logologologo
  • Beranda
  • Tentang
    • Tentang Kami
    • Visi Misi
  • Kisah Hidup
    • Video
    • Kisah Hidup ( Cerita )
      • Kisah Hidup : Depresi
  • Bahan
    • Umum
    • Schizophrenia
    • Schizo Affective Disorder
    • Bipolar Disorder
    • PANS Disorder
    • Borderline Personality Disorder
    • Anosognosia
  • Artikel
    • Anxiety and Stress
    • Autism
    • Anosognosia
    • Eating Disorder
    • General Knowledge
    • Indonesia
    • Kisah Hidup
    • OCD
    • Psychosis
    • Schizophrenia
    • Sleep Disorder
    • Smoking
    • Substance Abuse
    • Suicide
    • Treatments
  • Link Bantuan
  • Beranda
  • Tentang
    • Tentang Kami
    • Visi Misi
  • Kisah Hidup
    • Video
    • Kisah Hidup ( Cerita )
      • Kisah Hidup : Depresi
  • Bahan
    • Umum
    • Schizophrenia
    • Schizo Affective Disorder
    • Bipolar Disorder
    • PANS Disorder
    • Borderline Personality Disorder
    • Anosognosia
  • Artikel
    • Anxiety and Stress
    • Autism
    • Anosognosia
    • Eating Disorder
    • General Knowledge
    • Indonesia
    • Kisah Hidup
    • OCD
    • Psychosis
    • Schizophrenia
    • Sleep Disorder
    • Smoking
    • Substance Abuse
    • Suicide
    • Treatments
  • Link Bantuan
  • Beranda
  • Tentang
    • Tentang Kami
    • Visi Misi
  • Kisah Hidup
    • Video
    • Kisah Hidup ( Cerita )
      • Kisah Hidup : Depresi
  • Bahan
    • Umum
    • Schizophrenia
    • Schizo Affective Disorder
    • Bipolar Disorder
    • PANS Disorder
    • Borderline Personality Disorder
    • Anosognosia
  • Artikel
    • Anxiety and Stress
    • Autism
    • Anosognosia
    • Eating Disorder
    • General Knowledge
    • Indonesia
    • Kisah Hidup
    • OCD
    • Psychosis
    • Schizophrenia
    • Sleep Disorder
    • Smoking
    • Substance Abuse
    • Suicide
    • Treatments
  • Link Bantuan

Gangguan Schizoafektif

August 2, 2024 by editorialteam schizoaffective disorder 0 comments

Gangguan Schizoafektif

Gambaran Umum (Overview)

Gangguan skizoafektif adalah kondisi kesehatan mental kronis yang ditandai terutama oleh gejala skizofrenia, seperti halusinasi atau delusi, dan gejala gangguan mood, seperti mania dan depresi. 

Banyak orang dengan gangguan skizoafektif sering salah didiagnosa pada awalnya dengan gangguan bipolar atau skizofrenia. Karena gangguan skizoafektif kurang dipelajari dengan baik dibandingkan dengan dua kondisi lainnya, banyak intervensi dipinjam dari pendekatan pengobatan mereka. 

Skizoafektif relatif jarang, dengan prevalensi seumur hidup hanya 0,3%. Pria dan wanita mengalami gangguan skizoafektif pada tingkat yang sama, tetapi pria sering mengalami penyakit ini pada usia lebih dini. Gangguan skizoafektif dapat dikelola secara efektif dengan pengobatan dan terapi. Gangguan penggunaan zat yang terjadi bersamaan merupakan risiko serius dan memerlukan perawatan terpadu. 

