logologologo
  • Beranda
  • Tentang
    • Tentang Kami
    • Visi Misi
  • Kisah Hidup
    • Video
    • Kisah Hidup ( Cerita )
      • Kisah Hidup : Depresi
  • Bahan
    • Umum
    • Schizophrenia
    • Schizo Affective Disorder
    • Bipolar Disorder
    • PANS Disorder
    • Borderline Personality Disorder
    • Anosognosia
  • Artikel
    • Anxiety and Stress
    • Autism
    • Anosognosia
    • Eating Disorder
    • General Knowledge
    • Indonesia
    • Kisah Hidup
    • OCD
    • Psychosis
    • Schizophrenia
    • Sleep Disorder
    • Smoking
    • Substance Abuse
    • Suicide
    • Treatments
  • Link Bantuan
  • Beranda
  • Tentang
    • Tentang Kami
    • Visi Misi
  • Kisah Hidup
    • Video
    • Kisah Hidup ( Cerita )
      • Kisah Hidup : Depresi
  • Bahan
    • Umum
    • Schizophrenia
    • Schizo Affective Disorder
    • Bipolar Disorder
    • PANS Disorder
    • Borderline Personality Disorder
    • Anosognosia
  • Artikel
    • Anxiety and Stress
    • Autism
    • Anosognosia
    • Eating Disorder
    • General Knowledge
    • Indonesia
    • Kisah Hidup
    • OCD
    • Psychosis
    • Schizophrenia
    • Sleep Disorder
    • Smoking
    • Substance Abuse
    • Suicide
    • Treatments
  • Link Bantuan
  • Beranda
  • Tentang
    • Tentang Kami
    • Visi Misi
  • Kisah Hidup
    • Video
    • Kisah Hidup ( Cerita )
      • Kisah Hidup : Depresi
  • Bahan
    • Umum
    • Schizophrenia
    • Schizo Affective Disorder
    • Bipolar Disorder
    • PANS Disorder
    • Borderline Personality Disorder
    • Anosognosia
  • Artikel
    • Anxiety and Stress
    • Autism
    • Anosognosia
    • Eating Disorder
    • General Knowledge
    • Indonesia
    • Kisah Hidup
    • OCD
    • Psychosis
    • Schizophrenia
    • Sleep Disorder
    • Smoking
    • Substance Abuse
    • Suicide
    • Treatments
  • Link Bantuan

Psikoterapi

June 24, 2023 by editorialteam Treatments 0 comments

PSIKOTERAPI

Psikoterapi, juga dikenal sebagai “terapi bicara,” adalah ketika seseorang berbicara dengan terapis terlatih di lingkungan yang aman dan rahasia untuk membahas dan memahami perasaan dan perilaku serta mempelajari berbagai ketrampilan untuk menghadapi dan mengatasi masalah (coping skills). 

Selama sesi terapi bicara perorangan, percakapan akan dipandu oleh terapis dan membahas berbagai topik dari masalah pada masa lalu atau saat ini, pengalaman, pemikiran, perasaan atau hubungan yang dialami oleh orang tersebut sementara terapis membantu merangkaikan sehingga bermakna dan memberikan wawasan. 

Berbagai kajian ilmiah telah menunjukkan bahwa psikoterapi perorangan ternyata efektif dalam memperbaiki gejala dalam beragam gangguan mental, membuatnya menjadi pengobatan yang populer dan serbaguna. Ini juga bisa digunakan untuk keluarga, pasangan atau kelompok. Praktik terbaik untuk mengobati banyak ragam kondisi kesehatan mental mencakup perpaduan pengobatan dan terapi. 

Berbagai Jenis Psikoterapi yang Populer

Terapis menawarkan berbagai jenis psikoterapi. Sebagian orang meresponi satu jenis terapi lebih baik daripada yang lain. Karena itu seorang psikoterapis akan mempertimbangkan hal-hal seperti sifat masalah yang ditangani dan kepribadian orang yang diterapi pada saat menentukan perawatan mana yang paling efektif. 

