logologologo
  • Beranda
  • Tentang
    • Tentang Kami
    • Visi Misi
  • Kisah Hidup
    • Video
    • Kisah Hidup ( Cerita )
      • Kisah Hidup : Depresi
  • Bahan
    • Umum
    • Schizophrenia
    • Schizo Affective Disorder
    • Bipolar Disorder
    • PANS Disorder
    • Borderline Personality Disorder
    • Anosognosia
  • Artikel
    • Anxiety and Stress
    • Autism
    • Anosognosia
    • Eating Disorder
    • General Knowledge
    • Indonesia
    • Kisah Hidup
    • OCD
    • Psychosis
    • Schizophrenia
    • Sleep Disorder
    • Smoking
    • Substance Abuse
    • Suicide
    • Treatments
  • Link Bantuan
  • Beranda
  • Tentang
    • Tentang Kami
    • Visi Misi
  • Kisah Hidup
    • Video
    • Kisah Hidup ( Cerita )
      • Kisah Hidup : Depresi
  • Bahan
    • Umum
    • Schizophrenia
    • Schizo Affective Disorder
    • Bipolar Disorder
    • PANS Disorder
    • Borderline Personality Disorder
    • Anosognosia
  • Artikel
    • Anxiety and Stress
    • Autism
    • Anosognosia
    • Eating Disorder
    • General Knowledge
    • Indonesia
    • Kisah Hidup
    • OCD
    • Psychosis
    • Schizophrenia
    • Sleep Disorder
    • Smoking
    • Substance Abuse
    • Suicide
    • Treatments
  • Link Bantuan
  • Beranda
  • Tentang
    • Tentang Kami
    • Visi Misi
  • Kisah Hidup
    • Video
    • Kisah Hidup ( Cerita )
      • Kisah Hidup : Depresi
  • Bahan
    • Umum
    • Schizophrenia
    • Schizo Affective Disorder
    • Bipolar Disorder
    • PANS Disorder
    • Borderline Personality Disorder
    • Anosognosia
  • Artikel
    • Anxiety and Stress
    • Autism
    • Anosognosia
    • Eating Disorder
    • General Knowledge
    • Indonesia
    • Kisah Hidup
    • OCD
    • Psychosis
    • Schizophrenia
    • Sleep Disorder
    • Smoking
    • Substance Abuse
    • Suicide
    • Treatments
  • Link Bantuan

GANGGUAN TIDUR (SLEEP DISORDER) 

July 17, 2023 by editorialteam Sleep Disorder 0 comments

GANGGUAN TIDUR (SLEEP DISORDER)

Banyak orang mengalami masalah tidur, termasuk tidak cukup tidur, tidak merasa cukup istirahat dan tidak bisa tidur nyenyak. Masalah ini dapat menyebabkan kesulitan untuk beraktivitas di siang hari dan berdampak tidak menyenangkan pada pekerjaan, kehidupan sosial dan keluarga Anda. Masalah tidur dapat disebabkan oleh penyakit medis seperti sleep apnea (gangguan tidur), atau kondisi kesehatan mental seperti depresi. Masalah tidur dapat menjadi tanda kondisi yang akan datang seperti gangguan bipolar. Selain memengaruhi tidur itu sendiri, banyak kondisi medis dan kesehatan mental yang dapat diperburuk oleh masalah tidur.

Insomnia

Salah satu gangguan tidur utama yang dihadapi banyak orang adalah insomnia. Insomnia adalah ketidakmampuan untuk mendapatkan jumlah tidur yang dibutuhkan agar dapat berfungsi secara efisien di siang hari. Sekitar 1 dari 3 orang di Amerika Serikat melaporkan kesulitan tidur setidaknya satu malam per minggu. Prevalensi insomnia atau sulit tidur di Indonesia sekitar 10%. Artinya kurang lebih 28 juta dari total 238 juta penduduk Indonesia menderita insomnia. Dalam laporan riset dituangkan dalam Jurnal keperawatan (Vol.6 No.1, Feb 2018) menunjukkan bahwa responden terbanyak mengalami insomnia jangka pendek 60,6%, insomnia sementara 25,8% dan insomnia jangka panjang 13,6%.

Insomnia disebabkan oleh kesulitan untuk tidur, kesulitan untuk tetap tidur atau bangun terlalu pagi. Insomnia jarang sekali merupakan penyakit medis atau mental yang berdiri sendiri, melainkan merupakan gejala dari penyakit lain yang harus diselidiki oleh seseorang dan dokter mereka. Pada orang lain, insomnia dapat disebabkan oleh gaya hidup atau jadwal kerja seseorang.

Kadang-kadang insomnia atau masalah tidur lainnya dapat disebabkan oleh sleep apnea, yang merupakan kondisi medis terpisah yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk bernapas saat tidur. Seorang dokter atau spesialis tidur dapat mendiagnosis sleep apnea dan memberikan perawatan untuk memperbaiki kualitas tidur.

Insomnia jangka pendek sangat umum terjadi dan memiliki banyak penyebab seperti stres, perjalanan, atau peristiwa kehidupan lainnya. Umumnya dapat diatasi dengan intervensi higienis tidur yang sederhana seperti olahraga, mandi air panas, susu hangat, atau mengubah lingkungan kamar tidur Anda. Insomnia jangka panjang berlangsung selama lebih dari tiga minggu dan harus diselidiki oleh dokter dengan potensi rujukan ke spesialis gangguan tidur, yang meliputi psikiater, ahli saraf, dan ahli paru yang memiliki keahlian dalam gangguan tidur.

