11 September 2019
Oleh Katherine Ponte, JD, MBA, CPRP
11 September 2019
Oleh Katherine Ponte, JD, MBA, CPRP
Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal mengalami sesuatu krisis kesehatan mental, keinginan mengakhiri hidup atau penyalahgunaan narkoba atau tekanan emosional, hubungi 988 Suicide and Crisis Lifeline (sebelumnya dikenal sebagai National Suicide Prevention Lifeline) dengan menghubungi atau mengirim pesan singkat ke 988 atau menggunakan layanan curhat di suicidepreventionlifeline.org untuk terhubung dengan seorang konselor krisis yang terlatih. Anda juga bisa mendapatkan layanan informasi dan dukungan dengan SMS atau WA melalui Crisis Text Line dengan mengirim pesan ke NAMI ke 741741. (USA)
Untuk Indonesia:

Sejak usia dini, saya didorong oleh berbagai ajaran kesuksesan menurut tradisi: prestasi akademis dan profesional, dan yang terpenting, kekayaan finansial. Sebagai anak dari orang tua imigran, berbagai ajaran ini sangat penting bagi saya. Saya melihat uang sebagai ukuran yang melampaui batasan budaya dan norma. Uang yang cukup akan membuat saya dihargai di keluarga orang tua angkat kami.
Jadi, saya bekerja dengan tekun untuk mencapai impian ini. Saya unggul di sekolah. Saya lulus SMA lebih awal dan menyelesaikan kuliah dan kemudian sekolah hukum. Pertama-tama, saya adalah seorang pengacara, dan kemudian, saya ingin menjadi seorang bankir investasi, sehingga saya dapat memiliki penghasilan yang lebih besar.
Awal karier saya adalah kehidupan kerja dan tidak ada yang lain. Saya dengan bangga bekerja 14-16 jam sehari, termasuk pada akhir pekan. Saya membanggakan bagaimana saya bisa bekerja sepanjang malam. Saya ingin menjadi seorang yang gila kerja. Saya melihat orang lain di bidang yang sama bekerja sama kerasnya dengan saya. Saya mulai percaya bahwa inilah yang dimaksud dengan sukses. Perlahan-lahan, saat saya menjadi lelah karena kehabisan tenaga terus menerus, melihat tahun-tahun masa muda saya berlalu, saya mulai mengubah pandangan saya.
Program MBA saya dan pengalaman awal saya di perbankan khusus untuk konsultasi investasi keuangan hanya memperkuat ketidakpuasan saya. Perasaan saya memaksa saya untuk menghadapi kenyataan dari tujuan karier ini. Sepanjang hidup saya, saya telah bekerja untuk meraih mimpi yang membuat saya sengsara. Ambisi saya ternyata hampa belaka. Dan saya tidak memiliki rencana cadangan, sehingga saya tidak dapat mengalihkan energi saya ke tempat lain. Saya jatuh ke dalam depresi. Semua harapan saya kandas. Kemudian saya mengalami episode manik pertama saya. Episode manik tersebut bersama-sama dengan beberapa episode lainnya di tahun-tahun berikutnya menelan dan membelenggu hidup saya.
Tiba-tiba, saya menjadi “bipolar”. Bagi saya, hal ini tidak ada di dalam kamus sukses saya. Saya mencoba mengabaikan episode manik pertama dan diagnosanya. Saya meyakinkan diri saya sendiri bahwa itu adalah anomali sekali waktu saja dan bukan bagian dari diri saya. Saya menolak untuk menerima gangguan bipolar saya. Penolakan ini akan membawa saya kepada kehancuran.
Saya mulai memercayai berbagai pembatasan yang diproyeksikan masyarakat kepada saya. Saya menerima stigma masyarakat terhadap penyakit mental dan menjadikannya stigma terhadap diri sendiri. Saya tidak lagi percaya bahwa saya dapat mencapai kesuksesan atau memiliki karier yang cemerlang. Saya merasa gagal total, sepertinya saya telah mengecewakan keluarga saya, terutama pasangan dan orang tua saya. Saya malu dan merasa bersalah.
Saya melakukan serangan pencegahan untuk melindungi diri saya dari berbagai reaksi orang lain terhadap diri saya yang “mengalami gangguan”.
