logologologo
  • Beranda
  • Tentang
    • Tentang Kami
    • Visi Misi
  • Kisah Hidup
    • Video
    • Kisah Hidup ( Cerita )
      • Kisah Hidup : Depresi
  • Bahan
    • Umum
    • Schizophrenia
    • Schizo Affective Disorder
    • Bipolar Disorder
    • PANS Disorder
    • Borderline Personality Disorder
    • Anosognosia
  • Artikel
    • Anxiety and Stress
    • Autism
    • Anosognosia
    • Eating Disorder
    • General Knowledge
    • Indonesia
    • Kisah Hidup
    • OCD
    • Psychosis
    • Schizophrenia
    • Sleep Disorder
    • Smoking
    • Substance Abuse
    • Suicide
    • Treatments
  • Link Bantuan
  • Beranda
  • Tentang
    • Tentang Kami
    • Visi Misi
  • Kisah Hidup
    • Video
    • Kisah Hidup ( Cerita )
      • Kisah Hidup : Depresi
  • Bahan
    • Umum
    • Schizophrenia
    • Schizo Affective Disorder
    • Bipolar Disorder
    • PANS Disorder
    • Borderline Personality Disorder
    • Anosognosia
  • Artikel
    • Anxiety and Stress
    • Autism
    • Anosognosia
    • Eating Disorder
    • General Knowledge
    • Indonesia
    • Kisah Hidup
    • OCD
    • Psychosis
    • Schizophrenia
    • Sleep Disorder
    • Smoking
    • Substance Abuse
    • Suicide
    • Treatments
  • Link Bantuan
  • Beranda
  • Tentang
    • Tentang Kami
    • Visi Misi
  • Kisah Hidup
    • Video
    • Kisah Hidup ( Cerita )
      • Kisah Hidup : Depresi
  • Bahan
    • Umum
    • Schizophrenia
    • Schizo Affective Disorder
    • Bipolar Disorder
    • PANS Disorder
    • Borderline Personality Disorder
    • Anosognosia
  • Artikel
    • Anxiety and Stress
    • Autism
    • Anosognosia
    • Eating Disorder
    • General Knowledge
    • Indonesia
    • Kisah Hidup
    • OCD
    • Psychosis
    • Schizophrenia
    • Sleep Disorder
    • Smoking
    • Substance Abuse
    • Suicide
    • Treatments
  • Link Bantuan

Menghadapi Buntut Pelecehan: Perjalanan Saya Menuju Penyembuhan

August 12, 2024 by editorialteam Sexual Abuse 0 comments

Menghadapi Buntut Pelecehan: Perjalanan Saya Menuju Penyembuhan

Pertama kali saya mencoba bunuh diri, saya berusia tiga belas tahun, dan saya ditinggalkan dengan bekas luka baik secara fisik maupun mental. Bertahun-tahun kemudian, hidup dalam tubuh yang telah bertahan dari banyak percobaan bunuh diri, hatiku berjuang antara menyerah dan mengatasi rasa sakit dari sejarah yang kompleks.

Memproses trauma menjadi semakin kompleks ketika harus berhadapan dengan diagnosis komorbid. Gangguan kepribadian ambang (yaang dipicu dan diperparah oleh pelecehan), ditambah dengan gangguan bipolar dan gangguan skizoafektif, sering membuat saya merasa seolah-olah penyembuhan hampir tidak mungkin. Gejala saya akan membaik – hanya untuk kembali lagi, dan saya akan hancur.

Saat saya mengelola pemulihan saya sendiri, saya telah memikirkan secara mendalam bagaimana trauma terwujud dalam tubuh dan bagaimana orang yang selamat dari pelecehan dan bunuh diri dapat sembuh.

