logologologo
  • Beranda
  • Tentang
    • Tentang Kami
    • Visi Misi
  • Kisah Hidup
    • Video
    • Kisah Hidup ( Cerita )
      • Kisah Hidup : Depresi
  • Bahan
    • Umum
    • Schizophrenia
    • Schizo Affective Disorder
    • Bipolar Disorder
    • PANS Disorder
    • Borderline Personality Disorder
    • Anosognosia
  • Artikel
    • Anxiety and Stress
    • Autism
    • Anosognosia
    • Eating Disorder
    • General Knowledge
    • Indonesia
    • Kisah Hidup
    • OCD
    • Psychosis
    • Schizophrenia
    • Sleep Disorder
    • Smoking
    • Substance Abuse
    • Suicide
    • Treatments
  • Link Bantuan
  • Beranda
  • Tentang
    • Tentang Kami
    • Visi Misi
  • Kisah Hidup
    • Video
    • Kisah Hidup ( Cerita )
      • Kisah Hidup : Depresi
  • Bahan
    • Umum
    • Schizophrenia
    • Schizo Affective Disorder
    • Bipolar Disorder
    • PANS Disorder
    • Borderline Personality Disorder
    • Anosognosia
  • Artikel
    • Anxiety and Stress
    • Autism
    • Anosognosia
    • Eating Disorder
    • General Knowledge
    • Indonesia
    • Kisah Hidup
    • OCD
    • Psychosis
    • Schizophrenia
    • Sleep Disorder
    • Smoking
    • Substance Abuse
    • Suicide
    • Treatments
  • Link Bantuan
  • Beranda
  • Tentang
    • Tentang Kami
    • Visi Misi
  • Kisah Hidup
    • Video
    • Kisah Hidup ( Cerita )
      • Kisah Hidup : Depresi
  • Bahan
    • Umum
    • Schizophrenia
    • Schizo Affective Disorder
    • Bipolar Disorder
    • PANS Disorder
    • Borderline Personality Disorder
    • Anosognosia
  • Artikel
    • Anxiety and Stress
    • Autism
    • Anosognosia
    • Eating Disorder
    • General Knowledge
    • Indonesia
    • Kisah Hidup
    • OCD
    • Psychosis
    • Schizophrenia
    • Sleep Disorder
    • Smoking
    • Substance Abuse
    • Suicide
    • Treatments
  • Link Bantuan

Mengubah Keinginan Mengakhiri Hidup Menjadi Harapan Untuk Hidup

October 10, 2023 by editorialteam Bipolar, Bunuh Diri 0 comments

Mengubah Keinginan Mengakhiri Hidup Menjadi Harapan Untuk Hidup

11 September 2019

Oleh Katherine Ponte, JD, MBA, CPRP

Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal mengalami sesuatu krisis kesehatan mental, keinginan mengakhiri hidup atau penyalahgunaan narkoba atau tekanan emosional, hubungi 988 Suicide and Crisis Lifeline (sebelumnya dikenal sebagai National Suicide Prevention Lifeline) dengan menghubungi atau mengirim pesan singkat ke 988 atau menggunakan layanan curhat di suicidepreventionlifeline.org untuk terhubung dengan seorang konselor krisis yang terlatih. Anda juga bisa mendapatkan layanan informasi dan dukungan dengan SMS atau WA melalui Crisis Text Line dengan mengirim pesan ke NAMI ke 741741. (USA)

Untuk Indonesia:

  • Hotline Bunuh diri / darurat Kemenkes RI: 500-454, 119 atau 112
  • LSM Jangan Bunuh Diri: 021-96969293 (atau email: janganbunuhdiri@yahoo.com )
  • Into the Light: Portal Pencegahan Bunuh Diri untuk sumber informasi mengenai pencegahan bunuh diri di Indonesia. https://www.intothelightid.org

Sejak usia dini, saya didorong oleh berbagai ajaran kesuksesan menurut tradisi: prestasi akademis dan profesional, dan yang terpenting, kekayaan finansial. Sebagai anak dari orang tua imigran, berbagai ajaran ini sangat penting bagi saya. Saya melihat uang sebagai ukuran yang melampaui batasan budaya dan norma. Uang yang cukup akan membuat saya dihargai di keluarga orang tua angkat kami.