Gejala-gejala (Symptom)

Gejala gangguan skizoafektif bisa parah dan perlu dipantau secara ketat. Tergantung pada jenis gangguan mood yang didiagnosa, depresi atau gangguan bipolar, orang akan mengalami gejala yang berbeda:

  • Halusinasi, yaitu melihat atau mendengar hal-hal yang sebenarnya tidak ada.
  • Delusi, yang salah, keyakinan tetap yang dipegang terlepas dari bukti yang kontradiktif.
  • Pemikiran yang tidak teratur. Seseorang dapat beralih dengan sangat cepat dari satu topik ke topik lainnya atau memberikan jawaban yang sama sekali tidak berhubungan.
  • Suasana hati tertekan. Jika seseorang telah didiagnosa dengan gangguan skizoafektif tipe depresif mereka akan mengalami perasaan sedih, hampa, perasaan tidak berharga atau gejala depresi lainnya.
  • Perilaku manik. Jika seseorang telah didiagnosa dengan gangguan skizoafektif: tipe bipolar, mereka akan mengalami perasaan euforia, pikiran yang berpacu, perilaku berisiko yang meningkat, dan gejala mania lainnya.

Penyebab Gangguan

Penyebab pasti gangguan skizoafektif tidak diketahui. Kombinasi penyebab dapat berkontribusi pada perkembangan gangguan skizoafektif.

  • Faktor Genetika. Gangguan skizoafektif cenderung diturunkan dalam keluarga. Ini tidak berarti bahwa jika seorang kerabat sakit, Anda pasti akan mendapatkannya. Tapi itu berarti ada kemungkinan lebih besar Anda terkena penyakit tersebut.
  • Faktor Kimia dan struktur otak. Fungsi dan struktur otak mungkin berbeda dalam pengertian bahwa cara yang baru mulai dipahami sains. Pemindaian otak membantu memajukan penelitian di bidang ini.
  • Faktor Tekanan. Peristiwa stres seperti kematian dalam keluarga, berakhirnya pernikahan atau kehilangan pekerjaan dapat memicu gejala atau timbulnya penyakit.
  • Faktor Penyalahgunaan obat. Obat psikoaktif seperti LSD telah dikaitkan dengan perkembangan gangguan skizoafektif.

Diagnosis

Gangguan skizoafektif bisa sulit didiagnosis karena memiliki gejala skizofrenia dan depresi atau gangguan bipolar. Ada dua jenis utama gangguan skizoafektif: tipe bipolar dan tipe depresi. Untuk dapat didiagnosis dengan gangguan skizoafektif seseorang harus memiliki gejala berikut.

  • Suatu periode di mana ada gangguan mayor suasana hati (major mood disorder), entah depresi atau mania, yang terjadi bersamaan dengan munculnya gejala skizofrenia.
  • Delusi atau halusinasi selama dua minggu atau lebih tanpa adanya episode mood mayor.
  • Gejala yang memenuhi kriteria untuk episode mood utama ada sepanjang sebagian besar total durasi penyakit ini.
  • Tidak ada penyalahgunaan obat-obatan atau pengobatan yang jadi penyebab munculnya gejala-gejala yang ada.

Pengobatan

Gangguan skizoafektif diobati dan dikelola dengan beberapa cara:
• Obat-obatan, termasuk penstabil mood, obat antipsikotik dan antidepresan
• Psikoterapi, seperti terapi perilaku kognitif atau terapi yang berfokus pada keluarga
• Strategi manajemen diri dan pendidikan

Kondisi Terkait

Seseorang dengan gangguan skizoafektif mungkin memiliki kondisi kesehatan mental tambahan:
• Gangguan kecemasan
• Gangguan stres pasca trauma (PTSD)
• Attention-deficit hyperactivity disorder (ADHD)
• Gangguan penggunaan zat / Diagnosis Ganda

Perawatan

Orang dengan gangguan skizoafektif sering diobati dengan kombinasi obat-obatan dan psikoterapi. Seberapa baik pengobatan bekerja tergantung pada jenis gangguan skizoafektif, tingkat keparahan, dan durasinya.