Terapi Perilaku & Kognitif (Cognitive Behavioral Therapy – CBT)

Terapi Perilaku dan Kognitif (CBT) berfokus pada pembahasan hubungan antara pikiran, perasaan, dan perilaku seseorang. Selama CBT, seorang terapis akan secara aktif bekerja dengan orang yang diterapinya untuk mengungkapkan pola pikir yang tidak sehat dan bagaimana hal itu dapat menyebabkan perilaku dan keyakinan yang merusak dirinya (si penderita). 

Dengan menangani berbagai pola tersebut, orang yang diterapi dan terapis dapat bekerja sama untuk mengembangkan cara berpikir konstruktif yang akan menghasilkan perilaku dan keyakinan yang lebih sehat. Misalnya, CBT dapat membantu seseorang mengganti pemikiran yang mengarah pada harga diri yang rendah (“Saya tidak dapat melakukan apa pun dengan benar”) dengan harapan yang positif (“Berdasarkan pengalaman saya sebelumnya, saya kebanyakan bisa melakukan hal ini”). 

Prinsip utama dari CBT adalah mengenali berbagai keyakinan negatif atau salah, kemudian menguji atau merestrukturisasinya. Seringkali seseorang yang dirawat dengan CBT perlu menyelesaikan PR-nya (pekerjaan rumah) di sela-sela sesi, di mana mereka berlatih mengganti pikiran negatif dengan pikiran yang lebih realistis berdasarkan pengalaman sebelumnya atau mencatat pikiran negatif mereka dalam sebuah jurnal. 

Kajian ilmiah tentang CBT telah menunjukkan hal ini sebagai pengobatan yang efektif untuk berbagai macam penyakit mental, termasuk Depresi, Gangguan Kecemasan, Gangguan Bipolar, Gangguan Makan, dan Skizofrenia. Individu yang menjalani CBT menunjukkan perubahan aktivitas otak, menunjukkan bahwa terapi ini berhasil meningkatkan fungsi otak juga. 

Terapi Perilaku Kognitif memiliki sejumlah besar data ilmiah yang mendukung penerapannya dan banyak profesional perawatan kesehatan mental telah terlatih dalam CBT, menjadikannya efektif dan mudah dijangkau. Namun, masih tetap dibutuhkan lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat. 

Terapi Perilaku Dialektis (Dialectical Behavior Therapy - DBT)

Terapi Perilaku Dialektis (DBT) pada awalnya dikembangkan untuk mengobati individu yang memiliki keinginan bunuh diri secara terus menerus disertai Gangguan Kepribadian Ambang (Borderline Personality Disorder – BPD). Seiring waktu, DBT telah diadaptasi untuk mengobati orang yang memiliki dua atau lebih gangguan kesehatan mental yang berbeda, tetapi kebanyakan orang yang dirawat dengan DBT memiliki BPD sebagai diagnosa yang utama. 

DBT terutama berlandaskan pada CBT dengan satu pengecualian besar: DBT mengakui, atau menerima pikiran, perasaan, dan perilaku yang mengganggu alih-alih berjuang keras untuk menolaknya. Dengan membuat seseorang menerima pikiran, emosi, atau perilaku bermasalah yang mengganggu mereka, perubahan tidak lagi tampak mustahil dan mereka dapat bekerja dengan terapis mereka untuk membuat rencana pemulihan secara bertahap. 

Peran terapis dalam DBT adalah membantu orang tersebut menemukan keseimbangan antara penerimaan dan perubahan. Mereka juga membantu orang tersebut mengembangkan keterampilan baru, seperti metode mengatasi masalah dan berlatih memperhatikan, menyadari, dan menerima kenyataan yang ada (mindfulness), sehingga orang tersebut memiliki kekuatan untuk memperbaiki pikiran dan perilakunya yang tidak sehat. Mirip dengan CBT, individu yang menjalani DBT biasanya diminta untuk mempraktikkan metode berpikir dan berperilaku baru ini sebagai PR (pekerjaan rumah) di antara sesi. Meningkatkan strategi untuk mengatasi masalah merupakan aspek penting dari keberhasilan pengobatan DBT. 