Jadi, saya bekerja dengan tekun untuk mencapai impian ini. Saya unggul di sekolah. Saya lulus SMA lebih awal dan menyelesaikan kuliah dan kemudian sekolah hukum. Pertama-tama, saya adalah seorang pengacara, dan kemudian, saya ingin menjadi seorang bankir investasi, sehingga saya dapat memiliki penghasilan yang lebih besar.

Awal karier saya adalah kehidupan kerja dan tidak ada yang lain. Saya dengan bangga bekerja 14-16 jam sehari, termasuk pada akhir pekan. Saya membanggakan bagaimana saya bisa bekerja sepanjang malam. Saya ingin menjadi seorang yang gila kerja. Saya melihat orang lain di bidang yang sama bekerja sama kerasnya dengan saya. Saya mulai percaya bahwa inilah yang dimaksud dengan sukses. Perlahan-lahan, saat saya menjadi lelah karena kehabisan tenaga terus menerus, melihat tahun-tahun masa muda saya berlalu, saya mulai mengubah pandangan saya.

Program MBA saya dan pengalaman awal saya di perbankan khusus untuk konsultasi investasi keuangan hanya memperkuat ketidakpuasan saya. Perasaan saya memaksa saya untuk menghadapi kenyataan dari tujuan karier ini. Sepanjang hidup saya, saya telah bekerja untuk meraih mimpi yang membuat saya sengsara. Ambisi saya ternyata hampa belaka. Dan saya tidak memiliki rencana cadangan, sehingga saya tidak dapat mengalihkan energi saya ke tempat lain. Saya jatuh ke dalam depresi. Semua harapan saya kandas. Kemudian saya mengalami episode manik pertama saya. Episode manik tersebut bersama-sama dengan beberapa episode lainnya di tahun-tahun berikutnya menelan dan membelenggu hidup saya.

Dari Mimpi Penuh Ambisi Hingga Keinginan untuk Mengakhiri Hidup

Tiba-tiba, saya menjadi “bipolar”. Bagi saya, hal ini tidak ada di dalam kamus sukses saya. Saya mencoba mengabaikan episode manik pertama dan diagnosanya. Saya meyakinkan diri saya sendiri bahwa itu adalah anomali sekali waktu saja dan bukan bagian dari diri saya. Saya menolak untuk menerima gangguan bipolar saya. Penolakan ini akan membawa saya kepada kehancuran.

Saya mulai memercayai berbagai pembatasan yang diproyeksikan masyarakat kepada saya. Saya menerima stigma masyarakat terhadap penyakit mental dan menjadikannya stigma terhadap diri sendiri. Saya tidak lagi percaya bahwa saya dapat mencapai kesuksesan atau memiliki karier yang cemerlang. Saya merasa gagal total, sepertinya saya telah mengecewakan keluarga saya, terutama pasangan dan orang tua saya. Saya malu dan merasa bersalah.

Saya melakukan serangan pencegahan untuk melindungi diri saya dari berbagai reaksi orang lain terhadap diri saya yang “mengalami gangguan”.

Saya mendorong orang-orang untuk menjauh. Saya menolak bantuan. Saya berhenti berkomunikasi dengan pasangan saya. Saya berkomunikasi dengan orang tua saya hanya cukup agar mereka tahu bahwa saya masih hidup. Saya tidak menjawab telepon dari teman-teman. Saya meminta mereka untuk meninggalkan saya sendirian. Itu adalah cara untuk tetap memegang kendali. Saya sepenuhnya menghindar dan mengisolasi diri.