Obat-obatan

Dokter dan profesional kesehatan mental lainnya akan sering meresepkan obat-obatan untuk meredakan gejala psikosis, menstabilkan suasana hati, dan mengobati depresi. Satu-satunya obat yang disetujui FDA untuk mengobati gangguan skizoafektif adalah obat antipsikotik paliperidone (Invega).
Namun, beberapa obat yang disetujui untuk pengobatan kondisi kesehatan mental lainnya mungkin bermanfaat untuk gangguan skizoafektif. Obat-obatan ini meliputi:
• Antipsikotik. Penyedia layanan kesehatan akan meresepkan antipsikotik untuk meredakan gejala psikosis, seperti delusi dan halusinasi.
• Antidepresan. Saat gangguan skizoafektif antidepresan tipe depresif dapat meredakan perasaan sedih, putus asa dan sulit berkonsentrasi.
• Penstabil suasana hati. Ketika gangguan bipolar adalah gangguan suasana hati yang mendasarinya, penstabil suasana hati dapat membantu menstabilkan mood yang pasang surut.

Psikoterapi

Keterlibatan keluarga, strategi psikososial (https://www.nami.org/About-Mental-Illness/Treatments/Psychosocial-Treatments ), dukungan sebaya untuk perawatan diri, psikoterapi dan perawatan terpadu untuk gangguan penggunaan zat yang terjadi bersamaan dapat menjadi bagian dari rencana dukungan individu.
• Terapi perilaku kognitif (CBT) membantu mengubah pemikiran dan perilaku negatif yang terkait dengan perasaan depresi. Tujuan dari terapi ini adalah untuk mengenali pikiran negatif dan mengajarkan strategi koping. Dengan kondisi seperti gangguan skizoafektif yang memiliki gejala psikosis, terapi kognitif tambahan ditambahkan ke CBT dasar (CBTp). CBTp membantu orang mengembangkan strategi mengatasi gejala persisten yang tidak merespons obat.

Pilihan Pengobatan Alternatif

Untuk kasus di mana pengobatan dan psikoterapi tidak bekerja untuk orang dengan gangguan skizoafektif, ECT mungkin perlu dipertimbangkan. ECT melibatkan transmisi impuls listrik pendek ke otak. Meskipun ECT adalah pengobatan yang sangat efektif untuk depresi berat, ini bukanlah pilihan pertama dalam mengobati gangguan skizoafektif.

Pertimbangan Budaya

Penelitian telah menunjukkan bahwa orang Afrika-Amerika dan Latin lebih cenderung salah didiagnosa sebagai gangguan skizoafektif, jadi orang yang telah didiagnosa harus memastikan bahwa profesional kesehatan mental mereka memahami latar belakang mereka dan memneritahukan harapan mereka untuk pengobatan.

Support / Dukungan

Jika Anda atau anggota keluarga atau teman sedang bergumul dengan gangguan skizoafektif, ketahuilah, ada pertolongan. C4OMI (NAMI) hadir untuk memberi dukungan bagi Anda dan keluarga serta informasi tentang sumber daya yang ada di komunitas.
Hubungi konsultasi seputar gangguan kesehatan mental secara online di Indonesia:
• Telepon Kesehatan Jiwa (Kemenkes RI): 500-454
• Layanan Konseling dan Bantuan Psikologi (KemenPPPA): 119
• Halo Kemkes (Kementerian Kesehatan): 1500-567
• Layanan Telepon Konseling 24 Jam (Yayasan Pulih): 0812-1030-0630
• Ruang Obrolan Konseling Psikologi (Yayasan Jangan Bunuh Diri): www.konseling.online