Menghadapi Pelecehan, Trauma dan Stigma

Ketika saya berusia 16 tahun, pelaku kekerasan menyerang saya, menusuk paha kanan saya dan menyebabkan saya kehilangan pendengaran di satu telinga. Setelah bertahun-tahun mengalami kekerasan, saya memutuskan untuk angkat bicara – dan saya mengalami stigma dan ketidakpercayaan yang biasa secaraa langsung dihadapi oleh para penyintas pelecehan. Ketika saya meminta bantuan polisi, mereka menolak untuk mengajukan laporan.
Setahun kemudian, pelaku kekerasan menyerang saya dan mematahkan tulang punggung saya. Sebagai seorang penari, identitas saya, kepribadian saya, serta mobilitas saya dirampok saat saya harus terbaring di tempat tidur selama enam bulan. Saya, sekali lagi, mengalami pengabaian dan upaya untuk mendiskreditkan pengalaman saya. Saya menulis secara detil tentang apa yang terjadi dan membuat postingan media sosial yang mengecam pelaku penyerangan terhadap saya, tetapi saya menerima pelecehan dan ejekan karena tidak “pergi lebih awal” (menyelamatkan diri, menginggalkan sikon berbahaya lebih awal). Pelaku saya, yang melecehkan lebih dari 10 wanita setelah saya, belum pernah dimintai pertanggungjawaban.

Bertahan dari Upaya Bunuh Diri

Saya merasa tersesat, sendirian, kewalahan dan tidak dicintai. Literatur tentang penyembuhan selalu menekankan perawatan diri dan mencintai diri. Tapi bagaimana saya bisa mencintai diri sendiri ketika saya tidak memiliki kesadaran diri? Bagaimana saya bisa mencintai diri sendiri sementara ayunan konstan antara depresi dan mania membuat semangat saya melambung dan hancur? Siapa saya selain menjadi orang yang selamat?

Suatu malam, saya kehilangan kendali, berusaha mati-matian untuk mengisi kekosongan di dalam diri saya. Saya mencoba bunuh diri; Saya benar-benar tidak mengerti mengapa, jika Tuhan memang ada, saya ditempatkan di sini. Siklus manik-depresi yang konstan membuat saya lelah. Beberapa hari, bernapas akan terasa sakit, dan di hari lain, saya bisa menjadi bagian dari sebuah pesta.

Jalan menuju penyembuhan tampak begitu mendung; Saya tidak bisa melihatnya. Dengan lemah saya memberi tahu teman sekamar saya bahwa saya perlu pergi ke ruang gawat darurat. Ketika saya akhirnya dirawat di rumah sakit setempat, setelah empat rumah sakit di kota saya menolak saya karena kasus bunuh diri, dokter mengakui bahwa mereka hampir tidak menemukan denyut nadi saya dan saya beruntung masih hidup.

Saat itulah saya memutuskan bahwa saya menginginkan lebih dari sekadar bertahan hidup; Saya ingin berkembang dan sukses. Proses pemulihan, bagaimanapun, sangat menyiksa, dan saya berjanji pada diri sendiri bahwa ini akan menjadi yang terakhir kalinya saya melukai tubuh saya. Saya ingin memberikan tubuh yang hancur ini cinta yang seharusnya diterimanya namun tidak pernah didapatkan. Saya mengikuti teman sekamar saya pulang, berusaha untuk mengumpulkan potongan-potongan diri saya sendiri.

Pemulihan paska-insiden juga sangat menantang, baik secara emosi maupun fisik saya. Saya mengalami pendarahan internal; saya merasa kesakitan dan menggigil; Saya akan tertawa dan kemudian menangis saat tubuh saya perlahan-lahan membersihkan racun.