Saya mendorong orang-orang untuk menjauh. Saya menolak bantuan. Saya berhenti berkomunikasi dengan pasangan saya. Saya berkomunikasi dengan orang tua saya hanya cukup agar mereka tahu bahwa saya masih hidup. Saya tidak menjawab telepon dari teman-teman. Saya meminta mereka untuk meninggalkan saya sendirian. Itu adalah cara untuk tetap memegang kendali. Saya sepenuhnya menghindar dan mengisolasi diri.
Saya merasa putus asa dan tidak berdaya selama bertahun-tahun. Saya merasa tidak punya alasan untuk hidup. Saya ingin melarikan diri dari rasa sakit dan penderitaan saya. Saya yakin bahwa saya tidak akan pernah bisa mengatasinya. Satu-satunya cara yang terpikirkan untuk mengatasinya adalah mengakhiri hidup saya. Keinginan untuk mengakhiri hidup saya berangsur-angsur meningkat selama bertahun-tahun. Keinginan itu menguasai pikiran dan perasaan saya. Sampai pada titik di mana saya menghabiskan lebih banyak waktu untuk memikirkan berbagai alasan untuk mengakhiri hidup ketimbang untuk hidup.
Rawat inap terakhir saya di rumah sakit karena episode manik membuat saya tersadar. Kebetulan saya belajar tentang dukungan teman sebaya (peer-based support), dan saya melihat berbagai contoh orang lain yang hidup nyaman dengan gangguan kesehatan mental. Orang-orang yang tidak menilai kesuksesan dengan uang, tetapi dengan apa yang membahagiakan mereka. Saya menemukan jaringan teman sebaya, sebuah komunitas, yang beranekaragam dan bersemangat, dan meraih sukses dalam banyak hal. Mereka menginspirasi saya. Mereka membantu saya menemukan arah baru yang memberikan makna dalam hidup saya dan melawan keinginan untuk mengakhiri hidup. Berikut ini adalah tiga prinsip yang saya pelajari selama ini.
Sejak lama telah terbukti bahwa membantu orang lain akan menguntungkan si penerima maupun si pemberi bantuan. Ini adalah filosofi hidup saya sekarang. Setiap hari saya bangun pagi dengan harapan dapat menginspirasi satu orang saja bahwa pemulihan dari gangguan kesehatan mental itu sungguh nyata adanya.
Saya mengembangkan ForLikeMinds dengan tujuan ini. Ini mungkin tidak membuat saya sukses seperti ajaran tradisi yang saya pahami dulu, tapi ini memberi saya kesejahteraan yang tak ternilai. Saya juga senang menjadi sukarelawan di afiliasi NAMI-NYC dan menulis untuk NAMI Blog. Mengetahui bahwa saya berkontribusi untuk membangun pemahaman orang tentang gangguan kesehatan mental dan membantu orang lain serta merta juga sungguh-sungguh menambah makna dalam hidup saya.
Selama bertahun-tahun, saya menjaga jarak dan mengisolasi diri dari keluarga dan teman-teman saya. Saya terlalu tenggelam dalam rasa sakit dan penderitaan saya sendiri untuk menyadari apa yang saya lakukan terhadap orang lain. Saya tidak berbicara dengan beberapa teman saya selama lima tahun atau lebih. Saya tidak pernah menyadari bahwa mereka membutuhkan saya sebanyak saya membutuhkan mereka.
Ketika saya mencapai pemulihan, saya meminta maaf kepada keluarga dan teman-teman saya. Saya menyadari bahwa keluarga saya tidak pernah berhenti mencintai saya. Saya salah jika berpikir sebaliknya. Teman-teman saya fokus pada fakta bahwa saya telah kembali dan bukan mengapa saya menarik diri. Tentu saja, banyak juga teman lama saya yang tidak menerima saya kembali, tetapi para sahabat yang terutama, mereka menerima saya kembali.
Saya tidak akan mengalami periode keinginan untuk mengakhiri hidup sedemikian lama jika saya tidak mengisolasi diri. Ketika saya bangkit dari keinginan untuk mengakhiri hidup dan pulih, saya menyadari arti sebenarnya dari cinta keluarga dan persahabatan yang penuh perhatian. Sekarang saya memelihara dan menghargai mereka, dan mereka menjaga saya agar saya tetap sehat. Mereka lebih penting dari semua yang lainnya.
Butuh waktu lama bagi saya untuk menerima kenyataan bahwa saya mengalami gangguan kesehatan mental—bahwa itu adalah gangguan yang kronis yang tidak akan hilang. Tapi itu juga tidak berarti bahwa saya tidak bisa memiliki kehidupan yang memuaskan. Hal ini membutuhkan banyak penyesuaian, tetapi sangat penting untuk belajar cara hidup nyaman dengan kondisi gangguan kesehatan mental daripada membiarkan pertarungan melawannya membelenggu kehidupan saya.
