11 April 2022
Penulis: Margot Harris
11 April 2022
Penulis: Margot Harris

Pada tahun 2011, saya tidak begitu terkejut ketika kuliah semester pertama, saya didiagnosis dengan gangguan depresi mayor dan gangguan kecemasan umum. Secara umum, saya merasa lega mendapatkan sebuah penjelasan. Diagnosis tersebut menjadi semacam validasi dari malam tanpa tidur, nyeri dada yang tidak dapat dijelaskan, pikiran yang terus berulang tak terkendali, keputusasaan yang menyesakkan dan kelelahan terus-menerus. Ada sebuah nama yang pasti – dan alasan yang jelas – bagi seseorang yang secara gamblang memiliki kehidupan yang baik namun tidak bisa bangun dari tempat tidurnya untuk menghadapi kenyataan setiap hari.
Tetapi ketika saya memeriksa dokumen asuransi (yang ditandai dengan angka-angka tertentu yang sesuai dengan diagnosis) dan mempelajari rincian resep obat tersebut, saya merasakan seolah leher saya tersedak. Saya tidak yakin bagaimana dapat berbagi informasi ini dengan orang-orang terdekat saya. Apakah mereka akan menatap saya secara berbeda? Apakah mereka akan menganggap saya tidak stabil? Atau “gila”?
Teman-teman dan keluarga telah menyatakan keprihatinan tentang perilaku saya pada masa yang lalu – sesak nafas (hiperventilasi), ketakutan terus-menerus akan masa depan, menghabiskan waktu berhari-hari di tempat tidur – tetapi memiliki nama yang pasti untuk perilaku ini berkesan resmi berlebihan. Ada kaitan dengan penyakit (klinis). Bagaimana saya dapat meyakinkan teman, keluarga, calon mitra, guru, atau bos di masa depan bahwa saya dapat dipercaya? Atau mampu? Atau normal?
Untuk mengelola kecemasan dan depresi, saya mulai menghadiri sesi terapi secara teratur dan minum obat setiap hari. Rutinitas ini menyelamatkan nyawa saya; walaupun masalah saya tidak hilang, namun tetiba dapat teratasi. Saya bahkan mengembangkan mekanisme koping khusus untuk mengatasi serangan panik dan mencegah episode depresi agar tidak makin memburuk. Namun, meskipun ada peningkatan yang jelas dalam kehidupan sehari-hari saya, saya merasa malu menyandang label diagnosis tersebut. Wajah saya memerah ketika teman sekamar saya memergoki saya minum obat-obatan di pagi hari, dan saya mendapati diri saya memeriksa jalan di luar kantor terapis saya, merasa takut menjumpai orang yang saya kenal.
Untuk meringankan ketidaknyamanan saya sendiri (dan apa yang saya anggap sebagai ketidaknyamanan orang lain) saya menjelek-jelekkan diri saya sendiri tanpa ampun. Dengan membicarakan masalah tabu secara terbuka di depan orang banyak, saya berpkir bahwa saya sedang melindungi diri saya. Mungkin kata-kata kasar atau pendapat yang tidak diminta tentang kesehatan mental saya akan tidak terlalu menyakitkan jika saya mengatakannya terlebih dahulu. Jadi, saya memastikan untuk menyebut obat yang saya minum setiap hari sebagai “obat gila saya.” Secara konsisten saya menyebut diri saya sebagai mengalami “ketidak-stabilan emosional,” “ketidak-seimbangan substansi kimiawi otak” dan, di baris pembuka perkenalan pada profil aplikasi kencan, “suatu kekacauan yang cantik dan seksi dalam kamus DSM.”
Melontarkan kata-kata sembrono, langsung menyadarkan saya bahwa hal itu tidak membuat saya menjadi lebih baik. Kecemasan saya meningkat ketika saya mencoba membaca ekspresi wajah orang dan menganalisis reaksi mereka secara berlebihan ketika saya menyatakan kondisi kesehatan mental saya. Semakin saya mencoba menepis kecanggungan saya, semakin banyak kesan negatif yang saya dapatkan. Dan tentu saja saya tidak membuat orang lain merasa nyaman. Ketika saya membuat lelucon tentang gangguan kesehatan mental saya, teman dan orang lain yang tidak mengenal saya biasanya hanya menunduk menatap lantai, tidak yakin bagaimana harus meresponi lelucon tersebut.
Selain itu, cara buruk saya dalam mengatasi situasi saya sendiri menyulut mereka yang beritikad buruk untuk menggunakan berbagai istilah ofensif yang sama. Saya terhenyak ketika seorang teman sekelas menyebut rekan kerjanya sebagai “benar-benar gila” dan meringis ketika yang lain bercanda bahwa ibunya perlu “dirawat paksa di RSJ” karena keranjingan mengirimkan pesan SMS setiap hari. Tetapi bagaimana saya bisa mengharapkan mereka untuk berbicara dengan hati-hati atau hormat ketika saya sendiri terus-terusan menyebut diri sebagai “orang gila”?