Mengatasi Melalui Ekspresi Kreatif dan Solidaritas

Bagi saya, puisi telah menjadi jeda, tempat berlindung – cara untuk menemukan kembali kartu buruk kehidupan yang saya terima. Saat membaca Claudia Rankine, Meena Kandasamy, Sylvia Plath, Ocean Vuong dan banyak penulis lainnya, saya menyadari bahwa rasa sakit saya menemukan rumah di dalamnya. Saya bahkan memperhatikan bahwa beberapa karya seni yang paling kuat — lagu, puisi, buku — adalah karya yang menyakitkan untuk dikonsumsi. Dan kita bahkan mungkin mendapati diri kita terluka setelah menyerap rasa sakit dan kerumitannya. Tapi saya menemukan penghiburan dan keindahan dalam karya seni mereka.
Saat saya memproses trauma saya sendiri, saya juga terinspirasi oleh para wanita yang maju selama gerakan #metoo. Mengungkap pelaku kekerasan telah terbukti menjadi bentuk katarsis yang kuat (walaupun jarang ada penutupan atau pemulihan keadilan bagi para penyintas). Saya dapat memberikan kesaksian atas pengalaman mereka, bahkan ketika masyarakat tidak mengakui kebenarannya.
Saya bahkan memutuskan untuk mengejar karir sebagai terapis, di samping jurnalisme, sehingga saya dapat mempelajari trauma dan kondisi kesehatan mental — dan duduk bersama orang lain yang merasa kosong dan terabaikan.

Menemukan Cara untuk Menyembuhkan

Ketika saya melihat kembali foto-foto diri saya dari saat saya dilecehkan – pipi bengkak, mata memar, bekas luka di sekitar tubuh saya – saya tidak mengenali diri saya ketika masih gadis. Saya mulai memahami bahwa tubuh kita bereaksi terhadap kekerasan dalam banyak cara. Tubuh saya ingin “melupakan” trauma saya, meskipun mekanisme koping ini hanya bertahan saat saya terbangun; alam bawah sadar saya membuat mimpi buruk tentang pengalaman saya sewaktu saya tidur, suatu manifestasi umum dari gangguan stres pasca-trauma (PTSD).
Saya selalu memandang tubuh saya seolah-olah itu adalah entitas yang terpisah dari diri saya. Ini membantu saya memisahkan trauma saya dari kepribadian saya. Disosiasi membantu saya mengatasi trauma saya dengan kecepatan saya sendiri. Pikiran dan alam bawah sadar saya akan mengungkapkan pengalaman saya pada interval yang dapat saya proses. Saya sekarang bekerja untuk mengintegrasikan beberapa bagian yang rusak ini menjadi satu kesatuan yang dapat saya cintai.
Terapis saya pernah menunjukkan kepada saya bahwa mekanisme koping seperti ini dapat dilihat sebagai tidak sehat – tetapi itu juga merupakan alat yang memungkinkan saya bertahan dari sejarah traumatis dan menjadi orang dewasa yang berfungsi.
Menulis, membaca, menyanyi, menari — berhubungan dengan tubuh saya lagi, selangkah demi selangkah — telah menjadi alat paling ampuh yang membantu saya bergerak maju. Saya meminta maaf kepada tubuh saya lagi dan lagi karena telah sangat menyakitinya. Dan saya berterima kasih karena masih bertahan hidup.
Saat saya berproses menuju kesembuhan, saya tahu bahwa suatu hari nanti, kisah saya akan lebih dari sekadar menjadi orang yang selamat. Suatu hari, saya akan merasakan keamanan dan kedamaian. Dan saya akan mengangkat kepala saya tinggi-tinggi dan melawan stigma yang dimuntahkan pada orang-orang seperti saya.

Meghna Prakash adalah seorang penyair, jurnalis, dan terapis dalam pelatihan dari Bengaluru, India. Dia adalah pendiri Poetry Dialogue, dan penulis Trigger Warning.
====================

Dari: www.NAMI.org
Alamat situs: https://www.nami.org/Blogs/NAMI-Blog/January-2023/Facing-the-Aftermath-of-Abuse-My-Ongoing-Journey-Towards-Healing
Judul asli artikel: Facing the Aftermath of Abuse, My Ongoing Journey Towards Healing
Penterjemah: Lily E

Prev

Related Posts

Menghadapi Buntut Pelecehan: Perjalanan Saya Menuju Penyembuhan
August 12, 2024

Pertama kali saya mencoba bunuh diri, saya berusia tiga belas tahun, dan saya...

Learn more
We educate, support, alongside and advocate.

Contact Us

Bandung

C4OMI.Indonesia@gmail.com

0896-7897-8655