabkan dehidrasi yang memengaruhi elektrolit tubuh dan menyebabkan aritmia jantung, gagal jantung, dan bahkan kematian. 

Gangguan Pesta Makan (BED). Seseorang dengan BED kehilangan kendali atas pola makannya dan makan makanan dalam jumlah yang sangat banyak dalam waktu singkat.  Mereka mungkin juga makan makanan dalam jumlah besar bahkan ketika dia tidak lapar atau setelah dia merasa kekenyangan. Hal ini membuat mereka merasa malu, jijik, tertekan atau bersalah atas perilaku mereka. Seseorang dengan BED, setelah episode pesta makan, tidak berusaha untuk buang air besar atau berolahraga secara berlebihan seperti yang dilakukan oleh orang yang menderita anoreksia atau bulimia. Seseorang dengan gangguan pesta makan mungkin memiliki berat badan normal, kelebihan berat badan atau obesitas. 

Penyebab 

Gangguan makan adalah kondisi yang sangat kompleks, dan para ilmuwan masih mempelajari penyebabnya. Meskipun semua gangguan makan memiliki masalah yang sama dengan makanan dan berat badan, sebagian besar ahli sekarang percaya bahwa gangguan makan disebabkan oleh orang yang berusaha mengatasi perasaan kewalahan dan emosi yang menyakitkan dengan cara mengendalikan makanan. Sayangnya, hal ini pada akhirnya akan merusak kesehatan fisik dan emosional, harga diri, dan pengendalian diri seseorang. 

Faktor-faktor yang mungkin terlibat dalam menimbulkan gangguan makan meliputi: 

  • Faktor Genetik. Orang yang tergolong kerabat tingkat pertama, saudara kandung atau orang tua, berkaitan dengan gangguan makan tampaknya akan lebih berisiko mengalami gangguan makan juga. Ini menunjukkan hubungan genetik. Bukti bahwa zat kimia otak, serotonin, juga terlibat menunjukkan adanya kontribusi faktor genetik dan biologis. 
  • Faktor Lingkungan. Tekanan budaya yang mengidolakan tipe tubuh tertentu memberi tekanan yang tidak semestinya pada seseorang untuk mencapai standar yang tidak realistis. Citra budaya dan media populer sering menghubungkan kelangsingan (untuk wanita) atau kekekaran (untuk pria) dengan popularitas, kesuksesan, kecantikan, dan kebahagiaan.  
  • Faktor tekanan teman sebaya. Bagi kaum muda, ini bisa menjadi kekuatan yang sangat besar. Tekanan bisa muncul dalam bentuk godaan, intimidasi atau ejekan karena ukuran atau berat badan. Riwayat pelecehan fisik atau seksual juga dapat menyebabkan beberapa orang mengalami gangguan makan. 
  • Kesehatan emosional. Perfeksionisme, perilaku impulsif, dan hubungan yang bermasalah semuanya dapat berkontribusi terhadap penurunan harga diri seseorang dan membuat mereka rentan terhadap gangguan makan. 

Gangguan makan mempengaruhi semua jenis orang. Namun ada faktor risiko tertentu yang menempatkan beberapa orang pada risiko lebih besar untuk menimbulkan gangguan makan. 

  • Usia. Gangguan makan jauh lebih umum pada masa remaja dan awal 20-an. 
  • Jenis kelamin. Wanita dan anak perempuan lebih cenderung untuk mengalami gangguan kelainan makan. Namun, penting untuk diketahui bahwa laki-laki dan anak laki-laki mungkin luput dari diagnosa gangguan makan karena perbedaan dalam mencari pengobatan. 
  • Sejarah keluarga. Memiliki orang tua atau saudara kandung dengan gangguan makan akan meningkatkan risiko. 
  • Diet. Diet yang ekstrim bisa mengakibatkan gangguan makan. 
  • Perubahan. Saat-saat perubahan seperti mulai kuliah, memulai pekerjaan baru, atau bercerai mungkin menjadi pemicu stres yang menimbulkan gangguan makan. 
  • Profesi dan aktivitas. Gangguan makan sangat umum di kalangan pesenam, pelari, pegulat, dan penari. 

