Gangguan spektrum autisme (ASD – Autism Spectrum Disorder) adalah kondisi perkembangan yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk bersosialisasi dan berkomunikasi dengan orang lain. Orang dengan ASD juga dapat memiliki pola perilaku, minat, atau aktivitas yang terbatas dan/atau berulang. Istilah “spektrum” mengacu pada tingkat di mana gejala, perilaku, dan tingkat keparahan bervariasi di dalam dan di antara individu. Beberapa orang sedikit terganggu oleh karena gejala yang dialaminya, sementara yang lain mengalami gangguan berat.
Berdasarkan pengawasan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC – Centers for Disease Control and Prevention), rata-rata 1 dari setiap 59 anak berusia 8 tahun di AS menderita ASD. Anak laki-laki empat kali lebih mungkin mengalami gejala ASD daripada anak perempuan. Anak-anak di seluruh kelompok demografis dan sosial ekonomi mengalami ASD.
Data Center for Desease Control and Prevention (CDC, 2018) menyebutkan bahwa prevalensi kejadian penderita ASD meningkat dari 1 per 150 populasi pada tahun 2000 menjadi sebesar 1 per 59 pada tahun 2014. ASD lebih banyak menyerang anak laki-laki, dengan prevalensi 1:37, sedangkan pada anak perempuan 1: 151. Merujuk pada data prevalensi tersebut, Indonesia yang memiliki jumlah penduduk sebesar 237,5 juta dengan laju pertumbuhan penduduk 1,14% diperkirakan memiliki angka penderita ASD sebanyak 4 juta orang. (https://fkkmk.ugm.ac.id/kenali-autisme-sejak-dini/) Direktur Jendral Kesehatan Masyarakat Indonesia menyampaikan, penderita ASD (gangguan spektrum autisme) di Indonesia diperkirakan mengalami peningkatan 500 orang setiap tahunnya. Pada periode 2020-2021, dilaporkan sekitar 5.530 kasus gangguan perkembangan pada anak termasuk ASD mendapatkan layanan di Puskesmas. (https://kesmas.kemkes.go.id/konten/133/0/autisme-a-z-webinar-peringatan-hari-peduli-autisme-sedunia-2022 )
Kesadaran dan metode skrining yang lebih baik telah berkontribusi pada peningkatan diagnosis dalam beberapa tahun terakhir.
