logologologo
  • Beranda
  • Tentang
    • Tentang Kami
    • Visi Misi
  • Kisah Hidup
    • Video
    • Kisah Hidup ( Cerita )
      • Kisah Hidup : Depresi
  • Bahan
    • Umum
    • Schizophrenia
    • Schizo Affective Disorder
    • Bipolar Disorder
    • PANS Disorder
    • Borderline Personality Disorder
    • Anosognosia
  • Artikel
    • Anxiety and Stress
    • Autism
    • Anosognosia
    • Eating Disorder
    • General Knowledge
    • Indonesia
    • Kisah Hidup
    • OCD
    • Psychosis
    • Schizophrenia
    • Sleep Disorder
    • Smoking
    • Substance Abuse
    • Suicide
    • Treatments
  • Link Bantuan
  • Beranda
  • Tentang
    • Tentang Kami
    • Visi Misi
  • Kisah Hidup
    • Video
    • Kisah Hidup ( Cerita )
      • Kisah Hidup : Depresi
  • Bahan
    • Umum
    • Schizophrenia
    • Schizo Affective Disorder
    • Bipolar Disorder
    • PANS Disorder
    • Borderline Personality Disorder
    • Anosognosia
  • Artikel
    • Anxiety and Stress
    • Autism
    • Anosognosia
    • Eating Disorder
    • General Knowledge
    • Indonesia
    • Kisah Hidup
    • OCD
    • Psychosis
    • Schizophrenia
    • Sleep Disorder
    • Smoking
    • Substance Abuse
    • Suicide
    • Treatments
  • Link Bantuan
  • Beranda
  • Tentang
    • Tentang Kami
    • Visi Misi
  • Kisah Hidup
    • Video
    • Kisah Hidup ( Cerita )
      • Kisah Hidup : Depresi
  • Bahan
    • Umum
    • Schizophrenia
    • Schizo Affective Disorder
    • Bipolar Disorder
    • PANS Disorder
    • Borderline Personality Disorder
    • Anosognosia
  • Artikel
    • Anxiety and Stress
    • Autism
    • Anosognosia
    • Eating Disorder
    • General Knowledge
    • Indonesia
    • Kisah Hidup
    • OCD
    • Psychosis
    • Schizophrenia
    • Sleep Disorder
    • Smoking
    • Substance Abuse
    • Suicide
    • Treatments
  • Link Bantuan

BERJALAN DIATAS RENTANGAN TALI: MENGATASI DEPRESI

July 3, 2023 by editorialteam Depresi, Kisah Hidup 0 comments

Berjalan di Atas Rentangan Tali: Mengatasi Depresi

29 Agustus 2022
Penulis: Heather Loeb

Saya sedang berbicara di telepon dengan mentor saya, mengatakan kepadanya
betapa saya merasa hebat – bahwa saya telah berhasil “melewati” episode
depresi yang telah berlangsung bertahun-tahun dan menyebabkan saya harus
menghabiskan waktu enam minggu tinggal di Rumah Sakit Jiwa.

Ketika saya berhenti berbicara, mentor saya berkata, “Hati-hati. Depresimu selalu
dapat berulang kembali.”

Dia tidak bermaksud jahat atau mencoba menghancurkan rasa senang saya – dia
mengatakannya karena itu benar, dan dia ingin saya waspada.

Saya menderita gangguan depresi mayor (Major Depression Disorder – MDD),
bersama dengan gangguan kecemasan umum, gangguan depresi kronis (disebut
juga Distimia), gangguan kepribadian menghindar (Avoidant Personality Disorder
– APD) dan gangguan keinginan makan tanpa kendali. Tak satu pun dari berbagai
gangguan tersebut mudah diobati, terutama depresi saya.

