22 Agustus 2022
Trish Lockard
Ketika saya pertama kali mengajar kursus Keluarga-ke-Keluarga (Family-to-Family) di NAMI pada tahun 2014, rekan guru saya (yang telah menjadi pemimpin NAMI di negara bagian dan guru kelas selama 25 tahun) memperkenalkan saya pada sebuah kata yang belum pernah saya dengar sebelumnya: Anosognosia. Ketika ia mendefinisikan anosognosia kepada kami, saya mendapatkan sebuah wahyu yang begitu kuat sehingga hampir membuat saya terjatuh dari kursi. Definisi dasarnya: Sebuah gejala yang dialami oleh mereka yang mengalami gangguan kesehatan mental yang serius (SMI – Serious Mental Illness) di mana seseorang tidak dapat menyadari bahwa mereka memiliki gangguan kesehatan mental.
Bagi saya, mempelajari istilah ini adalah sebuah dobrakan. Saya pernah mengalami hal ini di keluarga saya sendiri dan pernah ditanya oleh orang lain, “Mengapa orang yang saya cintai tidak dapat mempercayai saya dan dokternya dan melakukan hal yang benar—meminum obat, pergi ke terapi dan menjadi lebih baik? Mengapa mereka tidak bisa melihat betapa anehnya perilaku mereka? Mengapa mereka menolak bantuan?”
Saya sendiri juga bertanya-tanya tentang hal ini. Rekan guru saya bercerita tentang Dr. Xavier Amador dan bukunya yang menjadi terobosan baru, “I’m Not Sick, I Don’t Need Help!”. Saya membacanya, dan perspektif saya berubah selamanya.