Penelitian telah menunjukkan DBT efektif dalam menghasilkan peningkatan yang signifikan dan bertahan lama bagi orang yang mengalami gangguan kesehatan mental. Ini membantu mengurangi frekuensi dan keparahan perilaku berbahaya, menggunakan penguatan positif untuk memotivasi perubahan, menekankan kekuatan individu dan membantu mewujudkan hal-hal yang dipelajari dalam terapi ke dalam kehidupan sehari-hari orang tersebut. 

Terapi Desensitisasi Gerakan Mata dan Menata Ulang (Eye Movement Desensitization and Reprocessing Therapy - EMDR)

Terapi desensitisasi gerakan mata dan penataan ulang (EMDR) digunakan untuk mengobati PTSD. Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa hal itu dapat mengurangi tekanan emosional akibat ingatan – ingatan yang traumatis. 

EMDR menggantikan reaksi emosional negatif terhadap ingatan yang traumatik atau sulit dilupakan dengan reaksi atau keyakinan yang nyaman dan tidak membebani atau positif. Melakukan serangkaian gerakan bola mata bolak-balik secara berulang-ulang selama 20-30 detik dapat membantu individu mengubah reaksi emosional ini. 

Terapis menyebut protokol ini sebagai “stimulasi ganda”. Selama terapi, orang yang sakit merangsang otaknya dengan gerakan bolak-balik bola matanya (atau menggunakan urutan ketukan atau nada musik tertentu). Secara bersamaan, orang tersebut merangsang ingatannya dengan mengingat peristiwa traumatis. Ada kontroversi tentang EMDR—dan apakah manfaatnya berasal dari paparan yang melekat dalam pengobatan atau dari gerakan sebagai aspek penting dari pengobatan. 

Terapi Eksposur / Paparan (Exposure Therapy)

Terapi Eksposur / Paparan adalah jenis terapi perilaku kognitif yang paling sering digunakan untuk mengobati gangguan obsesif-kompulsif/OCD), gangguan stres paska trauma (PTSD), dan fobia. Dalam Terapi Eksposur, individu secara bertahap dan terkontrol diperkenalkan ke situasi atau objek yang menjadi sumber kecemasan mereka, dengan tujuan untuk mengurangi ketakutan dan kecemasan secara bertahap melalui paparan yang berulang.  

Selama perawatan, terapis memandu penderita untuk mengenali pemicu kecemasan mereka dan menolong mereka mempelajari teknik untuk tidak melakukan ritual atau menjadi cemas saat terpapar pada pemicu kecemasan tersebut. Orang tersebut kemudian menghadapi apa pun yang memicu mereka dalam lingkungan yang terkendali di mana mereka dapat berlatih menerapkan strategi ini dengan aman. 

Ada dua metode Terapi Paparan. Yang satu menghadirkan stimulus pemicu dalam jumlah besar sekaligus (“membanjiri”) dan yang lainnya menghadirkan sejumlah kecil stimulus terlebih dahulu dan meningkat seiring waktu (“desensitisasi”). Keduanya membantu orang tersebut belajar bagaimana mengatasi apa yang memicu kecemasan mereka sehingga mereka dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. 

Terapi Interpersonal (Interpersonal Therapy – IPT)

Terapi interpersonal berfokus pada hubungan yang dimiliki seseorang (penyandang Gangguan Kesehatan Mental) dengan orang lain, dengan tujuan meningkatkan keterampilan interpersonal orang tersebut. Dalam bentuk psikoterapi ini, terapis membantu orang mengevaluasi interaksi sosial mereka dan mengenali pola negatif, seperti isolasi sosial atau agresi, dan pada akhirnya membantu mereka mempelajari strategi untuk memahami dan berinteraksi secara positif dengan orang lain. 

Terapi Interpersonal biasanya digunakan untuk mengobati gangguan-gangguan kejiwaan seperti Depresi, Gangguan Kecemasan, Gangguan Makan, dan gangguan kesehatam mental lainnya. Terapi ini membantu individu untuk mengembangkan keterampilan komunikasi yang sehat, memperbaiki hubungan interpersonal, dan meningkatkan dukungan sosial.  