Memahami Gangguan Depresi Mayor

Saya sering merasa khawatir tentang kemungkinan kambuhnya depresi saya.
Dengan gangguan depresi mayor, saya mengalami episode depresi yang datang
dan pergi, artinya saya tidak mengalami gangguan depresi sepanjang waktu.
Sebuah episode depresi didefinisikan sebagai satu periode depresi selama dua
minggu atau lebih di mana Anda mengalami setidaknya lima bentuk gejala depresi
hampir setiap hari, termasuk suasana hati yang buruk, kehilangan minat dalam
berbagai kegiatan, gangguan tidur, kelelahan, perasaan tidak berharga dan
pemikiran untuk bunuh diri. (Namun ini bukanlah sebuah daftar yang lengkap)

Menurut Asosiasi Psikiatris Amerika, gangguan depresi mayor sangat sering
berulang; berbagai gejala berulang kembali setidaknya pada 50% dari mereka
yang pulih dari episode pertama depresi. Sekitar 80% dari mereka yang pernah
mengalami dua episode akan mengalami pengulangan lagi. Satu penelitian
menemukan bahwa, secara rata-rata, individu dengan riwayat depresi akan
mengalami lima hingga sembilan episode berbeda dalam hidup mereka.

Mengatasi Pelbagai Gejala Depresi Dan Ketakutan Saya

Saya sudah mengalami setidaknya dua episode depresi sejak saya mendapatkan
diagnosa itu pada usia 19 tahun. Saya berharap bahwa saya akan “siap” jika
sebuah episode menerpa saya kembali, tetapi nyatanya saya menjadi panik
bahkan jika saya mengalami hari yang buruk.

“Apakah saya perlu memanggil psikiater saya?”
“Mungkin saya harus mengganti obat-obatan saya.”
“Saya akan sangat membatasi kegiatan saya (low battery mode*).”

*Bandingkan dengan artikel pada situs web ini
https://www.quantamagazine.org/the-brain-has-a-low-power-mode-that-bluntsour-senses-20220614/

Dan sebagainya.

Saya selalu berjalan di atas bentangan kesulitan yang memerlukan kewaspadaan
dalam bertindak. Meskipun sekarang saya merasa dalam keadaan sangat baik –
dan ini telah berlangsung selama berbulan-bulan – saya masih harus sangat
berhati-hati. Saya perlu tidur yang cukup – tidak terlalu banyak atau terlalu
sedikit. Saya harus minum obat-obatan saya secara teratur pada waktu yang
sama, dua kali sehari, setiap hari, dan menjaga ketersediaannya secara memadai.

Saya harus mengikuti pola makan yang sehat, minum banyak air dan menghindari
berbagai pemicu, seperti acara TV dan buku yang berisi kekerasan atau tragedi.

Saya menghindari tidur pada siang hari. Saya berusaha untuk tetap aktif. Saya
tidak minum alkohol dan mencoba menghindari berbagai situasi yang
menimbulkan stres. Saya tetap berpegang pada rutinitas dan kebiasaan teratur
setiap hari sebanyak yang saya bisa.

Sementara berbagai langkah ini mungkin
seperti perilaku “normal,” yang terlihat bertanggung jawab, tetapi lebih daripada
itu – metode ini telah menyelamatkan hidup saya. Jika saya “melanggar batas
aturannya,” saya menjadi emosional, tidak sabar dan mudah tersinggung. Saya
kehilangan kendali atas diri saya sendiri, dan pikiran saya menerawang ke tempat
yang gelap dan negatif.

Menerima Dan Menikmati Perjalanan Hidup Saya

Ini merupakan tantangan utama bagi mereka yang memiliki beberapa kondisi
kesehatan mental; terkadang, pikiran negatif seakan-akan selalu siap untuk
menyelinap dan menyusup masuk ke dalam pikiran Anda. Pada awalnya, pikiran
dan gejala tersebut bisa saja tidak terlalu kentara – saya berhenti mandi sebanyak
biasanya, lalu saya tidur sepanjang siang hari. Saya melewatkan satu hari tanpa
menggosok gigi. Tapi begitu depresi merenggut kendali atas diri saya, itu dapat
berlangsung terus dan sangat menyakitkan. Saya kehilangan harapan. Saya
mengisolasi diri. Saya tenggelam dalam kegelapan, tergelincir dalam kesulitan dan
kehilangan kendali

