logologologo
  • Beranda
  • Tentang
    • Tentang Kami
    • Visi Misi
  • Kisah Hidup
    • Video
    • Kisah Hidup ( Cerita )
      • Kisah Hidup : Depresi
  • Bahan
    • Umum
    • Schizophrenia
    • Schizo Affective Disorder
    • Bipolar Disorder
    • PANS Disorder
    • Borderline Personality Disorder
    • Anosognosia
  • Artikel
    • Anxiety and Stress
    • Autism
    • Anosognosia
    • Eating Disorder
    • General Knowledge
    • Indonesia
    • Kisah Hidup
    • OCD
    • Psychosis
    • Schizophrenia
    • Sleep Disorder
    • Smoking
    • Substance Abuse
    • Suicide
    • Treatments
  • Link Bantuan
  • Beranda
  • Tentang
    • Tentang Kami
    • Visi Misi
  • Kisah Hidup
    • Video
    • Kisah Hidup ( Cerita )
      • Kisah Hidup : Depresi
  • Bahan
    • Umum
    • Schizophrenia
    • Schizo Affective Disorder
    • Bipolar Disorder
    • PANS Disorder
    • Borderline Personality Disorder
    • Anosognosia
  • Artikel
    • Anxiety and Stress
    • Autism
    • Anosognosia
    • Eating Disorder
    • General Knowledge
    • Indonesia
    • Kisah Hidup
    • OCD
    • Psychosis
    • Schizophrenia
    • Sleep Disorder
    • Smoking
    • Substance Abuse
    • Suicide
    • Treatments
  • Link Bantuan
  • Beranda
  • Tentang
    • Tentang Kami
    • Visi Misi
  • Kisah Hidup
    • Video
    • Kisah Hidup ( Cerita )
      • Kisah Hidup : Depresi
  • Bahan
    • Umum
    • Schizophrenia
    • Schizo Affective Disorder
    • Bipolar Disorder
    • PANS Disorder
    • Borderline Personality Disorder
    • Anosognosia
  • Artikel
    • Anxiety and Stress
    • Autism
    • Anosognosia
    • Eating Disorder
    • General Knowledge
    • Indonesia
    • Kisah Hidup
    • OCD
    • Psychosis
    • Schizophrenia
    • Sleep Disorder
    • Smoking
    • Substance Abuse
    • Suicide
    • Treatments
  • Link Bantuan

Melampaui Stigma Diri Sejak Masa Mudaku 

July 3, 2023 by editorialteam Bipolar, Kisah Hidup 0 comments

Percaya diri. Kompeten. Jujur. Ekspresif. Pantang Menyerah. 

Ini adalah karakteristik yang saya tentukan sebagai siswa SMU berusia 17 tahun pada tahun 1995. Saya berperan sebagai Anna dalam “The King and I”, lari lintas alam, berpartisipasi dalam band dan paduan suara, dan masih banyak hal lain. 

Kemudian, saya mengalami episode manik, dan hidup saya pun jungkir balik. Saya dirawat di ruang khusus psikiatri, menyatakan untuk pertama kalinya bahwa saya mengalami gangguan kesehatan mental dengan diagnosa: gangguan bipolar. 

Takut. Cemas. Kelu. Menutup diri. Malu. 

Dampak dari episode ini adalah bahwa saya tidak lagi menyadari karakteristik diri saya yang menyatakan kekuatan diri saya, … semuanya hilang sudah, entah kemana perginya ? Dan bagaimana caranya saya dapat menemukannya kembali? 

Selama 20 tahun setelah episode itu, saya berjuang dalam kesunyian dan rasa malu. Saya percaya bahwa, jika mereka tahu, akan ada sebagian dari mereka yang ingin menyakiti saya, menghalangi saya untuk mencapai impian saya dan membatasi saya. 

Pada tahun 2016, saya menemukan NAMI. Pada hari pertama saya di pertemuan kelompok sesama penyandang gangguan kesehatan mental yang dikoordinasi oleh NAMI (Connection Recovery Support Group), saya mengungkapkan bahwa saya menderita gangguan bipolar. Rahasia saya terbongkar. Saya merasa sangat gentar dengan apa yang telah saya lakukan, dan saya terjaga sepanjang malam itu. Saya tidak mempercayai diri saya sendiri, dan saya tidak mempercayai kelompok tersebut. Pada kenyataannya, saya mangkir dari pertemuan kelompok itu selama lima bulan. 

Selama bertahun-tahun, saya menghadapi sikap negatif diri saya (stigma diri) dan pikiran serta perasaan negatif yang dipicu oleh paranoia tentang diri saya dan orang lain. Saya tahu ada hal yang harus berubah, dan itu dimulai dengan menangani stigma diri saya. 