Saya juga harus lebih memahami berbagai ancaman—terutama keinginan mengakhiri hidup—dari gangguan bipolar dan tidak berpuas diri atau meremehkannya. Saya makin menghargai kesulitan dari gangguan saya dan menjadi lebih bertanggungjawab menghadapinya, seperti memprioritaskan pengobatan.
Saya telah belajar untuk mengubah pikiran untuk mengakhiri hidup menjadi pikiran yang berpengharapan. Saya sekarang dapat mengelola dan mengatasi berbagai pikiran tersebut dan diberdayakan olehnya untuk membantu orang lain. Gangguan kesehatan mental mungkin meminta banyak pengorbanan kita, tetapi perjuangan itu dapat membawa kita untuk makin memahami makna hidup kita. Sekarang, saya memiliki banyak alasan untuk hidup. Saya memiliki harapan untuk dibagikan, dan saya ingin membagikannya dengan sebanyak-banyaknya orang.
Catatan penulis: Saya ingin mendedikasikan artikel blog ini untuk para pasien di unit psikiatri. Setelah keluar dari rumah sakit, pasien dengan gangguan kesehatan mental memiliki risiko mengakhiri hidupnya 100-200 kali lebih besar daripada populasi umum. Saya berharap bahwa di kedalaman rasa sakit dan penderitaan Anda, Anda akan menemukan harapan yang ada di dalam diri Anda untuk mengejar kehidupan yang indah yang sepatutnya bagi kita.
Katherine Ponte adalah seorang advokat kesehatan mental, penulis dan pengusaha. Ia adalah pendiri ForLikeMinds (https://www.forlikeminds.com), komunitas dukungan teman sebaya online pertama yang didedikasikan untuk orang yang hidup dengan atau mendukung seseorang dengan gangguan kesehatan mental, dan Bipolar Thriving (https://www.bipolarthriving.com), sebuah pelayanan pelatihan pemulihan bagi para pengasuh dan kerabat mereka yang terdampak oleh gangguan bipolar. Dia juga pencipta program Kartu Ucapan untuk Unit Psikiatri (https://www.forlikeminds.com/psychwardgreetingcards) di mana dia secara pribadi berbagi pengalaman pemulihannya dan mendistribusikan kartu ucapan yang didonasikan kepada pasien di unit-unit psikiatri. Dia sedang dalam proses pemulihan dari gangguan bipolar berat dengan psikosis. Dia juga menjadi anggota dewan NAMI New York City.
—————————————
Diterjemahkan dari:
Nama Situs: www.nami.org
URL: https://www.nami.org/Blogs/NAMI-Blog/September-2019/Turning-Suicidal-Ideation-into-Hope
Judul Asli: Turning Suicidal Ideation into Hope
Penterjemah: Sigit B Darmawan.
Diedit oleh: Markus K Hidajat (28-07-2023)

Percaya diri. Kompeten. Jujur. Ekspresif. Pantang Menyerah.
Ini adalah karakteristik yang saya tentukan sebagai siswa SMU berusia 17 tahun pada tahun 1995. Saya berperan sebagai Anna dalam “The King and I”, lari lintas alam, berpartisipasi dalam band dan paduan suara, dan masih banyak hal lain.
Kemudian, saya mengalami episode manik, dan hidup saya pun jungkir balik. Saya dirawat di ruang khusus psikiatri, menyatakan untuk pertama kalinya bahwa saya mengalami gangguan kesehatan mental dengan diagnosa: gangguan bipolar.
Takut. Cemas. Kelu. Menutup diri. Malu.
Dampak dari episode ini adalah bahwa saya tidak lagi menyadari karakteristik diri saya yang menyatakan kekuatan diri saya, … semuanya hilang sudah, entah kemana perginya ? Dan bagaimana caranya saya dapat menemukannya kembali?
Selama 20 tahun setelah episode itu, saya berjuang dalam kesunyian dan rasa malu. Saya percaya bahwa, jika mereka tahu, akan ada sebagian dari mereka yang ingin menyakiti saya, menghalangi saya untuk mencapai impian saya dan membatasi saya.