Saya merasa putus asa dan tidak berdaya selama bertahun-tahun. Saya merasa tidak punya alasan untuk hidup. Saya ingin melarikan diri dari rasa sakit dan penderitaan saya. Saya yakin bahwa saya tidak akan pernah bisa mengatasinya. Satu-satunya cara yang terpikirkan untuk mengatasinya adalah mengakhiri hidup saya. Keinginan untuk mengakhiri hidup saya berangsur-angsur meningkat selama bertahun-tahun. Keinginan itu menguasai pikiran dan perasaan saya. Sampai pada titik di mana saya menghabiskan lebih banyak waktu untuk memikirkan berbagai alasan untuk mengakhiri hidup ketimbang untuk hidup.

Akhirnya Menemukan Harapan Dan Makna

Rawat inap terakhir saya di rumah sakit karena episode manik membuat saya tersadar. Kebetulan saya belajar tentang dukungan teman sebaya (peer-based support), dan saya melihat berbagai contoh orang lain yang hidup nyaman dengan gangguan kesehatan mental. Orang-orang yang tidak menilai kesuksesan dengan uang, tetapi dengan apa yang membahagiakan mereka. Saya menemukan jaringan teman sebaya, sebuah komunitas, yang beranekaragam dan bersemangat, dan meraih sukses dalam banyak hal. Mereka menginspirasi saya. Mereka membantu saya menemukan arah baru yang memberikan makna dalam hidup saya dan melawan keinginan untuk mengakhiri hidup. Berikut ini adalah tiga prinsip yang saya pelajari selama ini.

  1. Kesuksesan karier adalah melakukan sesuatu yang membuat Anda bahagia.

Sejak lama telah terbukti bahwa membantu orang lain akan menguntungkan si penerima maupun si pemberi bantuan. Ini adalah filosofi hidup saya sekarang. Setiap hari saya bangun pagi dengan harapan dapat menginspirasi satu orang saja bahwa pemulihan dari gangguan kesehatan mental itu sungguh nyata adanya.

Saya mengembangkan ForLikeMinds dengan tujuan ini. Ini mungkin tidak membuat saya sukses seperti ajaran tradisi yang saya pahami dulu, tapi ini memberi saya kesejahteraan yang tak ternilai. Saya juga senang menjadi sukarelawan di afiliasi NAMI-NYC dan menulis untuk NAMI Blog. Mengetahui bahwa saya berkontribusi untuk membangun pemahaman orang tentang gangguan kesehatan mental dan membantu orang lain serta merta juga sungguh-sungguh menambah makna dalam hidup saya.

  1. Tidak ada kebahagiaan atau kesuksesan tanpa hubungan yang kuat.

Selama bertahun-tahun, saya menjaga jarak dan mengisolasi diri dari keluarga dan teman-teman saya. Saya terlalu tenggelam dalam rasa sakit dan penderitaan saya sendiri untuk menyadari apa yang saya lakukan terhadap orang lain. Saya tidak berbicara dengan beberapa teman saya selama lima tahun atau lebih. Saya tidak pernah menyadari bahwa mereka membutuhkan saya sebanyak saya membutuhkan mereka.

Ketika saya mencapai pemulihan, saya meminta maaf kepada keluarga dan teman-teman saya. Saya menyadari bahwa keluarga saya tidak pernah berhenti mencintai saya. Saya salah jika berpikir sebaliknya. Teman-teman saya fokus pada fakta bahwa saya telah kembali dan bukan mengapa saya menarik diri. Tentu saja, banyak juga teman lama saya yang tidak menerima saya kembali, tetapi para sahabat yang terutama, mereka menerima saya kembali.

Saya tidak akan mengalami periode keinginan untuk mengakhiri hidup sedemikian lama jika saya tidak mengisolasi diri. Ketika saya bangkit dari keinginan untuk mengakhiri hidup dan pulih, saya menyadari arti sebenarnya dari cinta keluarga dan persahabatan yang penuh perhatian. Sekarang saya memelihara dan menghargai mereka, dan mereka menjaga saya agar saya tetap sehat. Mereka lebih penting dari semua yang lainnya.