Tantangan lain adalah memerangi rasa malu dan menyalahkan diri sendiri.
Seringkali, saya bertanya-tanya, “Bukankah seharusnya saya sudah lebih kuat
sekarang? Bukankah saya sudah merangkak keluar dari lubang neraka? Saya
memiliki ketabahan. Saya memiliki keterampilan mengatasi dan sistem
pendukung yang luar biasa.” Tetapi saya telah terbiasa mengabaikan suara batin
saya yang mengatakan bahwa saya “seharusnya” sudah lebih baik atau bahwa
saya adalah tidak layak.

Ini adalah perjalanan yang sangat panjang. Saya telah menghabiskan empat tahun
terakhir berperang dengan diri saya sendiri, dan itu benar-benar sangat
menantang. Saya mengalami hari-hari yang buruk, bahkan mengerikan, tetapi
saya terus berjalan, dan sekarang saya menjalani kehidupan terbaik saya. Saya
mewujudkannya dengan bantuan kelompok pendukung, terapis, dan obat-obatan.

Dan pada saat ini saya – secara sukarela bangun jam 5:00 pagi setiap hari. Saya
mengantar anak-anak saya ke sekolah dan menjemput mereka. Saya mandi dan
membersihkan gigi setiap hari. Saya memiliki kolom tentang kesehatan mental di
koran lokal, dan saya adalah manajer komunikasi untuk NAMI Greater Corpus
Christi. Saya telah menemukan dukungan, perawatan, dan tujuan yang tepat.

Saya ingin membantu orang lain karena saya merasa sangat kesepian dalam
perjalanan saya, dan perasaan tersebut dapat benar-benar membunuh saya. Saya
ingin bersuara lantang bagi mereka yang tidak dapat menyuarakan diri mereka.

Saya menyadari bahwa saya memiliki gangguan kesehatan mental, dan bahwa
keadaan tersebut tidak akan pernah berlalu. Sulit untuk menerimanya, tetapi
meskipun tantangannya begitu besar dan tidak menguntungkan saya, saya akan
terus berusaha melakukan yang terbaik.

Heather Loeb adalah penulis dan pendiri “Unruly Neurons,” sebuah blog yang
didedikasikan untuk memberantas stigma gangguan kesehatan mental. Heather
telah hidup dengan gangguan depresi mayor, gangguan kecemasan umum,
gangguan kepribadian menghindar dan gangguan keinginan makan tanpa
kendali selama 20 tahun terakhir. Dia juga menulis kolom kesehatan mental di
Corpus Christi Caller-Times.

Diterjemahkan oleh Eunike (10 Juni 2023) dari:
Nama Situs: www.nami.org
URL: https://www.nami.org/Blogs/NAMI-Blog/August-2022/Walking-on-a-TightRope-Coping-with-Depression
Judul asli artikel: Walking on a Tight Rope: Coping with Depression

Prev
Next

Related Posts

Mengatasi Skizofrenia di tengah Restoran yang Ramai
October 26, 2023

28 April 2023  Oleh: Jason Jepson  Ketika saya bangun pagi untuk janji...

Learn more
Bagaimana Saya Menavigasi Identitas Gender dan Seksualitas dengan Kepribadian Ganda (multiple)
July 3, 2023

Sementara gangguan identitas disosiatif (DID – Dissociative Identity Disorder)...

Learn more
Intervensi Dini Psikosis
October 9, 2023

Saya hidup dengan psikosis. Gejala gangguan bipolar saya ini berdampak buruk pada...

Learn more
HIDUP DENGAN DEPRESI: BAGAIMANA CARANYA UNTUK TETAP BEKERJA
October 13, 2023

7 April 2017 Penulis: Emily Johnson Saya hidup dengan episode depresi tanpa...

Learn more
We educate, support, alongside and advocate.

Contact Us

Bandung

C4OMI.Indonesia@gmail.com

0896-7897-8655