Pada tahun 2016, saya menemukan NAMI. Pada hari pertama saya di pertemuan kelompok sesama penyandang gangguan kesehatan mental yang dikoordinasi oleh NAMI (Connection Recovery Support Group), saya mengungkapkan bahwa saya menderita gangguan bipolar. Rahasia saya terbongkar. Saya merasa sangat gentar dengan apa yang telah saya lakukan, dan saya terjaga sepanjang malam itu. Saya tidak mempercayai diri saya sendiri, dan saya tidak mempercayai kelompok tersebut. Pada kenyataannya, saya mangkir dari pertemuan kelompok itu selama lima bulan.
Selama bertahun-tahun, saya menghadapi sikap negatif diri saya (stigma diri) dan pikiran serta perasaan negatif yang dipicu oleh paranoia tentang diri saya dan orang lain. Saya tahu ada hal yang harus berubah, dan itu dimulai dengan menangani stigma diri saya.
Belajar Percaya Lagi
Pada tahun 2017, saya mengalami episode kedelapan saya dan tinggal selama dua minggu di ruang khusus psikiatri. Konsekuensinya, saya tidak bisa memercayai Dean, pasangan tercinta saya, ataupun orang tua saya sendiri. Di rumah sakit, saya diberikan obat suntik yang baru, dan pada akhirnya diagnosa yang baru: gangguan skizoafektif, tipe bipolar. Hasil suntikan itu ajaib. Itu mulai meredakan paranoia saya.
Saya mulai mengatasi paranoia tersebut dan membongkar stigma diri yang selama ini membatasi saya. Saya menghadapi beberapa keyakinan salah yang menyulitkan dan menghalangi terjalinnya hubungan yang baik. Saya menantang diri sendiri untuk menyangkal rekaman (kebohongan) usang yang berputar di kepala saya: “Dia tidak bisa diandalkan… dia lesu dan murung… dia tidak baik-baik saja…”
Saat sedang meneliti tentang stigma, baru-baru ini saya menemukan sebuah artikel dari American Psychiatric Association yang menyoroti tiga jenis stigma: publik, institusional, dan internalisasi. Semua itu menguras rasa kepercayaan diri kita dan menghalangi kita untuk memanfaatkan kekuatan sejati kita, hal mana tidak seharusnya terjadi seperti itu. Dan sementara kita dapat berupaya menghilangkan stigma tipe eksternal, yang benar-benar dapat kita kendalikan adalah stigma diri (sikap negatif) yang kita internalisasikan (self-imposed stigma)
Secara alami, banyak dari kita mengkhawatirkan apa yang dipikirkan orang lain, tetapi terlalu sering, kita menginternalisasi ketakutan ini, menghakimi diri kita sendiri, dan memegang erat keyakinan dan emosi yang tidak bermanfaat seperti rasa malu. Dengan menghadapi dan menangani stigma diri saya sendiri, saya menguasai situasi saya. Dengan mengandalkan kekuatan pribadi, saya mulai mengatasi kekhawatiran saya dan mendapatkan kemampuan untuk memercayai diri sendiri. Dengan melakukan hal itu, tak ada satu pun – tidak ada lagi stigma publik maupun stigma institusional – yang dapat menggoyahkan saya.
Membagikan Pengalaman Saya
Sebagai akibat dari rangkaian episode dan perasaan sepi dalam kesendirian, saya akhirnya memutuskan untuk menjangkau keluar. Saya membuat daftar orang-orang yang dapat saya percayai untuk membagikan cerita saya dengan aman. Perlahan tapi pasti, saya memperluas lingkaran orang-orang yang saya percayai. Ini termasuk NAMI Connection dan Dewan Direksi NAMI lokal, yang saya ikuti pada tahun 2017. Berbagi cerita membantu saya menghidupkan kisah kesengsaraan dan kemenangan saya. Secara bertahap saya belajar bahwa ada cara lain untuk mengatasi gangguan kesehatan mental. Dengan memercayai dan berbagi kisah pengalaman pribadi saya yang sesungguhnya, saya bahkan menemukan bahwa kisah saya bermanfaat untuk diceritakan.
Berbagai pertanyaan yang diajukan orang membantu saya untuk lebih saksama memikirkan dan mempertimbangkan pengalaman saya sendiri. Dan saya takjub mendapati bagaimana mereka yang telah mendengar kesaksian hidup saya malah ingin tahu lebih banyak. Mereka benar-benar peduli. Mereka ingin menjadi bagian dari perjalanan hidup saya dan membantu saya untuk sembuh. Saya sangat bersyukur atas semua hubungan yang telah mendukung saya melewati kesulitan.
