logologologo
  • Beranda
  • Tentang
    • Tentang Kami
    • Visi Misi
  • Kisah Hidup
    • Video
    • Kisah Hidup ( Cerita )
      • Kisah Hidup : Depresi
  • Bahan
    • Umum
    • Schizophrenia
    • Schizo Affective Disorder
    • Bipolar Disorder
    • PANS Disorder
    • Borderline Personality Disorder
    • Anosognosia
  • Artikel
    • Anxiety and Stress
    • Autism
    • Anosognosia
    • Eating Disorder
    • General Knowledge
    • Indonesia
    • Kisah Hidup
    • OCD
    • Psychosis
    • Schizophrenia
    • Sleep Disorder
    • Smoking
    • Substance Abuse
    • Suicide
    • Treatments
  • Link Bantuan
  • Beranda
  • Tentang
    • Tentang Kami
    • Visi Misi
  • Kisah Hidup
    • Video
    • Kisah Hidup ( Cerita )
      • Kisah Hidup : Depresi
  • Bahan
    • Umum
    • Schizophrenia
    • Schizo Affective Disorder
    • Bipolar Disorder
    • PANS Disorder
    • Borderline Personality Disorder
    • Anosognosia
  • Artikel
    • Anxiety and Stress
    • Autism
    • Anosognosia
    • Eating Disorder
    • General Knowledge
    • Indonesia
    • Kisah Hidup
    • OCD
    • Psychosis
    • Schizophrenia
    • Sleep Disorder
    • Smoking
    • Substance Abuse
    • Suicide
    • Treatments
  • Link Bantuan
  • Beranda
  • Tentang
    • Tentang Kami
    • Visi Misi
  • Kisah Hidup
    • Video
    • Kisah Hidup ( Cerita )
      • Kisah Hidup : Depresi
  • Bahan
    • Umum
    • Schizophrenia
    • Schizo Affective Disorder
    • Bipolar Disorder
    • PANS Disorder
    • Borderline Personality Disorder
    • Anosognosia
  • Artikel
    • Anxiety and Stress
    • Autism
    • Anosognosia
    • Eating Disorder
    • General Knowledge
    • Indonesia
    • Kisah Hidup
    • OCD
    • Psychosis
    • Schizophrenia
    • Sleep Disorder
    • Smoking
    • Substance Abuse
    • Suicide
    • Treatments
  • Link Bantuan

GANGGUAN OBSESI KOMPULSIF (OCD)

October 24, 2023 by editorialteam OCD 0 comments

GANGGUAN OBSESI KOMPULSIF (OCD)

Gambaran Umum (Overview) 

Obsessive-compulsive disorder (OCD) ditandai dengan pikiran berulang mengganggu yang tidak diinginkan dan tidak rasional untuk melakukan suatu tindakan tertentu. Meskipun mereka yang memiliki OCD menyadari bahwa pikiran dan tindakan mereka tidak wajar, mereka sering tidak mampu menghentikannya. 

Gejala biasanya dimulai saat kanak-kanak, usia remaja dan dewasa. Meskipun pria sering mengalaminya saat remaja dibanding wanita. Di Indonesia sekitar 2-3% orang dewasa mengalami OCD setiap tahun. 

Gejala

Adanya pikiran obsesif yang menggangu dan tindakan berulang/ kompulsif yang tidak wajar yang berlangsung lebih dari 1 jam setiap harinya dan menggangu kegiatan sehari-hari. Mereka dengan OCD menyadari bahwa pikiran tersebut tidak wajar tapi mereka takut kalau-kalau pikiran itu menjadi nyata. Penderita sering menyembunyikan dan memendam pikiran tersebut. 

Contoh pikiran obsesif: 

  • Pikiran menyakiti seseorang 
  • Selalu memastikan berulang apakah sesuatu kegiatan sudah benar dilakukan seperti berulang kali mengecek apakah pintu sudah terkunci atau kompor sudah dimatikan. 
  • Pikiran seksual yang tidak menyenangkan 
  • Ketakutan meneriakkan atau mengatakan suatu hal yang tidak pantas di tempat umum. 