  1. Untuk hidup nyaman dengan gangguan kesehatan mental, Anda harus memahami kondisi kesehatan mental Anda.

Butuh waktu lama bagi saya untuk menerima kenyataan bahwa saya mengalami gangguan kesehatan mental—bahwa itu adalah gangguan yang kronis yang tidak akan hilang. Tapi itu juga tidak berarti bahwa saya tidak bisa memiliki kehidupan yang memuaskan. Hal ini membutuhkan banyak penyesuaian, tetapi sangat penting untuk belajar cara hidup nyaman dengan kondisi gangguan kesehatan mental daripada membiarkan pertarungan melawannya membelenggu kehidupan saya.

Saya juga harus lebih memahami berbagai ancaman—terutama keinginan mengakhiri hidup—dari gangguan bipolar dan tidak berpuas diri atau meremehkannya. Saya makin menghargai kesulitan dari gangguan saya dan menjadi lebih bertanggungjawab menghadapinya, seperti memprioritaskan pengobatan.

Saya telah belajar untuk mengubah pikiran untuk mengakhiri hidup menjadi pikiran yang berpengharapan. Saya sekarang dapat mengelola dan mengatasi berbagai pikiran tersebut dan diberdayakan olehnya untuk membantu orang lain. Gangguan kesehatan mental mungkin meminta banyak pengorbanan kita, tetapi perjuangan itu dapat membawa kita untuk makin memahami makna hidup kita. Sekarang, saya memiliki banyak alasan untuk hidup. Saya memiliki harapan untuk dibagikan, dan saya ingin membagikannya dengan sebanyak-banyaknya orang.

Catatan penulis: Saya ingin mendedikasikan artikel blog ini untuk para pasien di unit psikiatri. Setelah keluar dari rumah sakit, pasien dengan gangguan kesehatan mental memiliki risiko mengakhiri hidupnya 100-200 kali lebih besar daripada populasi umum. Saya berharap bahwa di kedalaman rasa sakit dan penderitaan Anda, Anda akan menemukan harapan yang ada di dalam diri Anda untuk mengejar kehidupan yang indah yang sepatutnya bagi kita.

Katherine Ponte adalah seorang advokat kesehatan mental, penulis dan pengusaha. Ia adalah pendiri ForLikeMinds (https://www.forlikeminds.com), komunitas dukungan teman sebaya online pertama yang didedikasikan untuk orang yang hidup dengan atau mendukung seseorang dengan gangguan kesehatan mental, dan Bipolar Thriving (https://www.bipolarthriving.com), sebuah pelayanan pelatihan pemulihan bagi para pengasuh dan kerabat mereka yang terdampak oleh gangguan bipolar. Dia juga pencipta program Kartu Ucapan untuk Unit Psikiatri (https://www.forlikeminds.com/psychwardgreetingcards) di mana dia secara pribadi berbagi pengalaman pemulihannya dan mendistribusikan kartu ucapan yang didonasikan kepada pasien di unit-unit psikiatri. Dia sedang dalam proses pemulihan dari gangguan bipolar berat dengan psikosis. Dia juga menjadi anggota dewan NAMI New York City.

—————————————

Diterjemahkan dari:

Nama Situs: www.nami.org

URL: https://www.nami.org/Blogs/NAMI-Blog/September-2019/Turning-Suicidal-Ideation-into-Hope

Judul Asli: Turning Suicidal Ideation into Hope

Penterjemah: Sigit B Darmawan.

Diedit oleh: Markus K Hidajat (28-07-2023)

Prev
Next

Related Posts

Mengubah Keinginan Mengakhiri Hidup Menjadi Harapan Untuk Hidup
October 10, 2023

11 September 2019 Oleh Katherine Ponte, JD, MBA, CPRPJika Anda atau seseorang...

Learn more
Melampaui Stigma Diri Sejak Masa Mudaku 
July 3, 2023

Percaya diri. Kompeten. Jujur. Ekspresif. Pantang Menyerah.  Ini...

Learn more
We educate, support, alongside and advocate.

Contact Us

Bandung

C4OMI.Indonesia@gmail.com

0896-7897-8655