Diagnosa 

Seseorang dengan gangguan makan akan mengalami pemulihan terbaik jika mereka menerima diagnosa lebih dini. Jika kelainan makan diyakini sebagai suatu masalah, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik, melakukan wawancara, dan meminta tes laboratorium. Ini akan membantu dalam menentukan diagnosa dan memastikan adanya hubungan dengan masalah dan komplikasi medis. 

Selain itu, seorang profesional kesehatan mental akan melakukan evaluasi psikologis. Mereka mungkin bertanya tentang kebiasaan makan, perilaku, dan keyakinan. Mungkin ada pertanyaan tentang riwayat diet, olahraga, makan berlebihan, dan kebiasaan cuci perut. 

Gejala harus memenuhi kriteria dalam Panduan Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM) untuk memastikan diagnosa. Setiap gangguan makan memiliki kriteria diagnostiknya sendiri yang akan digunakan oleh ahli kesehatan mental untuk menentukan gangguan mana yang terlibat. Tidak perlu memiliki semua kriteria gangguan untuk mendapat manfaat dari konsultasi dengan ahli kesehatan mental tentang masalah makanan dan pola makan. 

Seringkali seseorang dengan gangguan makan akan memiliki gejala kondisi kesehatan mental lain yang memerlukan pengobatan. Kapan pun memungkinkan, yang terbaik adalah mengenali dan menangani semua kondisi pada waktu yang sama. Ini memberi seseorang dukungan perawatan lengkap yang membantu memastikan pemulihan yang bertahan lama. 

Pengobatan 

Gangguan makan ditangani dengan menggunakan berbagai tehnik. Perawatan akan bervariasi tergantung pada jenis kelainannya, tetapi umumnya akan mencakup yang berikut ini. 

  • Psikoterapi, seperti terapi bicara atau terapi perilaku. 
  • Obat-obatan, seperti antidepresan dan obat anti-kecemasan. Banyak orang yang hidup dengan gangguan makan seringkali memiliki penyakit yang muncul bersamaan seperti depresi atau kecemasan, dan meskipun tidak ada obat yang tersedia untuk mengobati gangguan makan itu sendiri, banyak pasien menemukan bahwa obat ini membantu mengatasi akar masalahnya. 
  • Konseling nutrisi dan pemantauan pemulihan berat badan juga penting. Perawatan berbasis keluarga sangat penting bagi keluarga dengan anak-anak dan remaja karena perawatan ini meminta bantuan keluarga untuk lebih saksama memastikan pola makan yang sehat, dan meningkatkan kesadaran serta dukungan. 

Kondisi Terkait 

Orang dengan gangguan makan sering memiliki gangguan tambahan: 

  • Depresi 
  • Gangguan Kecemasan 
  • Gangguan kepribadian ambang 
  • Gangguan obsesif kompulsif 
  • Gangguan penggunaan zat/ Diagnosa Ganda

Mengobati penyakit-penyakit ini dapat membantu mengobati gangguan makan dengan lebih mudah. Beberapa gejala gangguan makan mungkin disebabkan oleh gangguan lainnya. 

Diterjemahkan dari: 

Nama situs: www.nami.org  

URL: https://www.nami.org/About-Mental-Illness/Mental-Health-Conditions/Eating-Disorders   

Judul asli artikel: Mental Health Conditions / Eating Disorders 

Penterjemah: Lily Efferin 

Prev
Next

Related Posts

GANGGUAN MAKAN  
June 24, 2023

Gambaran Umum (Overview)  Ketika Anda menjadi begitu sibuk dengan...

Learn more
We educate, support, alongside and advocate.

Contact Us

Bandung

C4OMI.Indonesia@gmail.com

0896-7897-8655