logologologo
  • Beranda
  • Tentang
    • Tentang Kami
    • Visi Misi
  • Kisah Hidup
    • Video
    • Kisah Hidup ( Cerita )
      • Kisah Hidup : Depresi
  • Bahan
    • Umum
    • Schizophrenia
    • Schizo Affective Disorder
    • Bipolar Disorder
    • PANS Disorder
    • Borderline Personality Disorder
    • Anosognosia
  • Artikel
    • Anxiety and Stress
    • Autism
    • Anosognosia
    • Eating Disorder
    • General Knowledge
    • Indonesia
    • Kisah Hidup
    • OCD
    • Psychosis
    • Schizophrenia
    • Sleep Disorder
    • Smoking
    • Substance Abuse
    • Suicide
    • Treatments
  • Link Bantuan
  • Beranda
  • Tentang
    • Tentang Kami
    • Visi Misi
  • Kisah Hidup
    • Video
    • Kisah Hidup ( Cerita )
      • Kisah Hidup : Depresi
  • Bahan
    • Umum
    • Schizophrenia
    • Schizo Affective Disorder
    • Bipolar Disorder
    • PANS Disorder
    • Borderline Personality Disorder
    • Anosognosia
  • Artikel
    • Anxiety and Stress
    • Autism
    • Anosognosia
    • Eating Disorder
    • General Knowledge
    • Indonesia
    • Kisah Hidup
    • OCD
    • Psychosis
    • Schizophrenia
    • Sleep Disorder
    • Smoking
    • Substance Abuse
    • Suicide
    • Treatments
  • Link Bantuan
  • Beranda
  • Tentang
    • Tentang Kami
    • Visi Misi
  • Kisah Hidup
    • Video
    • Kisah Hidup ( Cerita )
      • Kisah Hidup : Depresi
  • Bahan
    • Umum
    • Schizophrenia
    • Schizo Affective Disorder
    • Bipolar Disorder
    • PANS Disorder
    • Borderline Personality Disorder
    • Anosognosia
  • Artikel
    • Anxiety and Stress
    • Autism
    • Anosognosia
    • Eating Disorder
    • General Knowledge
    • Indonesia
    • Kisah Hidup
    • OCD
    • Psychosis
    • Schizophrenia
    • Sleep Disorder
    • Smoking
    • Substance Abuse
    • Suicide
    • Treatments
  • Link Bantuan

SKIZOFRENIA 

October 6, 2023 by editorialteam Schizophrenia 0 comments

SKIZOFRENIA

Gambaran Umum (Overview)

Skizofrenia adalah penyakit mental serius yang mengganggu kemampuan seseorang untuk berpikir jernih, mengelola emosi, mengambil keputusan, dan berhubungan dengan orang lain. Ini adalah penyakit medis jangka panjang yang kompleks. Prevalensi skizofrenia yang tepat sulit untuk diukur, tetapi perkiraan berkisar antara 0,25% hingga 0,64% orang dewasa AS. Di Indonesia, hasil Riskesdas 2018 juga menyebutkan, prevalensi psikosis sebanyak 6,7 per 1.000 rumah tangga. Artinya, dari 1.000 rumah tangga terdapat 6,7 rumah tangga yang mempunyai anggota penderita psikosis. Sebanyak 84,9 persen penderita penyakit ini telah berobat meskipun sebagian di antaranya tidak meminum obat secara rutin. (https://fk.ui.ac.id/infosehat/aplikasi-untuk-deteksi-dini-psikosis/

https://www.kemkes.go.id/article/view/22101200002/kemenkes-perkuat-jaringan-layanan-kesehatan-jiwa-di-seluruh-fasyankes.html )

Meskipun skizofrenia dapat terjadi pada semua usia, rata-rata usia onset cenderung pada remaja akhir hingga awal 20-an untuk pria, dan akhir 20-an hingga awal 30-an untuk wanita. Skizofrenia jarang didiagnosis pada seseorang yang lebih muda dari 12 tahun atau lebih tua dari 40 tahun. Penyandang Skizofrenia dapat hidup dengan baik.