Dorongan untuk melakukan kegiatan mengulang/kompulsif biasanya dilakukan untuk melepaskan sementara stress yang dialami. Mereka yang memiliki OCD sadar bahwa ritual yang dilakukannya kadang tidak wajar tapi mereka tetap terdorong melakukannya supaya mereka merasa lega dan dalam beberapa hal mereka berpikir ritual tersebut bertujuan mencegah hal buruk terjadi. 

Contoh perilaku kompulsif: 

  • Mencuci tangan karena takut bakteri 
  • Berulang menghitung ulang suatu barang 
  • Memerika berulang suatu hal 
  • “Mental checking” yang diikuti dengan pikiran mengganggu juga merupakan bentuk perilaku kompulsif 

Penyebab

Penyebab ppasti dari OCD belum dipahami. Peneliti percaya bahwa kegiatan di bagian otak tertentu yang bertanggungjawab. Lebih spesifiknya, ada bagian di otak yang tidak merespon secara normal terhadap serotonin, zat kimia pada sel saraf yang biasanya dipakai untuk berkomunikasi satu sama lain. Faktor keturunan menjadi salah satu penyebab OCD. Jika orang tua seseorang mempunyai OCD maka 25% kemungkinan anggota keluarga lain memilikinya. 

Diagnosa

Diagnosa OCD bisa dilakukan oleh psikolog. Cek darah pada umumnya bisa dilakukan untuk memastikan bahwa gejala yang terjadi bukan disebabkan oleh pengobatan tertentu atau penyakit dan gangguan mental yang lain. Gejala dadaakan yang muncul pada anak daan orang lebih dewasa memerlukan evaluaasi medis untuk memastikan tak ada penyakit lain sebagai penyebab gejala tersebut. 

Untuk seseorang yang terdiagnosa OCD maka harus memenuhi kriteria:  

  • Adanya perilaku obsesi, kompulsi atau keduanya 
  • Obsesi atau kompulsi yang mengakibatkan kesulitan beraktifitas di pekerjaan, hubungan dan kegiatan sehari hari yang muncul minimal 1 jam setiap harinya.  

Pengobatan

Pengobatan biasanya terdiri dari psikoterapi dan minum obat yang diresepkan atau kombinasi keduanya supaya maksimal. 

  • Obat obatan, khususnya tipe obat anti depresant yang disebut Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI) akan membantu mengurangi gejala.  
  • Psikoterapi bisa membantu mengurangi gejala obsesif dan kompulsif. Secara khusus terapi CBT (Cognitive Behaviour Therapy) dan terapi ERT (Exposure dan Response Therapy) efektif untuk banyak orang. Terapi ERT membantu penderitanya mentoleransi kecemasan yang berhubungan dengan pikiran obsesif. Dalam jangka panjang terapi membantu mengurangi kecemasan dan kemampuan kontrol diri pada penderita  

Meski OCD tidak bisa disembuhkan tapi bisa diobati secara efektif. Silahkan baca lebih lanjut di laman perawatan kami. 

Kondisi Terkait

Ada kondisi yang mempunya karakter serupa dengan OCD tapi merupakan hal yang berbeda, yaitu: 

  • Gangguan Dismorfik Tubuh (BDS – Body Dysmorphic Disorder) 

Gangguan ini ditandai dengan obsesi terhadap penampilan fisik seseorang.  Penderita merasa terganggu jika mendapati adanya ketidak sempurnaan pada penampilan atau bentuk tubuhnya sehingga mengganggu kemampuan penderita untuk hidup normal. Dalam kasus ekstrem, BDS bisa mengakibatkan cedera tubuh yang diakibatkan infeksi karena olahraga yang berlebihan atau operasi plastik yang tidak diperlukan untuk mengubah penampilan. 

  • Gangguan Menimbun Berlebihan (Hoarding Disorder) 

Gangguan gemar menimbun barang karena menganggap barang itu akan berguna dikemudian hari, mengingatkan pada suatu peristiwa atau merasa aman ketika dikelilingi benda benda tersebut. Gangguan ini bisa berdampak negative secara emosi, fisik, sosial dan finansial penderita. Penderita tidak melihat tindakan mereka berbahaya sehingga menolak diobati. 