Terapi Berbasis Mentalisasi (Mentalization-Based Therapy – MBT)

Terapi berbasis mentalisasi (MBT), menurut uji klinis secara acak, dapat membawa perbaikan jangka panjang bagi penderita BPD. Terapi Berbasis Mentalisasi biasanya digunakan dalam pengobatan gangguan kepribadian, terutama Gangguan Kepribadian Ambang (BPD), tetapi juga dapat bermanfaat untuk berbagai gangguan seperti gangguan makan, gangguan hubungan interpersonal, dan gangguan kejiwaan lainnya. Terapi ini melibatkan eksplorasi reflektif dan dialog kolaboratif antara terapis dan klien, di mana klien didorong untuk mempertimbangkan dan memahami lebih baik pikiran, perasaan, dan motivasi mereka sendiri serta orang lain. 

Mentalisasi mengacu pada proses intuitif yang membuat kita sadar diri. Ketika orang menyadari dan memahami perasaan dan pikiran batin mereka sendiri, itulah mentalisasi. Orang juga menggunakan mentalisasi untuk memahami perilaku orang lain dan untuk berspekulasi tentang perasaan dan pikiran mereka. Mentalisasi dengan demikian memainkan peran penting dalam membantu kita berhubungan dengan orang lain. 

BPD sering menimbulkan perasaan yang digambarkan sebagai “kekosongan” atau “citra diri yang labil”. Hubungan dengan orang lain juga cenderung tidak stabil. MBT mengatasi kekosongan atau ketidakstabilan ini dengan mengajarkan keterampilan mentalisasi. Teori di balik MBT adalah bahwa orang dengan BPD memiliki kemampuan yang lemah untuk memikirkan tentang diri mereka sendiri, yang menyebabkan perasaan diri yang lemah, terlalu lekat dengan orang lain, dan kesulitan berempati dengan kehidupan batin orang lain. 

Dalam MBT, seorang terapis mendorong klien dengan BPD untuk berlatih mentalisasi, khususnya tentang hubungan saat ini dengan terapis. Karena orang-orang dengan BPD dapat dengan cepat melekat erat dengan terapis, MBT mempertimbangkan hubungan yang erat ini. Dengan menyadari perasaan akrab dalam konteks terapeutik yang aman, seseorang dengan BPD dapat meningkatkan kemampuan mentalisasi dan belajar meningkatkan empati. 

Jadi tujuan dari Terapi Berbasis Mentalisasi adalah untuk membantu individu mengembangkan kemampuan mentalisasi yang lebih baik, sehingga mereka dapat berinteraksi dengan orang lain dengan cara yang lebih sesuai, memperbaiki cara menyelesaikan masalah, dan mengurangi perilaku yang destruktif atau impulsif. Terapi ini dapat membantu individu membangun fondasi yang lebih stabil untuk kehidupan sosial dan emosional yang lebih sehat. 

Dibandingkan dengan bentuk psikoterapi lain seperti CBT, MBT kurang terstruktur dan biasanya bersifat jangka panjang. Teknik ini dapat dilakukan oleh praktisi kesehatan mental umum (non-spesialis) yang diatur secara individual dan juga dalam kelompok. 

Psikoterapi Psikodinamik

Tujuan terapi psikodinamik adalah mengenali pola perilaku dan perasaan negatif yang berakar pada pengalaman masa lalu dan menyelesaikannya. Jenis terapi ini seringkali menggunakan pertanyaan terbuka dan orang meresponsnya secara bebas (free association) sehingga ia berkesempatan untuk membahas apa pun yang ada di pikirannya. Terapis kemudian bekerja dengan orang tersebut untuk menyaring berbagai pikirannya dan mengenali pola perilaku ataupun perasaan negatif yang tidak disadari dan bagaimana hal itu disebabkan atau dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu dan perasaan yang belum terselesaikan. Dengan membawa berbagai responsnya tersebut untuk ia perhatikan dan sadari, ia dapat belajar untuk mengatasi berbagai perilaku dan perasaan yang tidak sesuai yang telah ia timbulkan. 

Terapi psikodinamik sering berguna untuk mengobati depresi, Gangguan Kecemasan, Gangguan Kepribadian Ambang, dan gangguan mental lainnya. 