Sebab dan Akibat

Sekitar 50% kasus insomnia berhubungan dengan depresi, kecemasan atau stres psikologis. Sering kali, kualitas insomnia seseorang dan gejala-gejala lainnya dapat membantu dalam menentukan peran penyakit mental dalam ketidakmampuan seseorang untuk tidur. Terbangun di pagi hari dapat menjadi tanda depresi, bersama dengan energi yang rendah, ketidakmampuan untuk berkonsentrasi, kesedihan, dan perubahan nafsu makan atau berat badan. Di sisi lain, penurunan tidur dramatis secara tiba-tiba yang disertai dengan peningkatan energi, atau kurangnya kebutuhan untuk tidur mungkin merupakan tanda mania.

Banyak gangguan kecemasan berhubungan dengan kesulitan tidur. Gangguan obsesif-kompulsif (OCD – Obsessive Compulsive Disorder) sering dikaitkan dengan kurang tidur. Serangan panik saat tidur mungkin menunjukkan gangguan panik. Tidur yang buruk akibat mimpi buruk dapat dikaitkan dengan gangguan stres pasca trauma (PTSD – Post Traumatic Stress Disorder).

Gangguan penggunaan zat juga dapat menyebabkan masalah tidur. Meskipun alkohol bersifat menenangkan dalam jumlah terbatas, keracunan alkohol dapat membuat Anda terbangun berkali-kali di malam hari dan mengganggu pola tidur Anda. Obat-obatan terlarang seperti LSD (Lysergic acid diethylamide ) dan ekstasi juga dikaitkan dengan gangguan tidur. Beberapa obat penenang dapat menyebabkan rasa kantuk saat mabuk, tetapi dapat mengganggu tidur dan menyebabkan masalah tidur yang serius pada orang yang menyalahgunakan atau menarik diri dari obat-obatan ini.

Tidur yang buruk telah terbukti secara signifikan memperburuk gejala banyak masalah kesehatan mental. Masalah tidur yang parah dapat menurunkan efektivitas pengobatan tertentu. Pengobatan gangguan tidur juga telah dipelajari dalam hubungannya dengan skizofrenia, ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder  ), dan penyakit mental lainnya. Semua data ilmiah menunjukkan hubungan antara penyakit medis dan mental: tidur yang baik diperlukan untuk pemulihan – atau pencegahan – pada kedua jenis kondisi tersebut.

Pengobatan

Pengobatan lini pertama untuk insomnia adalah kebiasaan tidur yang baik dan mengatasi kondisi yang mendasari yang mungkin menyebabkan masalah tidur. Namun, jika hal ini tidak cukup, pilihan pengobatan lain dapat dipertimbangkan.

  • Kebiasaan tidur yang baik. Perawatan lini pertama untuk pengobatan insomnia, dapat mencakup menjaga jadwal tidur yang teratur, menghindari aktivitas yang merangsang seperti olahraga sebelum tidur, dan memiliki lingkungan tidur yang nyaman.
  • Teknik relaksasi. Pernapasan dalam, relaksasi otot progresif, dan perhatian penuh (mindfulness) dapat membantu orang menjadi sadar akan tubuh mereka dan mengurangi kecemasan tentang tidur.
  • Obat-obatan . Banyak obat psikiatri yang digunakan untuk meningkatkan kualitas tidur pada penderita insomnia. Orang harus berhati-hati mengenai risiko menjadi “terlalu kenyang” dengan menggunakan obat lain dan alkohol saat mengonsumsi beberapa obat ini. Dokter umumnya tidak menyarankan untuk tetap menggunakan obat selama lebih dari beberapa minggu, tetapi ada beberapa obat yang telah disetujui untuk penggunaan jangka panjang.
  • Pengobatan herbal. Melatonin dan akar valerian adalah dua pengobatan herbal yang tersedia di banyak apotek dan lokasi lainnya. Efektivitas pengobatan ini belum terbukti bagi kebanyakan orang, dan tidak ada pengobatan cara ini yang telah disetujui oleh FDA.
  • Pembatasan tidur. Ini adalah bentuk terapi yang meningkatkan “efisiensi tidur” dengan mengurangi jumlah waktu yang dihabiskan seseorang di tempat tidur dalam keadaan terjaga. Ini melibatkan aturan yang sangat ketat mengenai jumlah waktu seseorang dapat berbaring di tempat tidur di malam hari yang secara bertahap meningkat dari waktu ke waktu.
  • Terapi perilaku kognitif. Terapi ini dapat membantu Anda mengendalikan atau menghilangkan pikiran dan kekhawatiran negatif yang membuat Anda tetap terjaga.
  • Terapi cahaya. Juga dikenal sebagai fototerapi, terapi ini secara khusus dapat membantu orang dengan kondisi yang disebut “sindrom fase tidur tertunda.” (delayed sleep phase syndrome)
  • Olahraga dikaitkan dengan peningkatan kualitas tidur. Bicarakan dengan penyedia layanan kesehatan Anda tentang jenis olahraga yang cocok untuk Anda.

Diterjemahkan dari:

Nama Situs: www.nami.org

URL:  https://www.nami.org/About-Mental-Illness/Common-with-Mental-Illness/Sleep-Disorders

Judul Asli: Sleep Disorders

Penterjemah: Sigit B Darmawan

Prev
Next

Related Posts

GANGGUAN TIDUR (SLEEP DISORDER) 
July 17, 2023

Banyak orang mengalami masalah tidur, termasuk tidak cukup tidur, tidak merasa...

Learn more
We educate, support, alongside and advocate.

Contact Us

Bandung

C4OMI.Indonesia@gmail.com

0896-7897-8655