Gejala

Sulit untuk mendiagnosis skizofrenia pada remaja. Ini dikarenakan tanda-tanda pertama dapat mencakup pergantian teman, penurunan nilai, masalah tidur, dan lekas marah — perilaku remaja yang umum dan tidak spesifik. Faktor lain termasuk mengasingkan diri dan menarik diri dari orang lain, peningkatan pikiran dan kecurigaan yang tidak biasa, dan riwayat psikosis keluarga. Pada orang muda yang mengembangkan skizofrenia, tahap gangguan ini disebut periode “prodromal”.

Dengan kondisi apa pun, penting untuk mendapatkan evaluasi medis yang komprehensif demi mendapatkan diagnosis terbaik. Untuk diagnosis skizofrenia, beberapa gejala berikut muncul dalam konteks penurunan fungsi selama minimal 6 bulan:

Halusinasi. Ini termasuk seseorang yang mendengar suara-suara, melihat sesuatu, atau mencium sesuatu yang tidak dapat dilihat orang lain. Halusinasi sangat nyata bagi orang yang mengalaminya, dan mungkin sangat membingungkan bagi kerabat yang sakit tersebut untuk menyaksikannya. Suara-suara dalam halusinasi bisa menjadi kritis atau mengancam. Suara mungkin melibatkan orang yang dikenal atau tidak dikenal oleh orang yang mendengarnya.

Delusi / Khayalan. Ini adalah keyakinan salah yang tidak berubah bahkan ketika orang yang memegangnya disajikan dengan ide atau fakta baru. Orang yang mengalami waham seringkali juga mengalami gangguan konsentrasi, bingung berpikir, atau merasa pikirannya terhalang.

Gejala negatif adalah gejala yang mengurangi kemampuan seseorang. Gejala negatif sering kali termasuk emosi yang datar atau berbicara dengan cara yang monoton dan terputus-putus. Orang dengan gejala negatif mungkin tidak dapat memulai atau melanjutkan aktivitas, menunjukkan sedikit minat dalam hidup, atau mempertahankan hubungan. Gejala negatif terkadang disalahartikan sebagai depresi klinis.

Masalah kognitif/pemikiran tidak teratur. Orang dengan gejala kognitif dari skizofrenia sering kesulitan mengingat sesuatu, mengatur pikiran, atau menyelesaikan tugas. Umumnya, penderita skizofrenia mengalami anosognosia atau “kurang wawasan”. Ini berarti orang tersebut tidak menyadari bahwa dia mengidap penyakit tersebut, yang dapat membuat perawatan atau bekerja dengannya jauh lebih menantang.

Penyebab

Penelitian menunjukkan bahwa skizofrenia mungkin memiliki beberapa kemungkinan penyebab:

  • Faktor Genetik. Skizofrenia tidak disebabkan hanya oleh satu variasi genetik, tetapi interaksi yang kompleks antara genetika dan pengaruh lingkungan. Keturunan memang memainkan peran yang kuat — kemungkinan Anda mengembangkan skizofrenia lebih dari enam kali lebih tinggi jika Anda memiliki kerabat dekat, seperti orang tua atau saudara kandung, dengan gangguan tersebut.
  • Faktor lingkungan. Paparan virus atau malnutrisi sebelum kelahiran, khususnya pada trimester pertama dan kedua terbukti meningkatkan risiko skizofrenia. Penelitian terbaru juga menunjukkan hubungan antara gangguan autoimun dan perkembangan psikosis.
  • Faktor kimia otak. Masalah dengan bahan kimia otak tertentu, termasuk neurotransmiter yang disebut dopamin dan glutamat, dapat menyebabkan skizofrenia. Neurotransmitter memungkinkan sel-sel otak untuk berkomunikasi satu sama lain. Jaringan neuron kemungkinan juga terlibat.
  • Faktor penggunaan zat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi obat pengubah pikiran selama masa remaja dan dewasa muda dapat meningkatkan risiko skizofrenia. Semakin banyak bukti menunjukkan bahwa mengisap ganja meningkatkan risiko insiden psikotik dan risiko pengalaman psikotik yang berkelanjutan. Semakin muda dan semakin sering digunakan, semakin besar risikonya.