Belajar Percaya Lagi 

Pada tahun 2017, saya mengalami episode kedelapan saya dan tinggal selama dua minggu di ruang khusus psikiatri. Konsekuensinya, saya tidak bisa memercayai Dean, pasangan tercinta saya, ataupun orang tua saya sendiri. Di rumah sakit, saya diberikan obat suntik yang baru, dan pada akhirnya diagnosa yang baru: gangguan skizoafektif, tipe bipolar. Hasil suntikan itu ajaib. Itu mulai meredakan paranoia saya. 

Saya mulai mengatasi paranoia tersebut dan membongkar stigma diri yang selama ini membatasi saya. Saya menghadapi beberapa keyakinan salah yang menyulitkan dan menghalangi terjalinnya hubungan yang baik. Saya menantang diri sendiri untuk menyangkal rekaman (kebohongan) usang yang berputar di kepala saya: “Dia tidak bisa diandalkan… dia lesu dan murung… dia tidak baik-baik saja…” 

Saat sedang meneliti tentang stigma, baru-baru ini saya menemukan sebuah artikel dari American Psychiatric Association yang menyoroti tiga jenis stigma: publik, institusional, dan internalisasi. Semua itu menguras rasa kepercayaan diri kita dan menghalangi kita untuk memanfaatkan kekuatan sejati kita, hal mana tidak seharusnya terjadi seperti itu. Dan sementara kita dapat berupaya menghilangkan stigma tipe eksternal, yang benar-benar dapat kita kendalikan adalah stigma diri (sikap negatif) yang kita internalisasikan (self-imposed stigma) 

Secara alami, banyak dari kita mengkhawatirkan apa yang dipikirkan orang lain, tetapi terlalu sering, kita menginternalisasi ketakutan ini, menghakimi diri kita sendiri, dan memegang erat keyakinan dan emosi yang tidak bermanfaat seperti rasa malu. Dengan menghadapi dan menangani stigma diri saya sendiri, saya menguasai situasi saya. Dengan mengandalkan kekuatan pribadi, saya mulai mengatasi kekhawatiran saya dan mendapatkan kemampuan untuk memercayai diri sendiri. Dengan melakukan hal itu, tak ada satu pun – tidak ada lagi stigma publik maupun stigma institusional – yang dapat menggoyahkan saya. 

Membagikan Pengalaman Saya 

Sebagai akibat dari rangkaian episode dan perasaan sepi dalam kesendirian, saya akhirnya memutuskan untuk menjangkau keluar. Saya membuat daftar orang-orang yang dapat saya percayai untuk membagikan cerita saya dengan aman. Perlahan tapi pasti, saya memperluas lingkaran orang-orang yang saya percayai. Ini termasuk NAMI Connection dan Dewan Direksi NAMI lokal, yang saya ikuti pada tahun 2017. Berbagi cerita membantu saya menghidupkan kisah kesengsaraan dan kemenangan saya. Secara bertahap saya belajar bahwa ada cara lain untuk mengatasi gangguan kesehatan mental. Dengan memercayai dan berbagi kisah pengalaman pribadi saya yang sesungguhnya, saya bahkan menemukan bahwa kisah saya bermanfaat untuk diceritakan. 

Berbagai pertanyaan yang diajukan orang membantu saya untuk lebih saksama memikirkan dan mempertimbangkan pengalaman saya sendiri. Dan saya takjub mendapati bagaimana mereka yang telah mendengar kesaksian hidup saya malah ingin tahu lebih banyak. Mereka benar-benar peduli. Mereka ingin menjadi bagian dari perjalanan hidup saya dan membantu saya untuk sembuh. Saya sangat bersyukur atas semua hubungan yang telah mendukung saya melewati kesulitan. 

Ketika saya melihat ke luar dari diri saya, saya menemukan cinta, rasa hormat, pengertian, rasa ingin tahu, dan kegembiraan dalam berbagi. Bertahun-tahun kemudian, ketika saya menceritakan keterbatasan saya di tempat kerja, saya menemukan dukungan dan keinginan untuk bekerja dengan saya. Saya kembali bisa bersikap terbuka dan jujur lagi, dan ini menyembuhkan saya. 

Berlatih Hadir-Pada-Saat-Ini, Meditasi, dan Memperhatikan–Dengan-Kesadaran-Penuh 

Selama bertahun-tahun, saya telah berlatih hadir-pada-saat-ini, meditasi, dan memperhatikan-dengan-kesadaran-penuh. Saya telah menemukan cara memisahkan diri dari pikiran negatif saya dan tidak melawan emosi saya. Saya telah belajar bahwa berbagai pikiran saya adalah seperti iring-iringan awan yang lewat: Bisa merupakan awan gelap, badai atau sekadar gumpalan awan putih — semua hal itu adalah impersonal (bukan hakikat sifat pribadi saya). 