Hewan Terapi (Therapy Pets)

Meluangkan waktu dengan hewan peliharaan dapat mengurangi berbagai gejala kecemasan, depresi, kelelahan, dan rasa sakit bagi banyak orang. Rumah sakit, panti jompo, dan fasilitas medis lainnya terkadang memanfaatkan dampak tersebut dengan menawarkan hewan terapi. Hewan peliharaan terapi yang terlatih, ditemani oleh pawangnya, dapat menawarkan terapi bantuan hewan yang direncanakan dengan baik atau sekadar mengunjungi orang tersebut untuk memberikan kenyamanan. 

Anjing adalah hewan yang paling populer untuk bekerja sebagai hewan peliharaan terapi, meskipun hewan lain juga dapat berhasil jika mereka jinak dan dapat dilatih. Rumah sakit memanfaatkan hewan peliharaan terapi terutama untuk pasien kanker, penyakit jantung, dan kondisi kesehatan mental. Hanya hewan-hewan peliharaan bersertifikat yang dapat mengunjungi fasilitas medis, yang juga telah memenuhi standar pelatihan yang tinggi dan sehat serta divaksinasi. 

Bagi orang dengan gangguan kesehatan mental, penelitian telah menunjukkan bahwa waktu bersama hewan peliharaan bisa mengurangi tingkat kecemasan lebih dari kegiatan rekreasi lainnya. Hewan peliharaan juga menghadirkan pola interaksi yang tidak menghakimi yang dapat memotivasi dan menyemangati orang, terutama anak-anak. Veteran dengan PTSD juga menganggap hewan peliharaan terapi sangat membantu. 

Sesi dengan hewan peliharaan terapi dan pawangnya mungkin berfokus pada tujuan tertentu seperti mempelajari keterampilan melalui interaksi manusia-hewan. Sebagai alternatif, sekadar hanya meluangkan waktu memegang hewan peliharaan terapi dapat bermanfaat menurunkan tingkat kecemasan. 

Meskipun masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan mengapa terapi hewan adalah efektif, sebuah teori menyatakan bahwa manusia memiliki kesadaran berkembang akan lingkungan alam di sekitarnya, termasuk hewan di sekitarnya. Melihat seekor binatang yang tenang meyakinkan kita bahwa lingkungannya aman, sehingga mengurangi kecemasan dan meningkatkan perasaan tenang kita sendiri. 

Hewan terapi tidak sama dengan hewan penolong, yang menerima tingkat pelatihan yang lebih tinggi dan mempelajari tugas khusus untuk membantu satu orang dalam jangka panjang. Hewan pemandu dianggap sebagai hewan pekerja, bukan hewan peliharaan. Mereka telah menunjukkan tingkat keberhasilan yang menjanjikan dalam membantu orang dengan kondisi gangguan kesehatan mental, khususnya PTSD dan gangguan panik. 

Diterjemahkan dari: 

Nama situs: www.nami.org  

URL: https https://www.nami.org/About-Mental-Illness/Treatments/Psychotherapy  

Judul asli artikel: Treatments / Psychotherapy 

Penterjemah: Lily Efferin 

Prev
Next

Related Posts

MENGUNGKAPKAN KEPADA ORANG LAIN
August 11, 2023

Idealnya, orang-orang di sekitar Anda akan memahami gangguan kesehatan Anda dan...

Learn more
HUBUNGAN ROMANTIS
August 14, 2023

Ketika Anda memiliki masalah kesehatan mental, Anda mungkin bertanya-tanya apakah...

Learn more
MENGELOLA STRESS
August 11, 2023

Setiap orang mengalami stres. Terkadang, hal itu dapat membantu Anda fokus dan...

Learn more
MENCARI BANTUAN PROFESIONAL UNTUK KESEHATAN MENTAL
August 10, 2023

Langkah terpenting dalam merawat kondisi kesehatan mental terkadang terasa...

Learn more
We educate, support, alongside and advocate.

Contact Us

Bandung

C4OMI.Indonesia@gmail.com

0896-7897-8655