Diagnosis

Mendiagnosa skizofrenia tidaklah mudah. Terkadang penggunaan obat-obatan, seperti metamfetamin atau LSD, dapat menyebabkan seseorang mengalami gejala seperti skizofrenia. Kesulitan mendiagnosa penyakit ini diperparah dengan kenyataan bahwa banyak orang yang didiagnosa tidak percaya bahwa mereka mengidapnya. Kurangnya kesadaran adalah gejala umum orang yang didiagnosis menderita skizofrenia dan sangat mempersulit pengobatan. 

Meskipun tidak ada satu pun tes fisik atau laboratorium yang dapat mendiagnosa skizofrenia, penyedia layanan kesehatan yang mengevaluasi gejala dan perjalanan penyakit seseorang selama enam bulan dapat membantu memastikan diagnosis yang benar. Penyedia layanan kesehatan harus mengesampingkan faktor lain seperti tumor otak, kemungkinan kondisi medis dan diagnosis psikiatri lainnya, seperti gangguan bipolar. 

Untuk dapat didiagnosa menderita skizofrenia, seseorang harus memiliki dua atau lebih gejala berikut yang terjadi secara terus-menerus dalam konteks penurunan fungsi: 

  • Delusi / Khayalan 
  • Halusinasi 
  • Pembicaraan tidak teratur 
  • Perilaku tidak teratur atau katatonik 
  • Gejala negatif 

Delusi atau halusinasi saja seringkali cukup untuk mengarah pada diagnosis skizofrenia. Mengidentifikasinya sedini mungkin sangat meningkatkan peluang seseorang untuk mengelola penyakit, mengurangi episode psikotik, dan pulih. Orang yang menerima perawatan yang baik selama episode psikotik pertama, mereka akan lebih jarang dirawat di rumah sakit, dan mungkin membutuhkan lebih sedikit waktu untuk mengendalikan gejala daripada mereka yang tidak menerima pertolongan segera. Literatur tentang peran obat-obatan pada awal pengobatan sedang terus berkembang, tetapi kita tahu bahwa psikoterapi sangat penting. 

Orang dapat menggambarkan gejala dalam berbagai cara. Bagaimana seseorang menggambarkan gejala seringkali bergantung pada lensa budaya yang dilihatnya. Orang Afrika-Amerika dan Latin lebih cenderung salah didiagnosa, berpotensi karena perbedaan perspektif budaya atau hambatan struktural. Setiap orang yang telah didiagnosis menderita skizofrenia harus mencoba bekerja dengan profesional perawatan kesehatan yang memahami latar belakang budayanya dan memiliki harapan yang sama untuk pengobatan. 

Pengobatan

Tidak ada obat untuk skizofrenia, tetapi penyakit ini dapat diobati dan ditangani dengan beberapa cara. 

  • Obat-obatan antipsikotik 
  • Psikoterapi, seperti terapi perilaku kognitif (CBT) dan terapi komunitas asertif (ACT) dan terapi suportif 
  • Strategi manajemen diri dan pendidikan 

Kondisi Terkait 

Orang dengan skizofrenia mungkin memiliki penyakit tambahan. Di antaranya termasuk: 

  • Gangguan penggunaan zat/ Diagnosis Ganda 
  • Gangguan stres pasca trauma (PTSD) 
  • Gangguan obsesif-kompulsif (OCD) 
  • Gangguan depresi mayor 

Berhasil mengobati schizohprenia hampir selalu berdampak terjadinya perbaikan dalam penyakit terkait tersebut. Dan keberhasilan pengobatan penyalahgunaan zat, PTSD atau OCD biasanya memperbaiki gejala skizofrenia. 

PERAWATAN 

Dengan pengobatan, rehabilitasi psikososial, dan dukungan keluarga, gejala skizofrenia dapat dikurangi. Orang dengan skizofrenia harus mendapatkan pengobatan segera setelah gejala penyakit mulai muncul, karena deteksi dini dapat mengurangi keparahan gejalanya. 