Membantu Diri Sendiri

Jika Anda memiliki gangguan skizoafektif, kondisi tersebut dapat mengendalikan pikiran Anda, mengganggu hubungan dan jika tidak diobati, menyebabkan krisis. Berikut adalah beberapa cara untuk membantu mengelola penyakit Anda.
Tentukan apa penyebab dan pemicu stres Anda. Apakah ada saat-saat tertentu ketika Anda merasa stres? Orang, tempat, pekerjaan, dan bahkan hari libur dapat berperan besar dalam kestabilan suasana hati Anda. Gejala mania dan depresi mungkin muncul perlahan, tetapi mengatasinya lebih awal dapat mencegah episode serius. Perasaan mania mungkin terasa menyenangkan pada awalnya, tetapi bisa berubah menjadi perilaku berbahaya seperti mengemudi secara sembrono, kekerasan, atau hiperseksualitas. Depresi bisa dimulai dengan perasaan lelah dan tidak bisa tidur.
Hindari narkoba dan alkohol. Penggunaan zat dapat mengganggu keseimbangan emosional dan berinteraksi dengan obat-obatan. Depresi maupun mania keduanya membuat narkoba dan alkohol menjadi pilihan menarik untuk membantu Anda “memperlambat” atau “meningkatkan” suasana hati, tetapi potensi kerusakannya dapat menghambat pemulihan Anda.
Tetapkan rutinitas. Berkomitmen pada rutinitas dapat membantu Anda mengambil kendali dan membantu Anda mencegah depresi dan mania mengambil kendali. Misalnya, untuk menjaga agar perubahan energi yang disebabkan oleh depresi dan mania tetap terkendali, berkomitmenlah untuk berada di tempat tidur hanya delapan jam semalam atau lebih dan beraktifitas di luar kamar pada sisa waktu hari itu.
Membentuk hubungan yang sehat. Hubungan dapat membantu menstabilkan suasana hati Anda. Seorang teman yang ramah mungkin mendorong Anda untuk terlibat dalam kegiatan sosial dan mengangkat suasana hati Anda. Seorang teman yang lebih santai dapat memberi Anda ketenangan yang mantap yang dapat membantu menjaga perasaan mania tetap terkendali.
Strategi manajemen diri dan edukasi. Mempelajari strategi untuk mengelola gejala gangguan yang Anda alami sangatlah penting. Strategi mengatasi juga dapat mencakup rehabilitasi kerja-dan-sekolah dan pelatihan keterampilan sosial.
Jika Anda hidup dengan kondisi gangguan kesehatan mental, pelajari lebih lanjut bagaimana mengelola kesehatan mental Anda dan menemukan dukungan yang Anda butuhkan

Membantu Anggota Keluarga atau Teman

Kenali gejala awal. Anda mungkin dapat mencegah episode penyakit yang serius sebelum itu terjadi. Gejala mania dan depresi seringkali memiliki tanda peringatan. Permulaan mania biasanya terasa menyenangkan dan itu berarti anggota keluarga Anda mungkin tidak ingin mencari bantuan. Identifikasi sinyal seperti kurang tidur dan peningkatan kecepaptan berbicara yang menandakan mania yang akan menjelang. Depresi berat seringkali hanya dimulai dengan suasana hati yang buruk, merasa lelah atau sulit tidur.
Komunikasikan. Tidak semua orang senang menghadapi masalah secara langsung, tetapi melakukan hal itu sangat penting untuk komunikasi yang sehat. Luangkan waktu untuk membicarakan masalah, tetapi ketahuilah bahwa tidak pada sembarang waktu tepat. Misalnya, jika anggota keluarga Anda menderita bipolar II dan menjadi marah, mungkin aman untuk mencoba membicarakan situasinya. Tetapi jika teman Anda dengan bipolar I menjadi marah, reaksi Anda mungkin perlu berbeda. Besar kemungkinan kemarahan ini akan berubah menjadi amukan dan jadi berbahaya, termasuk kekerasan fisik.
Bereaksilah dengan tenang dan rasional. Bahkan dalam situasi di mana anggota keluarga atau teman Anda mungkin “lepas kendali”, meluapkan omelan pada Anda atau orang lain, penting untuk tetap tenang. Dengarkan mereka dan buat mereka merasa dimengerti, kemudian arahkan semua upaya menuju hasil yang positif.

Diterjemahkan dari oleh Lily Efferin dari:
Nama situs: www.nami.org
URL: https https://www.nami.org/About-Mental-Illness/Mental-Health-Conditions/Schizoaffective-Disorder
Judul asli artikel: Schizoaffective Disorder.

Prev
Next

Related Posts

Gangguan Schizoafektif
August 2, 2024

Gangguan skizoafektif adalah kondisi kesehatan mental kronis yang ditandai...

Learn more
We educate, support, alongside and advocate.

Contact Us

Bandung

C4OMI.Indonesia@gmail.com

0896-7897-8655