Setelah beberapa bulan membuat lelucon yang berakibat buruk pada diri saya sendiri (dan, tentu saja, mengakui terus terang semua perilaku ini di dalam terapi), saya menyadari bahwa stigma dan penilaian yang saya takutkan tidak datang dari orang-orang di sekitar saya – itu berasal dari diri saya sendiri. Sindiran ofensif saya untuk mengurangi ketegangan hanya mengabadikan pandangan negatif tentang gangguan kesehatan mental. Hal tersebut menjadikan percakapan yang wajar menjadi canggung dan tegang. Jadi, saya melakukan upaya yang sungguh-sungguh untuk mengubah pendekatan saya.
Saya mulai berbicara terus terang tentang terapi dengan teman-teman saya, bahkan pada saat yang tepat saya berbagi wawasan berharga yang diberikan terapis kepada saya. Akhirnya, saya membagikan banyak masukan yang menjadikan saya sumber inspirasi bagi teman-teman yang membutuhkan berbagai strategi untuk mengelola stres. “Kami bersyukur kepada Tuhan karena terapis Anda,” canda seorang teman. “Dia membuat kehidupan kita semua menjadi lebih baik.”
Saya juga mulai merujuk kepada terapi seperti itu secara spontan dan wajar, sama seperti cara teman-teman saya berbicara tentang berbagai konsultasi medis mereka. Ketika membandingkan jadwal untuk mengatur tamasya kelompok, kami merencanakannya sementara Katy sedang melaksanakan MRI pergelangan tangannya dan saya membuat janji terapi saya. Seiring waktu, kondisi gangguan kesehatan mental saya menjadi hal yang sama dan biasa seperti juga masalah medis yang lainnya.
Bertahun-tahun kemudian, ketika percakapan publik tentang kesehatan mental terus berkembang, banyak dari teman-teman saya telah menjalani terapi mereka juga. Dan sekarang kami berbicara tentang kesehatan mental terasa senyaman berbicara tentang acara TV apa yang kita tonton. Ini adalah satu bagian kecil dari siapa diri kita sesungguhnya – dan itu tidak berhubungan dengan “kegilaan” atau ketidakmampuan, seperti yang pernah saya takutkan.
Meskipun saya sangat beruntung memiliki komunitas yang memahami realitas gangguan kesehatan mental, itu tidak berarti bahwa setiap orang yang saya temui sudah dapat mengatasi stigma yang telah mewabah di masyarakat luas. Terkadang, untuk menghasilkan kemajuan membutuhkan berbagai perbincangan yang sulit.
Mungkin bagian tersulit dalam memerangi stigma adalah melakukan dialog yang sulit dengan mereka yang kita jumpai secara teratur. Namun, saya mendapati bahwa bersikap lembut dan jujur adalah cara yang efektif untuk memulai. Saya terbuka tentang kondisi kesehatan mental saya dan saya senang menjawab pertanyaan yang diajukan orang. Jika saya mendengar seseorang menggunakan kata-kata sembrono seperti yang pernah saya gunakan, saya menggunakan kesempatan tersebut untuk berbagi pengalaman hidup saya.
Perubahan tidak terjadi dalam semalam. Tetapi berkaca ke dalam diri sendiri merupakan langkah awal yang baik untuk memulainya.
Margot Harris adalah Associate Editor Pemasaran dan Komunikasi di NAMI. Dia memiliki MFA dalam penulisan nonfiksi dari Universitas Columbia dan sebelumnya bekerja sebagai reporter budaya digital di Business Insider. Dia tinggal di Washington, DC, dengan anjingnya bernama Lyla, yang mendukungnya secara emosional dan juga dengan sangat energik.
Diterjemahkan dari:
Nama Situs: www.nami.org
URL: https://nami.org/Blogs/NAMI-Blog/April-2022/Fighting-Internalized-Stigma-and-Changing-My-Attitude
Judul asli artikel: Fighting Internalized Stigma and Changing My Attitude
Penterjemah: Eunike, 13 Juni 2023
Diperiksa ulang: Lily Efferin, Markus K. Hidajat
Sementara gangguan identitas disosiatif (DID – Dissociative Identity Disorder)...
Saya hidup dengan psikosis. Gejala gangguan bipolar saya ini berdampak buruk pada...
MAY. 22, 2023 Oleh Molly Dickerson Selama beberapa tahun...
7 April 2017 Penulis: Emily Johnson Saya hidup dengan episode depresi tanpa...