Pemulihan sementara hidup dengan skizofrenia sering terlihat dari waktu ke waktu, dan melibatkan berbagai faktor termasuk belajar mandiri, dukungan teman sebaya, sekolah dan pekerjaan serta menemukan dukungan dan pengobatan yang tepat. 

Pengobatan

Biasanya, penyedia layanan kesehatan akan meresepkan antipsikotik untuk meredakan gejala psikosis, seperti delusi dan halusinasi. Karena kurangnya kesadaran akan suatu penyakit dan efek samping yang serius dari pengobatan yang digunakan untuk mengobati skizofrenia, orang yang telah diresepkan obat seringkali ragu untuk meminumnya. 

Antipsikotik Generasi Pertama (khas). 

Obat-obatan ini dapat menyebabkan masalah gerakan serius yang dapat bersifat jangka pendek (distonia) atau jangka panjang (disebut tardive dyskinesia), dan juga kekakuan otot. Efek samping lain juga bisa terjadi. 

  • Klorpromazin (Thorazine) 
  • Flufenazin (Proxlixin) 
  • Haloperidol (Haldol) 
  • Loxapine (Loxitane) 
  • Perpenazina (Trilafon) 
  • Thiothixene (Navana) 
  • Trifluoperazin (Stelazina) 

Antipsikotik Generasi Kedua (atipikal). 

Obat-obatan ini disebut atipikal karena kemungkinan lebih rendah untuk menghambat dopamin dan menyebabkan gangguan gerakan. Namun, mereka meningkatkan risiko kenaikan berat badan dan diabetes. Perubahan dalam pola makan dan olahraga, serta kemungkinan intervensi obat, dapat membantu mengatasi efek samping ini. 

  • Aripiprazole (Abilify) 
  • Asenapin (Saphris) 
  • Clozapin (Clozaril) 
  • Iloperidone (Fanapt) 
  • Lurasidon (Latuda) 
  • Olanzapine (Zyprexa) 
  • Paliperidone (Invega) 
  • Risperidon (Risperdal) 
  • Quetiapine (Seroquel) 
  • Ziprasidon (Geodon) 

Satu obat antipsikotik generasi kedua yang unik disebut clozapine. Ini adalah satu-satunya obat antipsikotik yang disetujui FDA untuk pengobatan skizofrenia refraktori dan telah menjadi satu-satunya yang diindikasikan untuk mengurangi pikiran untuk bunuh diri. Namun, itu memang memiliki banyak risiko medis selain manfaat ini. 

Psikoterapi

Terapi perilaku kognitif (CBT – Cognitive Behavior Therapy) adalah pengobatan yang efektif untuk beberapa orang dengan gangguan afektif. Dengan kondisi yang lebih serius, termasuk mereka yang memiliki psikosis, terapi kognitif tambahan ditambahkan ke CBT dasar (CBTp). CBTp membantu orang mengembangkan strategi mengatasi gejala persisten yang tidak merespon terhadap obat. 

Psikoterapi suportif digunakan untuk membantu seseorang memproses pengalamannya dan memberikan dukungan dalam menghadapi kehidupan dengan skizofrenia. Ini tidak dirancang untuk mengungkap pengalaman masa kanak-kanak atau mengaktifkan pengalaman traumatis, tetapi lebih terfokus pada saat ini dan di sini. 

Terapi Peningkatan Kognitif (CET – Cognitive Enhancement Therapy) berfungsi untuk meningkatkan fungsi kognitif dan kepercayaan diri pada kemampuan kognitif seseorang. CET melibatkan kombinasi pelatihan otak berbasis komputer dan sesi kelompok. Ini adalah area penelitian yang sedang aktif di bidang ini saat ini. 