  • Trichotillomania 

Ada dorongan kompulsif untuk menarik/menjambak (kadang memakan) rambut, bulu mata dan alis penderitanya. Trichotillomania bisa menyebabkan cedera serius, seperti berulang kali melukai tangan dan lengan, menelan rambut sehingga gumpalan rambut tertelan dipencernaan bisa membahayakan jiwa jika tidak diobati. 

Perawatan Diri

OCD bisa menyebabkan gangguan pada pekerjaan, sekolah dan hubungan sehari hari. Dengan mengurangi stress, makan asupan bergizi, menghindari situasi yang menjadi pemicunya akan membantu penderita merasa lebih baik. 

Hal lain yang membantu:

  • Perbanyak wawasan tentang gangguan OCD. Dengan memahami kondisi diri akan memotivasi anda menjalankan terapi dan pengobatan yang tepat. 
  • Bergabung dengan support group. Support group dapat menolong penderita berkenalan dengan orang lain yang memiliki pergumulan yang serupa. 
  • Fokus pada goal Anda. Penyembuhan adalah sebuah proses. Goal yang Anda buat akan membantu Anda tetap termotivasi. 
  • Menyibukan diri. OCD menyebabkan penderitanya selalu ingin melakukan tindakan kompulsif obsesif. Dengan mempunyai kesibukan di pekerjaan, hobi, fitness dan kegiatan lain akan membantu pikiran Anda teralihkan. 
  • Temukan pengalihan yang sehat. Olah raga rutin, makan bergizi dan cukup tidur membawa dampak positif. Juga hindari obat obatan dan alkohol: yang mungkin bisa mengurangi gejala secara sementara, tapi kemudian malah bisa memperburuk keadaan. Infokan ke dokter Anda tentang obat obatan apa saja yang sedang Anda konsumsi untuk menghindari interaksi obat dan peningkatan gejala OCD. 
  • Ketahui pencetus/penyebab OCD. Hindari situasi yang memperparah gejala. Jika Anda tidak bisa menghindarinya, mintalah bantuan dokter Anda untuk mengajarkan cara (coping skill) bagaimana menghadapi hal yang menyebabkan kambuhnya OCD. Cobalah melakukan tehnik kelola stress seperti: meditasi, relaksasi, yoga atau Tai-chi. 

Jika Anda memiliki kondisi kesehatan mental tertentu, pelajari lebih lanjut perihal mengelola kesehtan mental Anda dan menemukan dukungan yang Anda butuhkan. 

Membantu Anggota Keluarga dan Teman memahami OCD.

  • Mengenali gejala OCD. Ini akan membantu kita memahami tingkah laku dan kesulitan yang mereka alami. Foundation OCD Internasional merupakan sumber informasi yaang baik sekitar spektrum OCD, termasuk informasai sekitar penimbunan, BDD dan trikotilomania.  
  • Komunikasi. Bicarakan dengan jujur dan terbuka pada kawan atau keluarga Anda jika Anda memiliki pertanyaan atau prihatin akan suatu hal. Pastikan anggota keluarga dan teman yang terkena OCD siap untuk membicarakan kondisi mereka dan bisa menerima apa yang Anda katakan atau rasakan. 
  • Bersikap sabar. Dengan kesabaran menunjukan bahwa Anda peduli dan memahami mereka. Kesabaran Anda akan membuat penderita OCD bisa melihat situasi mereka jauh ke depan dan bukan hanya berdasarkan kondisi mereka saja. 

 

Diterjemahkan dari: 

Nama situs: www.nami.org  

URL: https://www.nami.org/About-Mental-Illness/Mental-Health-Conditions/Obsessive-compulsive-Disorder  

https://www.nami.org/About-Mental-Illness/Mental-Health-Conditions/Obsessive-compulsive-Disorder/Support  

Judul asli artikel: OBSESSIVE COMPULSIF DISORDER 

Penterjemah: Maylani W 

 

Prev
Next

Related Posts

GANGGUAN OBSESI KOMPULSIF (OCD)
October 24, 2023

Gambaran Umum (Overview)  Obsessive-compulsive disorder (OCD) ditandai dengan...

Learn more
We educate, support, alongside and advocate.

Contact Us

Bandung

C4OMI.Indonesia@gmail.com

0896-7897-8655