Saya tidak harus memercayai mereka, dan saya tidak harus terikat dengan mereka. Dan hal yang sama berlaku juga untuk emosi saya. Mereka adalah sekadar beraneka bentuk daya kekuatan sesaat, dan saya tidak perlu mengangkatnya menjadi alasan untuk kisah hidup saya. Dengan berlatih, saya dapat belajar menjadi lebih efektif untuk berdamai dengan berbagai pikiran dan emosi saya. Bahkan selama episode saya, saya telah menerapkan keterampilan saya dan berhasil mengurangi penderitaan saya. 

Menemukan Kehormatan Diriku 

Percaya diri. Kompeten. Jujur. Ekspresif. Pantang Menyerah. Damai. 

Setelah hampir 30 tahun hidup dengan gangguan mental yang berat, saya tidak lagi berusaha menemukan diri saya pada masa yang lalu. Saya telah menemukan rasa hormat bagi diriku, dan dengan demikian saya telah membangun kembali kepercayaan diri saya, dan saya memiliki kemampuan dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Semua keyakinan yang pernah membatasi saya, kini telah mengalami perubahan. Kembalinya saya ke NAMI Connection merupakan tonggak bersejarah. Apa yang saya temukan adalah bahwa stigma diri yang dirasakan sebagai penghalang dapat diatasi oleh kebenaran, cinta, dan kepercayaan. Kekuatan saya terletak pada kemampuan saya untuk mengatasi stigma diri saya. 

Akhirnya, seperti apa yang dikatakan Eckhart Tolle, “Dunia hanya dapat berubah dari dalam.” Saya memiliki kekuatan untuk masuk ke dalam, melampaui hambatan keyakinan dan penilaian diri saya dan mengatasi rasa malu saya. Setelah saya melakukannya, saya tidak peduli lagi tentang stigma institusional dan publik. Saya tak akan pernah menyerah lagi, tapi kali ini bukan dari ego saya, tapi dari dalam kedamaian batin. 

 ————————– 

Farrah Fritz memiliki gelar B.A. dalam Psikologi dan MA dalam Ilmu Pidato, Bahasa dan Ilmu tentang Persepsi Pendengaran dari University of Colorado di Boulder. Dia adalah Wakil Presiden pada Dewan Direksi untuk Afiliasi NAMI di area residensialnya. Dia memberikan penyuluhan ‘NAMI In Our Own Voice’ dan memfasilitasi grup Dukungan ‘ NAMI Connection Recovery Group’. Saat ini Farrah sedang menulis memoar tentang kesehatan mental. Farrah juga seorang pianis dan mengajar kelas Aplikasi Praktis dalam memperhatikan dengan sepenuh kesadaran (Koru Mindfulness) selain bekerja penuh waktu sebagai Supervisor Katering untuk Sodexo French Food Service Company. Dia suka bepergian ke Meksiko dengan pasangan dan sahabat karibnya, Dean, selama hampir 27 tahun. 

Diterjemahkan dari: 

Nama situs: www.nami.org  

URL: https https://www.nami.org/Blogs/NAMI-Blog/May-2023/Transcending-the-Self-Stigma-From-my-Youth  

Judul asli artikel: Transcending the Self-Stigma From my Youth 

Penterjemah: Lily Efferin. 9 Juni 2023 

Prev
Next

Related Posts

MELAWAN STIGMA DALAM DIRI DAN MENGUBAH SIKAP SERTA PERILAKU SAYA
October 10, 2023

11 April 2022 Penulis: Margot HarrisPada tahun 2011, saya tidak begitu...

Learn more
BERJALAN DIATAS RENTANGAN TALI: MENGATASI DEPRESI
July 3, 2023

29 Agustus 2022 Penulis: Heather Loeb Saya sedang berbicara di telepon dengan...

Learn more
Bagaimana Saya Menavigasi Identitas Gender dan Seksualitas dengan Kepribadian Ganda (multiple)
July 3, 2023

Sementara gangguan identitas disosiatif (DID – Dissociative Identity Disorder)...

Learn more
Intervensi Dini Psikosis
October 9, 2023

Saya hidup dengan psikosis. Gejala gangguan bipolar saya ini berdampak buruk pada...

Learn more
We educate, support, alongside and advocate.

Contact Us

Bandung

C4OMI.Indonesia@gmail.com

0896-7897-8655