Perawatan Psikososial

Orang yang terlibat dalam intervensi terapeutik sering melihat peningkatan, dan mengalami stabilitas mental yang lebih besar. Perawatan psikososial memungkinkan orang untuk mengkompensasi atau menghilangkan hambatan yang disebabkan oleh skizofrenia mereka dan belajar untuk hidup dengan sukses. Jika seseorang berpartisipasi dalam rehabilitasi psikososial, dia lebih mungkin untuk terus minum obatnya dan kecil kemungkinan kambuhnya. Beberapa perawatan psikososial yang lebih umum meliputi: 

  • Assertive Community Treatment (ACT) menyediakan perawatan komprehensif bagi penderita Gangguan Kesehatan Mental yang berat, seperti skizofrenia. Tidak seperti program berbasis komunitas lain yang menghubungkan orang dengan kesehatan mental atau layanan lain, ACT memberikan layanan yang sangat individual secara langsung kepada orang dengan penyakit mental. Profesional bekerja dengan penderita skizofrenia dan membantu mereka menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari. Profesional ACT juga menangani masalah secara proaktif, mencegah krisis, dan memastikan obat diminum. 
  • Kelompok dukungan sebaya seperti C4OMI (NAMI) Peer-to-Peer mendorong keterlibatan orang dalam pemulihan mereka dengan membantu mereka mengembangkan keterampilan sosial dengan orang lain. 

Pendekatan Kesehatan Pelengkap

Pendekatan komplementer dan alternatif kesehatan termasuk akupunktur, meditasi, dan intervensi nutrisi dapat menjadi bagian dari rencana perawatan yang komprehensif. Misalnya, asam lemak Omega-3, yang biasa ditemukan dalam minyak ikan, telah menunjukkan harapan menjanjikan untuk mengobati dan mengatasi skizofrenia. Beberapa peneliti percaya bahwa omega-3 dapat membantu mengobati penyakit mental karena kemampuannya membantu memulihkan neuron dan koneksi di area otak yang terdampak. 

Kekhawatiran Tambahan

Kesehatan fisik. Orang dengan skizofrenia tunduk pada banyak risiko medis, termasuk diabetes dan masalah kardiovaskular, serta merokok dan penyakit paru-paru. Untuk alasan ini, perhatian yang terkoordinasi dan aktif terhadap risiko medis sangat penting. 

Penggunaan Zat. Orang dengan skizofrenia berisiko lebih tinggi untuk menyalahgunakan obat-obatan atau alkohol. Penggunaan zat dapat membuat perawatan untuk skizofrenia menjadi kurang efektif, membuat orang cenderung tidak mengikuti rencana perawatan mereka, dan bahkan memperburuk gejalanya. 

 

SUPPORT 

Mengatasi skizofrenia tidaklah mudah. Tetapi jika Anda atau anggota keluarga atau teman sedang berjuang, tersedia bantuan. Afiliasi C4OMI dan C4OMI hadir untuk memberi dukungan bagi Anda dan keluarga Anda serta informasi tentang sumber daya komunitas.  

Hubungi KPSI (Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia): https://skizofrenia.org/layanan/    

Hotline Kemenkes RI: 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak: kontak@kemkes.go.id     

Atau info@nami.org (info@c4omi.org) jika Anda memiliki pertanyaan tentang skizofrenia atau mencari dukungan dan sumber daya. 

Membantu Diri Sendiri

Jika Anda menderita skizofrenia, kondisi tersebut dapat mengendalikan pikiran Anda, mengganggu fungsi dan jika tidak diobati, menyebabkan krisis. Berikut adalah beberapa cara untuk membantu mengelola penyakit Anda. 