Ketika saya melihat ke luar dari diri saya, saya menemukan cinta, rasa hormat, pengertian, rasa ingin tahu, dan kegembiraan dalam berbagi. Bertahun-tahun kemudian, ketika saya menceritakan keterbatasan saya di tempat kerja, saya menemukan dukungan dan keinginan untuk bekerja dengan saya. Saya kembali bisa bersikap terbuka dan jujur lagi, dan ini menyembuhkan saya.
Berlatih Hadir-Pada-Saat-Ini, Meditasi, dan Memperhatikan–Dengan-Kesadaran-Penuh
Selama bertahun-tahun, saya telah berlatih hadir-pada-saat-ini, meditasi, dan memperhatikan-dengan-kesadaran-penuh. Saya telah menemukan cara memisahkan diri dari pikiran negatif saya dan tidak melawan emosi saya. Saya telah belajar bahwa berbagai pikiran saya adalah seperti iring-iringan awan yang lewat: Bisa merupakan awan gelap, badai atau sekadar gumpalan awan putih — semua hal itu adalah impersonal (bukan hakikat sifat pribadi saya).
Saya tidak harus memercayai mereka, dan saya tidak harus terikat dengan mereka. Dan hal yang sama berlaku juga untuk emosi saya. Mereka adalah sekadar beraneka bentuk daya kekuatan sesaat, dan saya tidak perlu mengangkatnya menjadi alasan untuk kisah hidup saya. Dengan berlatih, saya dapat belajar menjadi lebih efektif untuk berdamai dengan berbagai pikiran dan emosi saya. Bahkan selama episode saya, saya telah menerapkan keterampilan saya dan berhasil mengurangi penderitaan saya.
Menemukan Kehormatan Diriku
Percaya diri. Kompeten. Jujur. Ekspresif. Pantang Menyerah. Damai.
Setelah hampir 30 tahun hidup dengan gangguan mental yang berat, saya tidak lagi berusaha menemukan diri saya pada masa yang lalu. Saya telah menemukan rasa hormat bagi diriku, dan dengan demikian saya telah membangun kembali kepercayaan diri saya, dan saya memiliki kemampuan dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Semua keyakinan yang pernah membatasi saya, kini telah mengalami perubahan. Kembalinya saya ke NAMI Connection merupakan tonggak bersejarah. Apa yang saya temukan adalah bahwa stigma diri yang dirasakan sebagai penghalang dapat diatasi oleh kebenaran, cinta, dan kepercayaan. Kekuatan saya terletak pada kemampuan saya untuk mengatasi stigma diri saya.
Akhirnya, seperti apa yang dikatakan Eckhart Tolle, “Dunia hanya dapat berubah dari dalam.” Saya memiliki kekuatan untuk masuk ke dalam, melampaui hambatan keyakinan dan penilaian diri saya dan mengatasi rasa malu saya. Setelah saya melakukannya, saya tidak peduli lagi tentang stigma institusional dan publik. Saya tak akan pernah menyerah lagi, tapi kali ini bukan dari ego saya, tapi dari dalam kedamaian batin.
————————–
Farrah Fritz memiliki gelar B.A. dalam Psikologi dan MA dalam Ilmu Pidato, Bahasa dan Ilmu tentang Persepsi Pendengaran dari University of Colorado di Boulder. Dia adalah Wakil Presiden pada Dewan Direksi untuk Afiliasi NAMI di area residensialnya. Dia memberikan penyuluhan ‘NAMI In Our Own Voice’ dan memfasilitasi grup Dukungan ‘ NAMI Connection Recovery Group’. Saat ini Farrah sedang menulis memoar tentang kesehatan mental. Farrah juga seorang pianis dan mengajar kelas Aplikasi Praktis dalam memperhatikan dengan sepenuh kesadaran (Koru Mindfulness) selain bekerja penuh waktu sebagai Supervisor Katering untuk Sodexo French Food Service Company. Dia suka bepergian ke Meksiko dengan pasangan dan sahabat karibnya, Dean, selama hampir 27 tahun.
Diterjemahkan dari:
Nama situs: www.nami.org
URL: https https://www.nami.org/Blogs/NAMI-Blog/May-2023/Transcending-the-Self-Stigma-From-my-Youth
Judul asli artikel: Transcending the Self-Stigma From my Youth
Penterjemah: Lily Efferin. 9 Juni 2023
Learn More