  • Kelola Stres. Stres dapat memicu psikosis dan memperburuk gejala skizofrenia, jadi sangat penting untuk mengendalikannya. Ketahui batasan Anda, baik di rumah maupun di tempat kerja atau sekolah. Jangan mengambil lebih dari yang bisa Anda tangani dan luangkan waktu untuk diri sendiri jika Anda merasa kewalahan. 
  • Cobalah untuk banyak tidur. Saat Anda menjalani pengobatan, kemungkinan besar Anda membutuhkan lebih banyak tidur daripada delapan jam standar. Banyak orang dengan skizofrenia mengalami kesulitan tidur, tetapi perubahan gaya hidup seperti berolahraga secara teratur dan menghindari kafein dapat membantu. 
  • Hindari alkohol dan obat-obatan. Penggunaan zat mempengaruhi manfaat pengobatan dan memperburuk gejala. Jika Anda memiliki masalah penggunaan zat, carilah bantuan. 
  • Pertahankan koneksi. Memiliki teman dan keluarga yang terlibat dalam rencana perawatan Anda dapat membantu pemulihan. Orang yang hidup dengan skizofrenia sering mengalami kesulitan dalam situasi sosial, jadi mengelilingi diri Anda dengan orang-orang yang memahami hal ini dapat membuat transisi kembali ke kehidupan sosial sehari-hari menjadi lebih lancar. Jika Anda merasa mampu, pertimbangkan untuk bergabung dengan kelompok pendukung skizofrenia atau terlibat dengan gereja lokal, klub, atau organisasi lain. 

 

Jika Anda hidup dengan kondisi kesehatan mental, pelajari lebih lanjut tentang mengelola kesehatan mental Anda dan temukan dukungan yang Anda butuhkan.

bdk. https://www.nami.org/Your-Journey/Individuals-with-Mental-Illness  

Membantu Anggota Keluarga atau Teman

Mempelajari tentang psikosis dan skizofrenia akan membantu Anda memahami apa yang teman atau anggota keluarga Anda alami dan coba atasi. Hidup dengan skizofrenia itu menantang. Berikut beberapa cara untuk menunjukkan dukungan: 

  • Tanggapi dengan tenang. Bagi orang kerabat Anda, halusinasinya itu tampak nyata, jadi tidak ada gunanya mengatakan bahwa itu hanya khayalan. Jelaskan dengan tenang bahwa Anda melihat sesuatu secara berbeda. Bersikap hormat tanpa mentolerir perilaku berbahaya atau tidak pantas. 
  • Perhatian pada pemicunya. Anda dapat membantu anggota keluarga atau teman Anda memahami, dan mencoba menghindari, situasi yang memicu gejalanya atau menyebabkan kekambuhan atau mengganggu aktivitas normalnya. 
  • Bantu memastikan obat diminum sesuai resep. Banyak orang mempertanyakan apakah mereka masih memerlukan obat ketika mereka sudah merasa lebih baik, atau jika mereka tidak menyukai efek sampingnya. Dorong kerabat yang Anda kasihi untuk meminum obatnya secara teratur demi mencegah gejala kembali atau memburuk. 
  • Memahami kurangnya kesadaran (anosognosia). Anggota keluarga atau teman Anda mungkin tidak dapat melihat bahwa dia menderita skizofrenia. Daripada mencoba meyakinkan orang yang mengidap skizofrenia, Anda dapat menunjukkan dukungan dengan membantunya merasa aman, mendapatkan terapi, dan minum obat yang diresepkan. 
  • Membantunya menghindari obat-obatan atau alkohol. Zat-zat tersebut diketahui dapat memperburuk gejala skizofrenia dan memicu psikosis. Jika orang yang Anda cintai mengalami gangguan penggunaan zat, mendapatkan bantuan sangatlah penting. 

 

Section

Cari tahu lebih lanjut tentang merawat anggota keluarga atau teman Anda dan diri Anda sendiri. (https://www.nami.org/Your-Journey/Family-Members-and-Caregivers ) 

  • Intervensi Dini Psikosis
  • Melampaui Stigma Diri Sejak Masa Mudaku
  • Mengatasi Skizofrenia di Restoran yang Ramai

Diterjemahkan dari oleh Lily Efferin (13 Juni 2023) dari: 

Nama situs: www.nami.org  

URL: https https://www.nami.org/About-Mental-Illness/Mental-Health-Conditions/Schizophrenia  

Judul asli artikel: Schizophrenia 

Prev
Next

Related Posts

SKIZOFRENIA 
October 6, 2023

Skizofrenia adalah penyakit mental serius yang mengganggu kemampuan seseorang...

Learn more
We educate, support, alongside and advocate.

Contact Us

Bandung

C4OMI.Indonesia@gmail.com

0896-7897-8655